Site icon Berita Kota Makassar

Aras Mundur Sebagai Kader dan Pengurus Demokrat Sulbar

MAMUJU, BKM — H Aras Tammauni, mantan ketua DPD Partai Demokrat Sulbar dua periode, mengundurkan diri sebagai kader dan pengurus Partai Demokrat. Penyerahan surat pengunduran diri dan surat rekomendasi dilakukan Aras Tammauni kepada Husaini disaksikan H Suradi, Andi Abdul Asis, dan Muh Yusuf Sanusi.
Selanjutnya, Husaini menyerahkan surat pengunduran diri Aras Tammauni tersebut kepada Sekretaris DPD Partai Demokrat Sulbar, Wahab Abdi, di kantor DPD Partai Demokrat Sulbar, Selasa (24/9).
Pengunduran diri bupati Mamuju Tengah (Mateng) ini diduga berkaitan penunjukan posisi ketua DPRD Sulbar. Dimana, DPD Partai Demokrat Sulbar menunjuk Suraedah Suhardi sebagai ketua dewan.
Suraedah sendiri adalah putri dari Suhardi Duka, ketua DPD Partai Demokrat Sulbar. Sedangkan Amalia Aras, ketua DPRD Sulbar periode 2014-2019 hanya ditempatkan sebagai anggota biasa.
Ketika dihubungi Berita Kota Makassar, kemarin, Aras Tammauni mengaku heran dengan penunjukan ketua DPRD Sulbar tersebut yang dinilai menyalahi petunjuk pelaksanaan (juklak) partai.
Sebab sepengetahuannya, sebelum pemilihan sudah ada komitmen siapapun peraih suara terbanyak, maka dialah yang menjadi unsur pimpinan. Dia merujuk suara putrinya (Amalia Aras, red) pada Pemilu 2019 lalu adalah terbanyak, yakni 22.622 suara dari seluruh caleg Demokrat mencapai 24 ribuan lebih.
Sementara suara Suraedah hanya 9.820 suara. Kalaupun bukan Amalia, Aras menyatakan, lebih realistis menunjuk Kalma Katta yang juga mantan bupati Majene dengan perolehan suara berkisar 10.000-an sebagai ketua DPRD Sulbar.
”Pada hari ini kami telah membuat surat secara tertulis pernyataan mengundurkan diri dari Partai Demokrat sebagai pengurus dan kader. Hari ini juga kami delegasikan kepada
Husaini untuk menyerahkan surat pengunduran diri kami kepada pihak DPD Partai Demokrat di Mamuju,” ungkap Aras Tammauni.
Aras Tammauni mengatakan, pengunduran dirinya ini bukanlah lompat pagar. Tapi semata-mata kembali ke kampung dan membangun politik di kampung. ”Jadi kalau kami pulang ke kampung membangun kampung bersama partai politik lain, maka itu bukanlah lompat pagar,” tegas Aras Tammauni yang juga sebagai tokoh Sulbar.
Aras menegaskan, dirinya sama sekali tidak sakit hati kepada Partai Demokrat. ”Kami berharap dengan pengunduran diri kami sebagai kader dan pengurus Partai Demokrat Sulbar tidak sampai memunculkan atau mengeluarkan statemen atau pernyataan tidak wajar kepada masyarakat,” kata Aras.
Tentang langkah politik selanjutnya yang akan dilakukan setelah mundur sebagai pengurus dan kader Partai Demokrat, Aras Tammauni mengatakan, dirinya akan masuk bergabung ke Partai Golkar.
”Kalau kami sudah masuk ke Partai Golkar maka otomatis gerbong kami yang ada sekarang, juga akan berpindah ke Partai Golkar,” tandas Aras. (ala/mir/c)

Exit mobile version