MEMBUKA usaha cemilan dan kue tidak hanya sekadar mengejar sehat dan berkhasiat, tetapi dibutuhkan keberanian untuk membuka lapangan kerja. Hal ini juga dilakukan Fenny Angraeni.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Walaupun ia tidak mau dianggap sukses di bidang usahanya, Fenny terbukti telah meraih tiga kali penghargaan Social Entrepreneur of the Year 2016-2018.
Perempuan yang terkenal tomboy di kalangan teman-teman tidak menyangka bisnis kue cemilan vegetariannya bakal berkembang seperti saat ini. Bahkan keluarga dan teman dekatnya banyak yang tidak menyangka kalau dirinya bisa merintis usaha kue, yang lebih banyak dikerjakan oleh wanita feminim.
“Jatuh bangun buka usaha itu biasa, dan bukan hal yang mudah bagi saya yang tidak memiliki kemampuan memasak untuk memulainya. Keluarga dan teman-temanku saja sempat ragu dengan apa yang saya lakukan. Mulai sering makanan yang dibuat terbuang lantaran gagal seperti hangus, tidak jadi dan rasanya tidak enak semua sudah,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Namun dirinya tak pantang putus asa, ia sudah menemukan resep yang cocok, termasuk memanfaatkan media sosial dan teman kampusnya untuk memasarkan usahanya. Berkat dirinya juga, ia mampu memperkerjakan delapan ibu rumah tangga di lingkungan tempatnya, yang digaji Rp2-3 juta perbulan.
“Usaha ini masih rumahan, kerjanya juga di rumah kecil saja. Sekarang yang bantu saya delapan IRT lima di dapur, satu manager keuangan dan dua bagian promosi di media sosial. Ia saya awalnya latih mereka, karena kan rata-rata ibu-ibu di sini yang tidak bekerja sama sekali hanya di rumah saja,” jelasnya.
Pada tahap awal, cukup berat mempekerjakan IRT yang tidak punya background sebelumnya. Fenny mengubah kebiasaan hidup pegawainya dari sisi kebersihan maupun kedisiplinan dalam bekerja. Sedangkan dari segi limbahnya sendiri, Fenny membuat sumur resapan yang menampung limbah, hal ini dipelajarinya sewaktu kuliah dibidang kesehatan masyarakat.
“Awalnya untuk menerapkan kebersihan dan kedisiplinan pada diri sendiri saja berat, tapi sekarang bahkan ada yang menerapkannya sampai ke lingkungan rumah mereka,” katanya.
Kini buah manis yang diterima Fenny dari hasil usahanya, mampu mengumpulkan omset sebesar Rp22-25 juta setiap bulan. Menurutnya memasarkan usahanya kini jauh lebih menguntungkan lewat online, namun untuk offline sendiri Fenny juga masih tetap melayani. Akan tetapi jumlahnya pemesan kuenya lebih banyak lewat online.
“Belum ada toko paling dirumah ini saja, kebanyakan pelanggan kita itu dari media sosial, facebook, instagram dan whatsapp. Jadi pelanggan offline kita juga pasti tahunya dari media sosial juga. Yah sekarang kisaran begitu omsetnya,” tuturnya.
Sejak menempuh kuliah di jurusan kesehatan masyarakat, Universitas Hasanuddin tahun 2010, Fenny sudah banyak mengkreasikan usaha kuenya tanpa menggunakan tepung terigu, tanpa gula dan tanpa telur. Sehingga tidak heran, tidak menggunakan bahan baku tersebut, kue milik Fenny terkenal sehat dan cocok dikonsumsi untuk orang diet.
“Sudah seharusnya kita ini memberikan penyuluhan pentingnya kesehatan. Saya buatlah kue karena pemikiran saya, siapa sih tidak suka cemilan, tapi cemilan yang sehat itu sangat jarang, makanya saya mau buat cemilan tanpa adanya gula, telur dan tepung. Kita bisa mengemil tanpa perlu konsumsi tiga bahan itu sebenarnya,” ungkapnya saat ditemui penulis baru-baru ini.
Perempuan kelahiran Toraja, 3 Maret 1992 ini menggungkapkan, awal mula dirinya membuka usaha kue yang diberi nama Fenny Pastry saat dirinya melakukan riset tentang kesehatan disalah satu pemukiman penduduk di Sinjai. Dirinya banyak melihat masyarakat terkena penyakit hipertensi, kolesterol yang mungkin timbul akibat terlalu banyak menyantap camilan tak sehat.
Padahal disana itu, mereka semua petani yang menghasilkan banyak sayur segar.”Timbullah niatan saya membuat cemilan sehat, awalnya puding dari sayuran. Saya membeli sayuran mereka seikat itu Rp 2500. terus saya olah, dan coba-coba jual dilingkup kampus seharga Rp 5.000, dan banyak yang suka karena katanya manis dan rasanya itu alami, padahal mereka tidak tahu itu dari sayur,” bebernya.
Kini jangan ditanya Fenny sudah membuat banyak jenis kue dengan bahan dasar sayur dan buah-buahan saja. Karena hobbynya membuat kue dan keinginanya menjadi pebisnis dan jurusannya bidang kesehatan, Fenny menggabungkannya semua itu, baik sisi sosial dengan kewirausahaan dengan meluncurkan produk Vegetart.
“Semua bahan sayur saya ambil disana (sinjai) semua, saya ingin membantu para petani sayur disana agar terus berkembang. Sekarang macam-macam kue saya buat dan semuanya bisa dikonsumsi untuk orang diet dan berkebutuhan khusus yang terkena kolesterol dan hipertensi,” jelasnya.
Selain itu, anak pertama dari enam bersaudara ini mengaku sudah membuka gerai dijalan daya, perintis kemerdekaan. Serta membuka jasa pengolahan sayur menjadi obat herbal seperti penambah nafsu makan dan penyakit lainnya.
“Saya ingin ilmu dan pengetahun saya, bisa membantu orang dengan menerapkan kualitas hidup sehat sejak dini. Biasanyakan susah untuk diubah, tapi bisa sedikit-sedikit lewat pola makan yang sehat dulu,” ucapnya. (*)
