RUDY Djamaluddin yang juga anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) itu juga mengakui perbaikan jalan memang sedikit terlambat. Hal itu diakibatkan adanya hambatan pada suplai beton pracetak untuk saluran drainase. “Suplai saluran pracetaknya itu yang masih dalam tahap pengiriman,” jelasnya.
Kendati demikian, pihaknya masih optimis jika keterlambatan yang terjadi masih bisa terkejar.
Kendati terlambat, dia menekankan kepada kontraktor pelaksana agar tetap memperhatikan kualitas pekerjaan. Bukan hanya mengejar volume atau waktu kerja saja.
“Secara progres, memang ada sedikit keterlambatan. Ini kita komunikasi terus dengan kontraktor pemenang tender supaya bisa menggenjot pekerjaan,” tambahnya.
Perbaikan jalan sepanjang 1,5 kilometer tersebut tercatat menggunakan anggaran sekitar Rp23 miliar. Targetnya, harus rampung Desember mendatang.
Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas Marga dan Bina Konstruksi Muh Arifin mengatakan anggaran yang ada akan menyelesaikan perbaikan sepanjang 1,54 km, dari simpang AP Pettarani hingga batas Aroepala, depan Kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar.
Menurut Arifin, Jalan Hertasning sejak beberapa tahun lalu telah dikeluhakan masyarakat, lantaran banyak lubang dan bergelombang. Sehingga pada tahun ini dilakukan pemeliharaan sekaligus peningkatan infrastruktur jalan.
Sementara, Ketua Komisi D Darmawangsa Muin, mengatakan, perbaikan jalan Hertasning memang cukup terlambat. Padahal, anggarannya sudah siap sejak tahun lalu. “Mungkin berpengaruh karena beberapa kali pergantian jabatan di Bina Marga,” katanya.
Ia bilang, masalah rambu dan debu menjadi kewenangan kontraktor. Pemprov harus berkoordinasi dengan kontraktor, agar tidak seenaknya. “Pengerjaannya diaturlah, mungkin bisa malam agar debunya tidak parah. Kemudian harus memang ada rambu atau papan bicara. Kita harap, warga juga bisa maklum,” tegasnya.
Legislator Gerindra itu menambahkan, pihaknya akan kembali menggelontorkan anggaran untuk pengerjaan jalan Hertasning tahun depan. Ia ingin, perbaikan jalan provinsi dalam kota tetap diprioritaskan. “Ada sekitar Rp24 miliar untuk 4 kilo tahun depan,” tandasnya. (rhm)