KOMITMEN dan disiplin menjadi kata kunci untuk menjalankan sebuah usaha. Dua kata ini juga yang membesarkan home industri sepatu dan jasa kontruksi milik Muh Fajar Maulana. Kini Fajar melanjutkan studinya S2-nya di Universitas Hasanuddin tepatnya di Fakultas Hukum.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Pria kelahiran Makassar 3 Februari 1992 ini mengaku, dirinya mulai berwirausaha karena komitmen yang ia miliki. “Saya ingin tetap mempertahankan komitmen dan kedisiplinan karena apapun yang ingin kita lakukan pasti akan terwujud. Tidak ada pengusaha yang sukses tanpa adanya kedisiplinan, itu harga mati bagi saya,” ungkapnya saat ditemui penulis, kemarin.
Memulai bisnis sepatu, Fajar akui itu usaha pertamanya, dimana usaha yang diakuinya dimulai dari nol dan dengan biaya sendiri. Jatuh bangun menjadi makanan sehari-harinya, mulai dari pembuatan hingga pemasaran harus ia rasakan diawal-awal karirnya.
“Selama saya jalankan usaha ini, alhamdulillah cukup baik. Bohong juga itu pengusaha kalau tidak rasakan suka dukanya. Saya memulai usaha dengan modal pas-pasan Rp1 juta, saya buat sendiri cari bahan bakunya sendiri saya juga yang pergi jualkan di jalan dan banyak lagi,” bebernya.
Sebelumnya, dengan keterbatasan tenaga dan modal, Fajar mengakui butuh kerja extra membesarkan usaha. Belum lagi, kualitas sepatu yang diragukan oleh konsumen hingga dijatuhkan oleh pesaing.
Namun dibalik itu, anak dari Maulana dan Suharti ini menggungkapkan, ada pembelajaran tersendiri yang membuat usahanya kini bisa maju, bahkan usaha sepatu yang dijalankannya saat ini sangat produktif. Di samping itu pihaknya juga memiliki brand tersendiri. Produksinya pun dibuat by request, tergantung pesanan konsumen yang datang.
“Kalau kita kembali mengingat awal membesarkan usaha, saya sendiri suka sedih. Bagaimana tidak sedih, saya besarkan usaha dari keringat sendiri, tangan sendiri, mesin seadanya, uang cukup-cukupkan karena selesai kuliah itu saya putus asa cari kerja yang cocok dengan saya. Di 2014 baru saya putuskan buka usaha saja, syukurnya banyak yang doakan utamanya orangtua saya, mungkin doa mereka yang buat saya bisa seperti sekarang,” bebernya.
Setelah menjalankan usaha sepatu miliknya yang terbilang laris di pasaran, Fajar mulai bergerak di bidang konstruksi. Awalnya perusahaannya melalui pekerjaan-pekerjaan drainase, lambat laun terus meningkat hingga mengikuti tender. “Kalau itu masih belum ada apa-apanya masih coba belajar dan coba yang baru saja ikut-ikut tender kalau menang dan kita bisa selesaikan kan alhamdulillah,” jelasnya. (*)
