BISNIS warung kopi (warkop) di Makassar tidak pernah ada matinya. Setiap saat, warung-warung kopi yang menjamur hampir di setiap sudut kota selalu ramai.
Malah, di beberapa lokasi, terdapat beberapa warkop yang berderet-deret. Seperti halnya Warkop Bilal.
Laporan: RAHMA AMRI
Peluang mengembangkan usaha dari bisnis warung kopi yang menjanjikan membuat orang yang punya modal berlomba-lomba membuka warkop dengan berbagai tema.
Peluang itupun ditangkap juga oleh Ahmad Syaefi, seorang kontraktor yang memutuskan mendirikan warkop Bilal sekitar lima tahun lalu.
Warkop yang berlokasi di Jalan Racing Centre itu tak pernah sepi dari pembeli. Mulai dari kalangan mahasiswa, pengusaha, hingga pengusaha.
Menurut Ahmad, sebenarnya alasan utama mendirikan warkop karena ingin menjalankan sunah nabi.
“Saya merintis usaha lima tahun lalu yakni berdagang. Rasulullah kan berdagang juga. Dengan begitu kita buat lapangan pekerjaan. Saat ini saya sudah mempekerjakan 17 karyawan,” ungkapnya.
Agar bisa tetap bertahan di tengah persaingan warung kopi yang ada di Makassar, Ahmad selalu mengedepankan dan mempertahankan cita rasa kopinya. Dia pun mengambil langsung kopi mentah berjenis robusta arabica dari tangan petani dan meraciknya.
“Kebetulan saya kan punya mesin kopi sendiri,” ungkapnya.
Harga yang ditawarkan untuk secangkis kopi pun sangat terjangkau kantong.
Selain itu, dia melakukan promo dengan tidak mematok harga kepada pelanggannya setiap hari Jumat.
“Jadi, setiap Jumat, pelanggan bisa membayar seikhlasnya. Tidak mematok harga. Walaupun hanya seribu sekalipun,” ungkap Ahmad.
Dia memang berkomitmen, setiap Jumat, pendapatan dari warung kopinya akan disumbangkan atau disedekahkan sebesar Rp500 ribu.
Bisnis warkop yang digelutipun berjalan cukup lancar. Sehingga dia kembali membuka gerai baru di sekitar warkopnya yang lama. Pengunjungnya pun lumayan banyak.
Melalui warkopnya, Ahmad pun secara tidak langsung melakukan dakwah.
Di dinding warkopnya, terpajang sejumlah kalimat inspiratif bernuansa Islami.
“Jadi orang yang baca, sedikit banyak bisa terinspirasi dari tulisan-tulisan yang terpampang di dinding,” pungkasnya. (*)
