KASUS hukum yang dihadapi dua caleg Makassar yang baru saja terpilih dalam kontestasi pileg, mendapat tanggapan dari pengamat politik di Makassar. Seperti Luhur A Prianto, Arief Wicaksono dan Firdaus Muhammad.
“Saya kira kejadian merupakan dua hal yang berbeda. Kalau yang dialami oleh caleg terpilih dari PPP, sebenarnya memperlihatkan kelemahan partai politik dan institusi negara dalam pemberantasan narkoba. Di dokumen caleg sudah ada ketentuan bahwa semua caleg yang lolos sampai DPT telah melengkapi surat keterangan bebas narkoba. Artinya, kalau ada pengguna narkoba yang lolos sampai jadi caleg terpilih, sangat kuat indikasi kelalaian dalam pemberian keterangan bebas Narkoba,” ujar Luhur, kemarin.
Olehnya itu, sangat penting dievaluasi mekanisme pemeriksaan untuk perbaikan ke depan. “Sebagai tokoh publik, tersangka harus memperoleh penyembuhan dan hukuman yang sesuai aturan,” jelasnya.
Kalau kasus yang dialami caleg terpilih Nasdem, menurut Luhur, ini persoalan internal. Penyelesaiannya tingkat institusi partai. Kecuali ada keputusan yang dianggap merugikan, maka hal itu bisa diuji di pengadilan.
“Sangat bergantung kualitas kepemipinan dan budaya organisasi di partai yang bersangkutan dalam menyelesaikan masalah,” imbuhnya.
Meskipun kasusnya berbeda, tetapi ada hal yang harus menjadi perhatian bagi seluruh politisi. Mereka harus menyadari bahwa dirinya adalah tokoh publik, yang harus memberi keteladanan. Mereka juga sedang menduduki “kursi panas” politik, yang sarat dinamika dan persaingan. “Sedikit saja kesalahan, bisa jadi amunisi bagi kawan dan lawan untuk menjatuhkannya,” terangnya.
Arief Wicaksono juga berpendapat sama. “Ya, untuk sementara inilah kualitas (hasil) demokrasi kita. Ketika partai politik dianggap sebagai pilar utama demokrasi, pada saat yang sama, justru perilaku elit politik di dalamnya tidak mencerminkan itu,” jelas Arief.
Meskipun tidak semua elit partai politik berperilaku seperti yang selama ini disangkakan oleh publik, lenjut Arief, tapi fenomena ini sepertinya semakin hari semakin jauh dari nilai-nilai demokrasi. “Berbagai peristiwa itu harus disadari sebagai peringatan keras bagi perjalanan demokrasi kita yang semakin tidak sehat ini,” tandasnya.
Akademisi dari UIN Firdaus Muhammad mengaku prihatin atas peristiwa tersebut. “Kita sangat prihatin. Mereka telah berjuang dan menghabiskan biaya besar, namun berakhir karirnya sebelum menuai hasil. Berbagai spekulasi bermunculan. Misalnya dianggap jebakan. Tetapi intinya jadi pelajaran untuk jaga diri mewaspadai berbagai hal yang mengancam karir politik seseorang,” pungkas Firdaus. (rif)
Antara Lalai atau Jebakan
