Site icon Berita Kota Makassar

KWT Sajikan Kuliner di Tamalanrea

MAKASSAR, BKM–Kelompak Wanita Tani (KWT) se Kota Makassar menyajikan berbagai kuliner dengan penganekaragaman pangan di BTN Karmila Sari, Kecamatan Tamalanrea, Sabtu (21/9).
Berbagai pangan pengganti beras seperti talas, umbi-umbian, jagung, menjadi sumber karbohidrat yang baik untuk dikonsumsi untuk keberagaman menu. Berbagai pangan ini lah yang ditampilkan di sana.
Ketua TP PKK Kota Makassar, Murni Djamaluddin Iqbal, membuka secara resmi kegiatan ini dalam lomba Cipta Menu yang digelar Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar.
Lomba ini diikuti oleh Kelompak Wanita Tani (KWT) se kota Makassar. Sebagai upaya meningkatkankan ketersediaan pangan yang berbasis lokal.
Murni menyampaikan apresiasinya, atas kinerja Dinas Ketahanan Pangan bersama KWT se Kota Makassar, yang terus berupaya untuk mewujudkan berbagai pangan lokal yang sehat untuk masyarakat.
“Hal ini sebagai penguatan UKM berbasis lokal, masyarakat membutuhkan makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman,” ujar Murni.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Sri Sulsilawati mengungkapkan Kelompok Wanita Tani yang ada di kota Makassar kini telah mencapai tahap mandiri. Selama pembinaan kurang lebih 3 tahun lamanya.
“Yang terpenting adalah proses pelibatan masyarakat, mengubah pola pikir mereka, yang awalnya bukan petani kini menjadi petani dan kini mampu berorientasi pada peningkatan perekonomian keluarga,” ujarnya.
Masyarakat di sana memang telah membudidayakan berbagai ragam tanaman pangan di perumahan mereka. Dinas Ketahanan Pangan sendiri mengubah pola pikir mereka yang bukan berorientasi pendapatan keluarga, menjadi pengusaha, minimal ukm, industri rumah tangga.
Mereka sendiri dikatakan Sri adalah kelompok yang sudah pada tahap kemandirian. Sementara tahap sebelumnya telah dilalui, antara lain sosialisasi pengenalan, penumbuhan dengan memberikan bantuan, pengembangan, kemudian kemandirian.
“Tahap kemandirian ini lah ibu-ibu sudah bisa memasukkan produknya ke supermarket. Ini yang kita harapkan, membangun pertanian berkelanjutan. Kita tumbuhkan budaya, jadi budaya menanam kini sudah jadi,” tutup Sri.(nug)

Exit mobile version