MAKASSAR, BKM — Perhimpunan mahasiswa dari tiga kabupaten di Papua, yakni Fakfak, Kaimana, dan Teluk Bintuni menyatakan kesetiaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Deklarasi itu mereka sampaikan saat berkunjung ke salah satu tokoh agama di Sulsel, Puang Makka di Rumah Dzikir dan Dakwah Darul Ahsan Makassar, Jalan Baji Bicara, Selasa (20/8).
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Fakfak (Ipmafak), Serikat Mahasiswa Kaimana (Semak), dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Teluk Bintuni (Ipmateb) mulai berdatangan sejak pukul 10.00 Wita. Mereka disambut langsung oleh Mursyid Darul Ahsan Habib Abdurrahim Assegaf Puang Makka.
Melalui konsederan yang dibacakan, ada empat poin yang menjadi inti deklarasi mereka. Yakni tetap setia dalam NKRI. Mengutuk tindakan provokasi yang dilakukan beberapa oknum. Mengutuk pernyataan rasis dan sikap intimidatif dari beberapa oknum. Serta mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga stabilitas keamanan dan tidak mudah terprovokasi.
Salah satu perwakilan mahasiswa yang juga Ketua Ipmafak Rano Karno Patiran, meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dengan apa yang disampaikan di media sosial. Masyarakat hendaknya memahami terlebih dahulu akar permasalahan, baru mengambil tindakan.
Kedatangan mahasiswa asala Papua ke Puang Makka, juga dimaksudkan untuk membangun jaringan kepada salah satu tokoh agama. Supaya jika terjadi hal yang tak diinginkan, bisa cepat ditindaklanjuti.
“Kedatangan kami ini untuk membangun jaringan. Ketika ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi, bisa ditindaklanjuti. Kami mengimbau kepada mahasiswa Papua di Makassar untuk tidak terprovokasi. Karena asrama kami yang di Jalan Perintis Kemerdekaan VII, tidak ada gangguan apapun,” jelas Rano Karno.
Puang Makka sangat menyambut baik kedatangan mahasiswa Papua. Ia mencoba menenangkan, dengan mengatakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh mahasiswa Papua yang ada di Makassar.
Dikatakannya, apa yang ada saat ini merupakan kejadian yang biasa dalam kehidupan manusia. Karena itu, tidak perlu dihebohkan. Hanya saja, suasana sekarang yang memang sudah sedikit berbeda.
“Dalam kehidupan umat manusia, ini biasa. Hanya saja suasana kita sekarang sudah lain. Sekarang kejadian di mana saja, bisa langsung ditahu karena teknologi,” katanya.
Puang Makka juga mengingatkan, jika dalam semua agama, masyarakat selalu diimbau untuk berhati-hati dalam bertindak. Bila hal ini diterapkan di semua lini kehidupan, Puang Makka pun memastikan peristiwa seperti ini pasti tak akan terjadi.
“Dalam agama apapun, kita harus hati-hati dalam bertindak dan bicara. Di alkitab juga menerangkan kasih, yang diwujudkan dalam kehidupan. Yaitu sabar, saling menolong, saling iba. Kalau ini diterapkan, tidak ada kejadian di Surabaya dan di Manokwari,” tandasnya.
Ia juga mengimbau, setiap informasi haruslah dicek sebaik-baiknya. Supaya kedamaian dalam NKRI bisa selalu dijaga oleh semua kalangan.
“Kalau terima informasi, kita cek dulu. Ini tuntunan agama. Buka medsos, baca, pikirkan, mana salahnya, cek, supaya bertindaknya tidak asal-asalan. Jadikan medsos media komunikasi. Kedepankan cek dan ricek,” tutupnya.
Perlu Agenda Khusus
Mantan Gubernur Sulsel dua periode Syahrul Yasin Limpo, menegaskan perlu agenda khusus dalam menangani masalah di Papua dan Papua Barat. Menurut pria yang biasa disapa SYL ini, agenda khusus tersebut dijalankan oleh tim lintas sektor dengan konsentrasi full menyelesaikan masalah di Papua.
Hal itu disampaikan SYL sebagai respons atas aksi massa di Manokwari dan Sorong pada Senin (19/8), yang diwarnai blokade jalan hingga pembakaran. Bahkan gedung DPRD Provinsi Papua Barat dan sejumlah fasilitas umum ikut dibakar.
”Saya pikir harus ada agenda khusus tangani segera Papua dengan full konsentrasi yang melibatkan tim lintas sektor,” ujar SYL, Selasa (20/8).
Menurut Syahrul, poin utama dari agenda khusus ini adalah mewujudkan dan sosialisasi rasa keadilan kepada masyarakat Papua. Dia menilai, gejolak dan masalah di Papua selama ini muncul lantaran persoalan ketidakadilan yang dirasakan. Termasuk perlakuan terhadap mereka.
“Karena itu, perhatian Presiden Jokowi yang serius ke Papua harus didorong lebih aktual, agar rasa keadilan sungguh-sungguh dialami oleh saudara-saudara kita di Papua. Perhatian ini nantilah yang dibuat dalam agenda khusus yang permanen, konkrit, dan aktual,” terang dia.
Dalam agenda khusus ini, lanjut SYL, selain keterlibatan full dari negara atau pemerintah, juga perlu menghadirkan tokoh-tokoh Papua yang mereka hormati. Juga tokoh-tokoh nasional yang masih dipercaya oleh masyarakat Papua. Harus pula melibatkan guru, tokoh agama, kepala desa, serta para ketua adat di tanah Papua.
“Jadi, agenda khusus ini perlu dilakukan secara masif dengan melibatkan berbagai pihak. Termasuk, guru, tokoh agama, kepala desa, dan para ketua adat di tanah Papua,” imbuh dia.
Selain agenda khusus yang bersifat permanen atau jangka panjang, SYL juga menganjurkan agenda temporary atau sementara. Yakni asrama-asrama mahasiswa dari daerah yang terdapat di suatu wilayah provinsi atau kabupaten dan kota harus ditata kembali. Penataan ini tidak hanya untuk asrama Papua, tapi juga daerah lain.
“Asrama-asrama daerah ditata kembali, karena selalu membangun fanatisme egosentris kedaerahan. Minimal asrama-asrama ini harus dikendalikan para bupati atau wali kota setempat,” pungkas dia. (nug/rus/b)
