MAKASSAR, BKM — Mahasiswa Makassar memenuhi janjinya untuk kembali berdemo, Kamis (26/9). Bahkan, massa perlawanan yang menolak hasil revisi Undang-undang KPK dan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KHUP), serta RUU lainnya bertambah. Mereka dari kalangan putih abu-abu.
Sejak pagi, gabungan pelajar SMA dan SMK ini mulai bergerak. Mereka berkonvoi dengan mengendarai sepeda motor dan masih mengenakan seragam sekolahnya masing-masing. Titik konvoinya di flyover.
Gelombang pertama pengunjukrasa dari kalangan pelajar ini langsung diantisipasi aparat kepolisian, yang memang sudah berada di bawah dan samping flyover. Pergerakan massa berhasil dihentikan oleh polisi.
Mereka yang terjaring kemudian dibawa ke Mapolrestabes Makassar dan Mapolda Sulsel guna menjalani pemeriksaan. Data dari pihak kepolisian menyebut, sebanyak 213 pelajar berhasil diamankan.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, mengatakan ratusan siswa itu terdata dari 35 SMA, SMK, dan MAN.
”Mereka rencananya mau berdemo di flyover. Karena masih berseragam sekolah, langsung diamankan. Habis ashar tadi (kemarin), sebagian besar sudah ada yang dipulangkan. Sebagian lainnya masih di mapolda untuk didata, selanjutnya diserahkan ke orangtuanya.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo, mengatakan dari pelajar yang diamankan ada di antaranya yang membawa senjata tajam berupa anak panah, lengkap dengan alat pelontarnya.
”Ada juga dari mereka yang tidak lagi tercatat sebagai pelajar, namun mengenakan baju seragam. Apalagi mereka sudah berdatangan sejak jam pelajaran dan jam belajar,” ungkap Kombes Wahyu.
Menurut perwira polisi tiga bunga melati di pundaknya itu, ratusan pelajar tersebut kemudian dilakukan pemeriksaan. Termasuk isi komunikasi melalui gawainya.
”Ada indikasi dalam isi chat pada ponsel milik pelajar yang diamankan tersebut berisi ajakan untuk berdemo. Kami masih dalami siapa penyebar ajakan tersebut,” kata Kapolrestabes.
Menyikapi persoalan itu, Dinas Pendidikan Sulsel dan kepala sekolah, khususnya yang siswanya ikut aksi unjuk rasa, melakukan pendampingan di markas kepolisian.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Asri Syahrun Said menjelaskan, pascasiswa yang ikut demonstrasi digelandang ke kantor kepolisian, pihaknya langsung memerintahkan seluruh kepsek memberikan pendampingan di sana.
“Saya bersama kepala SMA dan SMK langsung menuju polda,” ungkapnya ketika dihubungi, Kamis (26/9).
Lelaki yang juga menjabat sebagai kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulsel itu mengemukakan, sebenarnya yang ikut aksi unjuk rasa adalah siswa yang membolos dari sekolah.
“Jadi mereka yang ada di lokasi demonstrasi pada umumnya memang tidak masuk sekolah hari ini (kemarin). Itu anak-anak yang bolos,” jelasnya.
Dia mengemukakan, berdasarkan laporan sejumlah kepala sekolah, pada umumnya, pintu pagar sekolah sudah ditutup sejak pukul 07.00 Wita, sehingga siswa yang sudah berada di lokasi sekolah tidak bisa lagi keluar.
Mantan kepala BKD Kabupaten Bantaeng itu menjelaskan, sebenarnya sejak kemarin, pihaknya sudah mewanti-wanti sekolah agar memantau anak didiknya untuk tidak ikut melakukan aksi unjuk rasa. Namun tetap saja ada yang lolos dari pantauan.
Selanjutnya, tambah Asri, siswa yang terjaring aparat kepolisian akan diberi pembinaan setelah selesai dilakukan proses identifikasi dan mengembalikan mereka ke orang tuanya masing-masing.
“Jadi, tadi (kemarin) kami bersama teman-teman kepala sekolah sudah melakukan pendampingan. Sekarang (kemarin sore) sedang diidentifikasi oleh aparat. Kalau sudah selesai, kita minta agar kepala sekolah mendampingi yang bersangkutan untuk diserahkan ke orang tua masing-masing,” jelas Asri.
Usai melakukan pendampingan di polda, Asri langsung mengeluarkan surat edaran, khususnya ditujukan kepada kepala sekolah di Makassar untuk terus memantau dan mengawasi anak didiknya. Sekaligus mengantisipasi terjadinya aksi yang sama.
Selain itu, sekolah diminta untuk mengintensifkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, agar selain belajar mereka bisa disibukkan dengan kegiatan yang bermanfaat. Proses belajar mengajar pun harus tetap berlangsung seperti biasa, karena jika diliburkan dikhawatirkan para siswa tersebut menjadi liar.
“Kita sudah keluarkan surat edaran agar seluruh kepala sekolah bisa mengendalikan siswanya dan tidak terlibat dalam demo,” tandasnya.
Lebih Banyak Polwan
Penangkapan oleh polisi terhadap pelajar di pagi hari, tak menyurutkan niat siswa lainnya untuk menyalurkan aspirasi bersama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, serta aliansi masyarakat sipil. Mereka bertemu di depan gedung DPRD Sulsel dan flyover.
Walau sudah berorasi cukup lama, tak satupun anggota dewan datang menemui pendemo. Apalagi, sejak pagi di depan kantor wakil rakyat tersebut telah terpasang kawat berduri untuk menghalangi pengunjuk rasa masuk lebih jauh.
Tak hanya itu, aparat kepolisian juga bersiaga dengan sejumlah kendaraan taktis, baik yang yang diparkir di pelataran gedung DPRD maupun di luar. Jika hari pertama aparat kepolisian lebih banyak melibatkan personel dari daerah dan Brimob, kali ini pihak Polrestabes Makassar lebih banyak melibatkan personel polwan. Mereka fokus di pintu masuk dan keluar gedung dewan.
Nyaris terjadi kericuhan antara demonstran dan aparat. Hal tersebut lantaran pengunjuk rasa meminta agar pintu dibuka untuk diterima oleh wakil rakyat. Namun permintaan tersebut tak dipenuhi. Karena kesal, ada di antara massa yang awalnya membakar ban bekas lalu melempar ke arah gedung dewan.
Aparat yang di dalam dan luar gedung lalu bersiap untuk meredam aksi yang lebih fatal. Para koordinator aksi dari kelompok mahasiswa juga langsung meredam dan menegaskan bila tak boleh ada yang anarkis.
“Kami datang dengan aksi damai. Karena itu tidak boleh ada yang anarkis” ujar korlap aksi dari UMI dan UIN Alauddin.
Sejumlah pemuda yang tidak mengenakan jaket almamater kembali melempar dan memprovokasi. Akibatnya, kembali terjadi aksi lemparan hingga dorong-dorongan dengan aparat kepolisian. Di depan pintu satu Unhas, sekelompok massa melakukan tindakan anarkis. Dua unit mobil berplat merah dicegat lalu dibalik. Kacanya pecah.
Kapolsek Tamalanrea Kompol Syamsu Bachtiar, mengatakan dua kendaraan roda empat tersebut sudah diamankan. ”Ada 25 orang mahasiswa yang diamankan. Mereka diamankan ke Mapolrestabes Makassar guna menjalani pemeriksaan,” ujarnya tadi malam. Menyikapi peristiwa tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Unhas melalui Presidennya Abd Fatir Kasim mengeluarkan surat pernyataan. Ditegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam aksi demo di depan pintu satu yang berakhir dengan ricuh, disertai perusakan dan vandalisme pada kendaraan plat merah, pembakaran ban serta perusakan atribut kampus Unhas. (rhm-mat-rif/rus)
