Site icon Berita Kota Makassar

Pesawat Mendarat di Bandara Buntu Kuni Januari 2020

MAKASSAR, BKM — Proyek pembangunan bandar udara internasional Buntu Kuni di Kabupaten Tana Toraja sudah memperlihatkan fisiknya. Bandara yang awalnya bermasalah dengan kontur tanah tidak memenuhi standar ini, tahap pertama diprediksi akan rampung Desember 2019.
Perwakilan Kementerian Perhubungan RI Anas, mengaku tahap I itu meliputi landasan sepanjang 1400 meter dari total landasan 2600 meter. Dengan demikian, bandara itu sudah bisa didarati pesawat berjenis ATR 72.
“Targetnya kita itu selesai Desember 2019, dan awal Januari 2020 sudah bisa kita operasikan,” ungkap Anas usai mendampingi Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah di lokasi pengerjaan proyek Bandara Buntu Kuni, Kamis (22/8).
Sementara untuk terminal Bandara Buntu Kuni sendiri, kata Anas, akan dibangun dengan seluruh fasilitas lainnya dengan alokasi anggaran Rp80 miliar.
“Kalau untuk terminal masuk di fasilitas isi darat. Anggarannya sudah dialokasikan. Sementara proses revisi dari eselon satu Kementerian Perhubungan. Untuk proses lelangnya sudah selesai. Sudah ada pemenang tender. Kalau tidak halangan, akhir bulan Desember kita sudah jalan,” jelasnya.
Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah (NA) menjelaskan, pembangunan bandara tersebut sudah berjalan dengan baik sesuai harapan. Namun pekerjaan terlebih dahulu dilakukan satu jalur dengan panjang landasan 1.400 meter.
“Kita sudah 1.400 meter landasan dari dua sisi. Tapi kita kerjakan satu sisi dulu. Kita berharap selesai tender ini bisa tambahkan supaya rampung dua jalur,” terang NA.
Selain itu, NA berharap pembangunan terminal bisa diselesaikan dengan cepat. Karena wisatawan inginkan akses transportasi darat agar bisa menikmati semua tempat wisata dengan nyaman dan bagus.
“Harapan kita terminal juga bisa selesai cepat. Karena persoalan yang dihadapi Toraja ini adalah akses itu saja. Orang semua mau ke Toraja. Hanya saha, tahulah kalau kita lewat darat habis waktu delapan jam,” jelasnya.
Hadirnya akses transportasi bandar udara di Toraja menjadi angin segar bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Apalagi, kata NA, wisata di Toraja sangat kental dengan kebudayaan sehingga menarik perhatian.
“Kita itu kalah dengan Singapura. Padahal Singapura punya apa coba? Wisata belanja. Kalau kita mulai dari pinggir pantai sampai puncak gunung bisa kita jual. Apalagi Toraja ini spesifik. Tidak ada di dunia. Kalau wisata pantai semua orang bisa bikin,” pungkasnya.(rhm/)

Exit mobile version