MENJADI tukang jahit sepatu tidak memiliki pendapatan yang menentu dan tetap. Namun, pekerjaan ini bisa menghidupkan Abdul Kadir beserta keluarganya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Di lapak kayu tempatnya membuka jasa jahit sepatu di Jalan Toddopuli Raya Timur, pria yang akrab dipanggil Wawan bekerja setiap hari dari pagi pukul 08:00 WITA sampai sore 18:00 WITA.
Orderan perbaikan sepatu rusak tidak menentu masuk. Kadang ada kadang pula sama sekali tidak alias kosong. Jika sehari tidak ada pelanggan datang membawa satu pasang sepatu atau sandal untuk diperbaiki, maka dia harus bersabar.
Biaya jasa perbaikan sepatu atau sandal ditawarkan Wawan terbilang terjangkau. Mulai dari harga Rp20 ribu – Rp30 ribu. Sedangkan harga ganti alas atau sol sepatu dari harga Rp80 ribu – Rp100 ribu.
“Meskipun pendapatan tidak menentu setiap hari, tapi masih ada yang bisa membantu biaya hidup. Seminggu biasanya bisa dapat Rp150 ribu,” ucapnya.
Selain menjadi tukang jahit sepatu, Wawan juga sering dipanggil menjadi sopir. Lumayan upah yang diterima dari sopir senilai dengan hasil usahanya memperbaiki lima pasang sepatu. Hanya saja job menjadi sopir masih jarang diterimanya.
“Biasa saya dipanggil jadi sopir juga. Dalam kota bisa dan luar kota juga masih bisa. Lumayan bayarannya kalau di luar kota. Tapi sekarang susah mi, jarang ma dipanggil jadi sopir juga,” ujarnya.
Pria yang lahir di Takalar pada tahun 1942 itu pun bercerita. Sambil bekerja memperbaiki sepatu, dia berkisah bahwa jadi tukang jahit sepatu sudah dilakoninya sejak tahun 2.000. Satu tahun di Kabupaten Merauke, Papua, dan kemudian pulang ke Makassar buka jasa jahit sepatu hingga sampai saat ini.
Keterampilan menjahit sepatu dimiliki Wawan berawal hanya dari melihat tukang jahit sepatu di lokasi pasar yang berada di Merauke. Pada waktu itu, diakui masih lontang-lantung mencari pekerjaan di tanah rantau.
“Dulu saya ke Merauke merantau berharap bisa dapat pekerjaan. Tapi satu tahun berada di sana, saya tidak kunjung dapat pekerjaan. Sempat di sana saya menjadi gembel. Tidur di pinggir jalan. Beruntung saya cepat tangkap peluang ini menjadi tukang jahit sepatu,” ucapnya.(*)
