MAKASSAR, BKM — Tiga hari sudah kebakaran melanda Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamanagapa, Antang. Sejak berlangsung Minggu (15/9) hingga Selasa (17/9), upaya pemadaman terus dilakukan. Namun api tak kunjung hilang.
Petugas dan armada yang dimiliki Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar telah dikerahkan seluruhnya ke lokasi. Mereka masih bekerja keras untuk mencegah munculnya titik api baru.
Di saat bersamaan, asap tebal masih terus membumbung dari material sampah yang terbakar. Warga sekitar TPA khususnya, dan penduduk Makassar serta Kabupaten Gowa, secara umum merasakan dampak asap. Mereka terpaksa menghirup udara tak segar, walau telah mendapatkan masker pembagian.
Hingga kemarin, api sudah membakar empat blok. Masing-masing blok B, C, A1, dan A4. Sebagian Kota Makassar berselimut asap, terutama pada pagi hari. Karena angin bertiup ke arah pusat kota.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup menurunkan alat pendeteksi udara di kawasan TPA Tamangapa. Alat berupa High Volume Air Sampler (HVAS) ini bekerja untuk kandungan udara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sulsel Andi Hasbi Nur menjelaskan, tiga alat pantau kualitas udara tersebut telah dipasang sejak Senin sore. ”Kita pasang di tempat yang paling sering terpapar asap,” ujarnya, kemarin.
Dari hasil pantauan alat tersebut, ungkap Hasbi, kualitas udara terburuk yang terdeteksi adalah ketika ada orang terpapar hingga delapan jam terus menerus.
“Jika kondisinya seperti itu, warga yang ada di lokasi tersebut harus diungsikan. Namun, saya dapat laporan, berangsur-angsur kualitas udaranya membaik,” terangnya.
Namun, tambahnya, dari hasil pantauan, belum ada warga yang terpapar kualitas udara buruk akibat polusi asap selama delapan jam berturut-turut. Alasannya, karena arah angin selalu berubah-ubah sehingga tidak hanya menjangkau satu lokasi.
Di hari ketiga kemarin, Dinas Damkar Makassar memanfaatkan metode nosel tanam untuk lebih mengefektifkan proses pemadaman api. Kadis Damkar Makassar Taufiek Rachman menuturkan, pihaknya melibatkan Manggala Agni Daerah Operasi Gowa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Teknologi nosel tanam pertama kali kami terapkan di TPA Antang. Tahun sebelumnya, kami memanfaatkan metode penyiraman pada permukaan untuk memadamkan api yang memakan waktu hingga enam hari,” kata Taufiek di TPA Antang, kemarin.
Selama ini, metode nosel tanam banyak dimanfaatkan di area kebakaran gambut. Termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Provinsi Riau.
Kepala Manggala Agni Daerah Operasi Gowa KLHK Ishak Andi Kunna, mengatakan metode nosel tanam digunakan di TPA Antang, karena memiliki karakteristik menyerupai lahan gambut yang sumber apinya berasal dari dalam tumpukan atau timbunan sampah yang mengandung gas metan.
“Kebakaran lahan gambut dan TPA Antang memiliki karakteristik ground fire atau kebakaran bawah. Di lahan gambut, api membakar bahan organik di bawah permukaan. Sementara di TPA Antang, api membakar bahan non organik di bawah permukaan,” terang Ishak.
Ada 20 personel yang diturunkan untuk menyuntikkan cairan kimia berupa flame freeze (racun api) di kedalaman sampah. Cairan ini sebelumnya ditampung di tandon (bak) berdiameter 2 meter, yang dicampur dengan air sebanyak 5 kubik dari armada Damkar Makassar. Hasil campuran inilah yang diinjeksi ke dalam tanah dengan alat nosel tanam.
“Cairan kimia flame freeze disuntikkan ke dalam tanah sejauh 2 hingga 3 meter. Metode ini memang spesialis pemadaman kebakaran tipe bawah tanah. Cara ini dapat mempercepat proses padamnya api di kedalaman sampah. Di dalam kan banyak gas metan,” ucap Ishak.
Kabid Operasi Damkar Makassar Hasanuddin, mengatakan metode nosel tanam ini dibarengi dengan metode penyiraman pada permukaan.
“Jadi sekarang kita kerja sama. Mereka (Manggala Agni) fokus padamkan api dari dalam bawah tanah. Sementara kami fokus pendinginan dari permukaan, diperkuat dengan water canon dari Brimob Polda Sulsel,” kata Hasanuddin.
Lokalisir Api
Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lingkungan Hidup Universitas Hasanuddin Prof Imran, menyarankan pemerintah untuk melokalisir sampah di TPA. Pasalnya, gas metan yang terdapat dalam tumpukan sampah, memungkinkan sampah di sana terbakar kembali.
Kemarau berkepanjangan yang terjadi di Makassar, lanjut dia, membuat air tanah di TPA turun. Sehingga gas metan yang ada akan terproduksi dengan baik. Sehingga bisa saja api di atas tumpukan sampah tampak padam, namun di dasar masih memproduksi api.
Sehingga Prof Imran menyarankan, pemerintah harus membongkar tumpukan sampah di TPA untuk mencari titik produksi gas metan. Gas metan ini, dikatakannya, harus cepat dikeluarkan supaya cepat habis, dan penanganannya juga cepat.
“Saran saya lokalisir dulu itu api, dengan menggali di sekitar TPA, supaya tidak merambat. Yang harus dilakukan adalah membuka TPA supaya banyak keluarnya ini gas. Kalau dibiarkan, akan lama. Di atas mungkin padam, di bawahnya terbakar, karena masih ada gas metan di bawah,” jelasnya, kemarin.
Ia menambahkan, kalau sampah digali, maka gas metan akan keluar ke mana-mana. Sehingga gas metan yang terbakar itu adalah api kecil, karena gas ini sudah keluar melalui samping galian.
Setelah itu dibuatkan parit khusus untuk mengalirkan gas metan ini. Efek yang ditimbulkan adalah api kecil, sehingga hal itu bisa diatasi dengan pemadaman menggunakan air.
“Digali di sekitar sampah agar cepat keluar, supaya cepat penanganannya dan padam. Kalau kita gali, gas metan akan keluar ke mana-mana. Jadi buatkan parit supaya cepat keluar dari TPA. Setelah itu baru pemadaman pakai air,” tambahnya.
Gas metan ini sendiri berasal dari tumpukan limbah sampah. Sampah ini mengandung CH dan nitrogen, yang jika beraksi membentuk CH4. CH4 ini yang namanya gas metan.
Dikatakan Prof Imran, gas inilah yang terbakar sekarang di TPA. Apalagi ditambah sampah di TPA yang umumnya adalah sampah plastik. Sehingga menjadi sangat berbahaya jika terus dibiarkan.
“Jadi gas ini bisa dibilang sama seperti bensin. Ini yang terbakar. Ditambah sampahnya kan umunya plastik mudah terbakar, karena saya pernah penelitian di sana,” terangnya.
Sekolah Diliburkan
Hingga kemarin, sejumlah sekolah yang berlokasi di sekitar TPA Tamangapa masih diliburkan. Alasannya, karena asap tebal yang masih menyelimuti.
Kepala Bidang Pemgembangan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Makassar Ahmad Hidayat, mengatakan hingga Selasa pagi beberapa sekolah mengistirahatkan proses belajar mengajar. Walau beberapa siswa telah berdatangan ke sekolah.
Kondisi terkini yang tidak memungkinkan karena masih banyaknya asap di beberapa sekolah, menyebabkan siswa dan staf sekolah terpaksa dipulangkan. Hal ini guna mengantisipasi dampak lebih buruk yang bisa dialami oleh mereka.
Sekolah yang siswanya dipulangkan, antara lain SDN Borong Jambu I, II, dan III, serta SMPN 19 Makassar. “Sampai tadi pagi (kemarin), ternyata masih ada kabut asap di daerah itu, berdasarkan laporan dari kepala sekolahnya. Jadi saya minta sekolah diistrahatkan dulu. Walaupun tadi ada beberapa datang, tapi saya suruh pulangkan saja,” kata Hidayat.
Hidayat tidak bisa memastikan sampai kapan mereka akan diliburkan. Bergantung pada kondisi yang ada di sekolah.
Jika sudah aman dari asap, maka proses belajar mengajar akan dilangsungkan. Namun bila masih buruk, maka siswa akan dipulangkan kembali.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak sekolah masing-masing. Mereka intens melaporkan kondisi terkini tentang situasi lokasi di sana.
“Saya tetap berkoordinasi dengan kepsek. Saya bilangm laporkan kondisi terkini. Kalau besok (hari ini) kondisinya aman, belajar. Kalau buruk asap, dipulangkan,” ungkapnya.
Imbauan disampaikan Hidayat kepada para pihak sekolah di sekitar TPA. Terutama untuk terus menggunakan masker, memakai sepatu, hingga tidak merokok. (nug-jun/rus)
Gubernur:
Mana Pak Wali?
DI tengah kesibukannya, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah terus memantau kondisi yang terjadi di TPA Tamangapa. Berbeda dengan Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb yang saat kebakaran melakukan lawatan ke Australia, Nurdin tetap berada di Sulsel kendati harus melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah.
Seperti yang dilakukan, Selasa (17/9). Orang nomor satu itu harus ke Kabupaten Barru untuk melantik Sekertaris Kabupaten (Sekkab) Nasruddin AM menjadi wakil bupati Barru masa jabatan tahun 2016-2021.
Kepada wartawan, Nurdin mengaku selalu mendapat laporan terkait perkembangan kebakaran di TPA Tamangapa.”Kondisinya saya kira sudah semakin membaik. Tidak seperti kemarin-kemarin,” ujarnya.
Dia sempat mempertanyakan ketidakhadiran pj wali kota dalam kondisi seperti ini. “Mana Pak Wali kah? (Ke Australia lagi). Dia lebih banyak keluar negeri dibanding gubernur. Gubernur ke desaji terus kasian. Seminggu ini ndak ada kan,” cetusnya.
Namun, orang nomor satu Sulsel itu mengaku jika keberangkatan Iqbal sudah mendapat izin dari gubernur.
Lebih jauh dia kemukakan, Pemprov Sulsel bersama Pemkot Makassar saat ini sudah harus memikirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih profesional dan memiliki nilai tambah. Salah satunya, dengan membangun pembangkit listrik tenaga sampah. Rencana program ini sudah jalan. Malah feasibility studynya sudah dibuat.
“Kalau saya bahasakan, insinerator waste to energy. Masak sebesar Makassar kita tidak punya itu,” ungkapnya.
Hari ini Iqbal Kembali
Pj Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb terbang menuju Australia di hari saat kebakaran TPA terjadi, Minggu (15/9). Ia bertolak ke Negeri Kangguru bersama istri dan beberapa pejabat OPD. Tujuannya untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama Pemerintah Gold Coast pada esok harinya, Senin (16/9).
Kasubag Kerjasama Kota Makassar Najiran Syamsuddin, mengatakan setelah penandatangan MoU antara wali kota Makassar dan Gold Coast, pada Selasa (17/9) dilanjutkan dengan pertemuan dalam bidang pendidikan antara Pemerintah Kota Makassar dengan Pemerintah Kota Gold Coast.
Bentuk dari tindak lanjut ini adalah kerja sama peningkatan SDM siswa dan tenaga pendidik, bekerjasama dengan Pemkot Makassar, pimpinan perguruan tinggi swasta se-Makassar, LLDikti, dan Pemerintah Kota Gold Coast.
Pertemuan dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Prof Jasruddin, anggota DPRD Sulsel Yusran Paris dan Ketua Yayasan Yapika Tahir. Keterlibatan yayasan ini sebagai tindak lanjut kerja sama bidang kesehatan.
“Hari ini (kemarin) seluruh rombongan akan menghadiri kegiatan Indonesia Australia High Level Bisnis Meeting di Kota Sydney yang berlangsung selama tiga hari. Output yang diharapkan, kita bisa menggaet perusahaan Australia untuk berinvestasi di Makassar,” kata Najiran.
Rencananya, Iqbal bertolak kembali menuju Makassar hari ini, Rabu (18/9). Kondisi Makassar yang terdampak kebakaran TPA, segera ditindaklanjutinya. Karenanya, rangkaian kegiatan di Australia selanjutnya akan diwakilkan kepada Asisten II Pemkot Makassar Sittiara Kinang.
Asisten Bidang Pemerintahan Pemkot Makassar Sabri, mengatakan Kamis (19/9) besok, pihaknya akan melakukan rapat koordinasi terpadu dengan penjabat wali kota. Rapat ini akan membahas langkah-langkah pemerintah kota dalam menindaklanjuti dampak kebakaran TPA.
”Hari Kamis rapat koodinasi terpadu. Melibatkan pihak TPA Antang. Membahas semua koordinasi mengenai langkah yang akan ditempuh. Mudah-mudahan masyarakat mau diungsikan dulu sebagai antipasi dampak asap. Karena biasanya masyarakat tidak mau diungsikan, seperti banjir kemarin,” terang Sabri.
Tak Ganggu Penerbangan
General Manager Makassar Air Traffic Services (MATSC) Rosedi menjelaskan, sejauh ini aktifitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tetap normal seperti biasa. Tidak terganggu dengan asap yang memenuhi angkasa di Kota Makassar.
“Aktifitas penerbangan normal-normal saja. Karena spot kebakaran kecil. Cuma di TPA Tamangapa. Berbeda dengan kebakaran hutan di Kalimantan yang luas dan titik apinya banyak,” ungkapnya.
Lelaki yang bertugas di Makassar sekitar sebulan lebih itu, mengatakan asap yang mengganggu jarak pandang hanya radius beberapa meter. Tidak sampai mengganggu jarak pandang penerbangan.
“Jadi sejak TPA Antang terbakar sekitar tiga hari yang lalu sampai sekarang, penerbangan normal-normal saja. Tetap lancar,” tandasnya. (rhm/rus)
