MAKASSAR, BKM — Kemarau panjang yang terjadi saat ini telah berdampak pada ratusan ribu hektare areal persawahan maupun ladang yang tersebar di Sulsel. Bahkan, tanaman padi milik petani mengalami puso.
Data dari Dinas Tanaman Pangan, Ketahanan Pangan, dan Hortikultura Sulsel, saat ini sudah ada sekitar 2.000 hektare sawah yang mengalami kekeringan. Sementara tanaman padi yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 3.700 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Ketahanan Pangan, dan Hortikultura Hj Fitriani, mengatakan areal persawahan yang mengalami kekeringan dan puso itu tersebar di delapan kabupaten. Di antaranya di Kabupaten Soppeng, Bone, Wajo, Gowa, Takalar, dan Maros.
Menyikapi kondisi ini, kata Fitriany, pemprov sudah menyiapkan dan melakukan beberapa langkah penanggulangan. Salah satunya, menyebarkan surat edaran gubernur ke seluruh kepala daerah di Sulsel agar siaga dan mewaspadai dampak kemarau panjang yang terjadi saat ini.
Kabupaten/kota juga diminta untuk terus berkoordinasi dengan Pemprov Sulsel serta dinas terkait di daerah masing-masing untuk menyikapi dampak yang terjadi. Selain itu, juga memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber air yang ada dengan menggunakan pompa air yang ada.
“Kami juga mengimbau kepada petani untuk memilih tanaman atau komoditi yang tak membutuhkan banyak air. Atur pola tanam, jangan sampai kering,” ungkap Fitri via telepon, Kamis (29/8).
Dijelaskan pula oleh Fitri, pihaknya menginstruksikan kepada seluruh daerah agar cepat memberikan informasi jika ada sumber air di wilayahnya yang dimanfaatkan namun terkendala pompa.
“Kami siap membantu. Minimal koordinasikan ke stakeholder terkait untuk dibantu pompa,” imbuh Fitriani.
Selain itu, bagi petani yang areal persawahannya mengalami kekeringan dan ikut dalam program asuransi petani, bisa melakukan inventarisasi berapa luas areal pertaniannya yang mengalami puso untuk diajukan klaim ke pihak asuransi.
Sekadar diketahui, Pemprov Sulsel dalam beberapa tahun terakhir kerap mengampanyekan agar petani ikut program asuransi. Tujuannya, jika terjadi gagal panen mereka bisa mendapatkan ganti rugi.
“Jadi petani kita anjurkan untuk memiliki asuransi petani,” ujarnya.
Lebih jauh dikemukakan, pihaknya juga menyiapkan bibit padi untuk mengganti tanaman yang mengalami kekeringan. Namun diakui, stok bibit yang ada saat ini masih sangat terbatas. Hal itu akibat mengganti bibit padi masyarakat yang terkena dampak banjir di Sulsel beberapa bulan lalu.
“Stok bibit yang ada cukup banyak terpakai waktu banjir kemarin. Sekitar 20 ribu hektare sawah terendam banjir. Jadi saya harus menginventarisir dulu sisa berapa stok yang ada,” jelasnya.
Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah mengemukakan, pihaknya sudah menurunkan tim yang akan memantau dampak kekeringan di seluruh wilayah Sulsel. Tim itu nantinya akan melaporkan dan merekomendasikan langkah apa yang akan diambil di lapangan.
“Tim kekeringan sudah berjalan. Kita masih menunggu laporannya,” ujar NA.
Dia berharap, semoga hujan bisa segera turun agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.
Sebelumnya, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Rekun Matandung menjelaskan, secara umum, untuk wilayah Sulawesi Selatan, sedang memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September. (rhm/rus)
3.700 Ha Sawah Gagal Panen
