BANYAK jalan menuju roma. Sebuah spirit patut disematkan kepada murid-muird SDN 436 Issongkalua, Bastem Utara dalam menimba ilmu pengetahuan di bangku sekolah di kampungnya.
Bak seorang pejuang, jarak tempuh yang jauh, jalanan yang menanjak dan berbukit menuju sekolah bukanlah penghalang bagi mereka. Ditengah medan yang sulit dilalui, tak membuat bocah-bocah SDN Issongkalua ini justru memantik daya juang mereka untuk menggapainya.
Sebuah inovasi baru pun mereka ciptakan. Sebagai salah satu bentuk kebersamaan, para bocah ini membuat sepeda sebagai alat transportasi menuju sekolahnya.
Perjalanan dengan berjalan kaki biasanya butuh waktu sekitar satu jam dari rumah ke desa Uraso sementara para murid tinggal di lembah dan daerah pegunungan jauh dari sekolah.
Untuk menyiasati durasi yang lama menuju sekolah, sejak tahun 2016 mereka membuat sepeda sendiri. Sepeda dari bambu dan kayu. Bambu dirakit menyerupai sepeda dan rodanya dibuat dari kayu.
”Saya bikin sepeda sendiri dari bambu. Biasanya di bantu bapak,”tutur Rifki, murid kelas III SDN Issongkalua
Sepeda bambu buatan Rifki mampu menutupi keterlambatan saat berangkat ke sekolah dengan memangkas waktu tempuh hingga 30 menit.
Sisi lainnya sepeda bambu buatan anak SDN ini hanya bisa digunakan untuk berangkat sekolah saja. Pulangnya mereka harus membopong atau mendorong sepeda.
”Perjalanan ke sekolah kan jalannya menurun. Kita tinggal ikuti jalan sepeda. Kalau pulang mendaki, jadi ya digendong sepedanya, kan tidak berlaku lagi kata terlambat karena pulang mi dari sekolah,” tandas Rifki sembari melepas senyum saat bertemu BKM, Selasa (27/8)
Meski sepeda buatan murid SD jauh dari kata aman karena tidak memiliki rem dan pedal. Tapi tetap saja
digunakan demi mempependek waktu jarak tempuh menuju sekolah. Apalagi merasa senang dan terhibur. Dalam benak mereka berharap suatu hari punya sepeda besi. Semoga mimpi mereka menjadi kenyataan apalagi jika ada yang simpati dengan perjuangan mereka membuat sepeda dari bahan bambu dan kayu sebagai transportasi utama saat perjalanan ke sekolah mereka
yang terletak di kawasan pegunungan kecamatan Bastem Utara, Desa Uraso
Menurut Rifki sepeda bambu buatannya sangat membantu terutama terhindar dari sanksi saat terlambat.
Selain malu, mereka juga menghindari kena hukum dari guru.
”Jika terlambat terpaksa diberi sanksi meski kasihan
karena kita tahu rumah mereka jauh dari sekolah,” ujarPauline, Guru SDN 436 Issongkalua kemarin. (wan/B)
