SEBANYAK 40 mahasiswa, empat polisi, serta tiga wartawan menjadi korban dalam bentrokan saat berlangsung demo besar-besaran, Selasa (24/9). Sementara mahasiswa yang diamankan oleh aparat pascabentrokan, jumlahnya berkisar 200 orang.
Dari angka tersebut, sebagian besar sudah dipulangkan. Yang tersisa tinggal dua orang dan masih dilakukan pemeriksaan. Keduanya ditahan karena kedapatan membawa busur serta anak panahnya, dan juga senjata tajam.
Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe menemui mahasiswa yang terluka dan tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Awal Bros, Rabu (25/9). Kepada wartawan usai berkunjung, Kapolda mengatakan, apa yang terjadi merupakan salah satu bentuk pengamanan oleh kurang lebih 2.000 personel kepolisian di lapangan.
Hanya saja, ada beberapa oknum mahasiswa yang berusaha memaksakan diri untuk masuk ke gedung DPRD dan bermaksud mendudukinya.
”Tentu hal itu sangat tidak diperbolehkan. Makanya kita lakukan pengamanan dan mempertahankan agar gedung DPRD tak diduduki. Seandainya kita tidak tegas kemarin, tentu akan diduduki. Kalau diduduki, kan bisa kacau,” jelas Irjen Guntur Laupe.
Selain itu, lanjutnya, ada juga beberapa kelompok mahasiswa yang melakukan pelemparan, yang kebetulan mengenai anggota polisi. Sehingga ada beberapa personel pengamanan yang melakukan pengejaran hingga ke dalam masjid tak jauh dari gedung dewan. Yang dikecam, karena mereka masuk dengan menggunakan alas kaki.
”Berdasarkan undang-undang, adat istiadat dan keagamaan, hal itu tidak diperbolehkan. Tentu ada hukumannya dan akan kita proses,” tegasnya.
Sebagai orang nomor satu di jajaran kepolisian Sulsel, Guntur Laupe sangat menyesalkan peristiwa bentrokan mahasiswa dan aparatnya. Karena saling emosi dan tidak mampu mengendalikan diri.
“Saya minta maaf terhadap seluruhnya, terutama terhadap anak-anakku mahasiwa, masyarakat, dan pengurus masjid,” imbuhnya.
Direktur Rumah Sakit Awal Bros dr Merry, menyebut ada 32 orang mahasiswa dan wartawan yang sempat mendapatkan perawatan saat berlangsung demo berujung bentrokan. Namun, sebagian di antaranya sudah diperbolehkan pulang.
“Masih ada satu pasien bernama Muslimin, mahasiswa UIN Alauddin yang masih kita rawat di UGD. Dilakukan observasi, karena mengalami trauma pada bagian kepala. Dua pasien lainnya kita rujuk ke RS Bhayangkara,” ujar dr Merry, kemarin.
Menurut dr Merry, rerata mahasiswa yang dirawat di RS Awal Bros mengalami luka ringan dan kekurangan cairan. “Tidak ada yang mengalami luka parah,” pungkasnya.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Kombes Pol dr Farid yang ditemui, mengatakan ada 18 orang mahasiswa yang dirawat pascainsiden bentrokan. “Yang dirawat ada empat orang. Tapi tadi (kemarin) ada satu orang yang sudah pulang. Jadi pasien yang masih tinggal ada tiga orang. Masing-masing dua mahasiswa dan satu orang wartawan,” jelasnya.
Sesaat setelah massa mahasiswa membubarkan diri dari flyover, Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb turun memantau kondisi di lokasi. Iqbal didampingi Camat Panakkukang M Tahir Rasyid dan lurah se-Kcamatan Panakkukang, Camat Ujung Pandang Andi Zulkifli Nanda, Camat Tamalate Hasan Sulaiman, dan Kabid Operasional Dinas Pemadam Kebakaran Makassar Hasanuddin.
Iqbal Suhaeb memantau petugas kebersihan dari kecamatan yang turun menyapu jalan, membersihkan sampah sisa aksi menolak pengesahan sejumlah RUU yang berlangsung dari pagi hingga malam.
Camat M Tahir Rasyid menurunkan 100 Satgas kebersihan yang didukung dengan armada fukuda. Selain itu, Dinas Pemadam Kebakaran juga menurunkan empat armadanya yang diperkuat dengan 10 petugas damkar. Mereka menyemprotkan air ke aspal untuk membersihkan jalanan dari sisa pembakaran ban bekas.
Camat Tallo Andi Zainal A Takko juga mengerahkan seluruh Satgas kebersihan di kecamatannya untuk membersihkan sampah sisa aksi kemarin seperti botol kemasan, dan kotak sisa pembungkus makanan.
“Camat, lurah, dan damkar turun membersihkan sisa aksi kemarin untuk memudahkan akses bagi pengguna jalan yang melintas di sepanjang Jalan Urip Sumihardjo. Kita upayakan agar kebersihan kota tetap terjaga,” terang Iqbal. (mat-ish-nug/rus)
40 Mahasiswa, Empat Polisi, dan Tiga Wartawan Korban
