Site icon Berita Kota Makassar

Dicky Jadi Anak Angkat Kapolda, Irfan Meradang

MAKASSAR, BKM — Dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Jumat malam (27/9), ada dua orang yang menjadi korban tertabrak kendaraan polisi. Mereka terlindas mobil barracuda yang ketika itu berusaha membubarkan massa.
Keduanya adalah Dicky Wahyudi, mahasiswa semester tiga Fakultas Hukum Universitas Bosowa (Unibos). Satunya lagi adalah Irfan Rahmatullah (37), seorang pengemudi ojek daring. Mereka tertabrak ketika massa berhamburan menyelamatkan diri di Jalan Urip Sumohardjo.
Sesaat setelah kejadian, keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina, yang berada tak jauh dari lokasi. Namun, perlakuan yang diperoleh antara Dicky dan Ippang –panggilan Irfan– berbeda.
Hingga kemarin, Ippang harus terbaring tak berdaya di rumahnya Jalan Tidung VII, Setapak 09, Kecamatan Rappocini. Saat berada di atas motornya, ia tertabrak mobil barracuda polisi. Kejadiannya berlangsung kira-kira pukul 23.00 Wita. Akibat peristiwa itu, Irfan mengalami patah tulang di paha sebelah kiri.
Ditemui BKM di kediamannya, Irfan menceritakan kronologis kejadian yang dialaminya. Saat itu ia menuju Nipah Mall untuk mencari penumpang atau menunggu orderan. Berangkat dari arah Paccinang Raya.
Namun, belum sampai di lokasi yang dituju, Ippang menemui banyak orang yang tengah berlarian. Sontak dia panik dan memutar arah sepeda motornya.
“Saya hendak mau ke Nipah Mall cari orderan. Tapi belum sampai, ada banyak orang lari-lari dikejar polisi. Tidak mungkin juga saya mau gas motor saya. Jadi saya pelan-pelan saja, dan putar balik motor saya berlawanan arah. Tiba-tiba dari belakang langsung ditabrak mobil barracuda. Saya jatuh dan terlempar sekitar 4 meter,” tuturnya di pembaringan.
Setelah jatuh terpental beberapa meter, Irfan masih sadar. Ia melihat mobil polisi yang menabraknya langsung meninggalkan dirinya begitu saja. Beruntung, warga yang melihat kejadian itu langsung mengangkat serta melarikannay ke RS Ibnu Sina dengan angkutan umum petepete.
“Waktu saya jatuh, saya tidak pingsan. Saya masih sadar dan melihat itu mobil langsung kabur. Tidak ada satu pun polisi yang turun. Hanya warga yang bawa saya ke RS Ibnu Sina,” terangnya.
Di RS Ibnu Sina, Irfan mendapatkan perawatan medis biasa. Seperti pemeriksaan tekanan darah dan foto rontgen untuk mendeteksi kondisi di bagian dalam tubuhnya. Dari hasil foto rontgen, terdeteksi ada yang patah pada tulang paha sebelah kiri.
“Saya diberikan pilihan dari pihak rumah sakit, ditindaki dengan operasi atau pulang ke rumah untuk pengobatan alternatif. Kalau operasi biayanya Rp30 juta. Saya tidak mampu untuk biaya sebesar itu,” ucapnya.
Karena merasa berat, Irfan pun meradang. Ia meminta ke keluarga dan teman-temannya sesama pengojek daring untuk membawanya pulang menggunakan ambulans. Termasuk menyelesaikan juga biaya tindakan medis, khususnya rontgen sebesar Rp700 ribu.
“Saya pilih pulang saja. Saya pulang kira-kira jam 3 subuh. Karena kalau lama tinggal di ruangan kena biaya juga sebesar Rp46 ribu per jamnya. Itu belum masuk biaya tindakan medis dan obat-obatannya. Jadi saya minta pulang dan sekarang berobat alternatif,” jelasnya.

Anak Angkat Kapolda

Berbeda dengan Irfan, Dicky Wahyudi mendapat perhatian yang baik. Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah bahkan mengunjungi langsung Dicky, Minggu (29/9). Ia ditemani Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe dan Penjabat Wali Kota Makassar M Iqbal Suhaeb.
Saat kejadian, Dicky tertabrak mobil barracuda saat hendak membubarkan diri dari lokasi aksi mahasiswa. Aparat kepolisian ketika itu mengeluarkan gas air mata dan mahasiswa pun berhamburan. Dicky berlari di tengah jalanan kemudian terpeleset.
Gubernur mengatakan, kedatangannya bersama kapolda dan penjabat wali kota merupakan bentuk keprihatinan. “Ini wujud keprihatinan kita kepada anak-anak kita yang mengalami cidera,” kata Nurdin Abdullah.
Nurdin juga membeberkan bahwa Dicky adalah tulang punggung kelurga. Orangtuanya juga baru saja meninggal.
“Orangtuanya juga baru meninggal. Jadi dia anak tunggal. Tadi diberi semangat oleh Pak Kapolda. Pak Kapolda sudah menyatakan menjadikannya sebagai anak angkat,” terang Nurdin Abdullah.
Demikian juga dengan segala biaya rumah sakit dan sebagainya akan ditanggung. “Pak Kapolda sudah janji. Tadi bukan hanya menyelesaikan studi, tapi sampai dia bekerja, supaya bisa membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Bedah UU KPK

Sebelumnya, Nurdin juga telah menyampaikan kepada seluruh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) agar mengundang seluruh mahasiswa dan pelajar membedah isi Undang-undang KPK hasil revisi, dan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).
“Kita coba bedah sama-sama isi hasil revisi UU KPK dan RKUHP dengan seluruh adik-adik mahasiswa,” kata NA saat mengumpulkan seluruh pimpinan dan perguruan tinggi swasta maupun negeri di Baruga Patingalloang, Rujab Gubernur Sulsel, akhir pekan lalu.
Selain mahasiswa, Nurdin Abdullah juga mengajak siswa SMA dan SMP sama-sama mengikuti diskusi untuk membedah isi undang-undang yang menjadi isu sentral aksi sejak tanggal 24 September lalu.
“Saya ingin sampaikan kepada bapak ibu sekalian, tidak boleh anak-anak kita keluar saat proses belajar mengajar. Kalau bisa dijemput saat pulang sekolah oleh orang tuanya,” jelas mantan bupati Bantaeng dua periode itu.
Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Adnas, serta Dandim 1408/BS Kolonel Inf Andriyanto juga telah menggelar pertemuan di Balai Kota Makassar, Sabtu (28/9).
Pertemuan dihadiri Kapolres Pelabuhan AKBP Aris Bachtiar, Asisten I Pemkot Makassar Sabri, camat se-Kota Makassar, Badan Kesbangpol, Dinas Perhubungan, Dinas Damkar, Dinas Pendidikan, BPBD, Satpol PP, dan Bagian Tapem.
Pertemuan membahas kondisi kota Makassar selama hampir sepekan, utamanya berkaitan dengan aksi unjuk rasa yang berlangsung selama beberapa hari ini.
Pemkot Makassar, TNI, dan Polri sepakat menempuh jalan persuasif menyikapi aksi demonstrasi yang mengarah pada situasi yang kurang kondusif.
Iqbal juga meminta kepada jajarannya agar melakukan pendekatan kekeluargaan ke masing-masing warganya. Utamanya daerah rawan bentrok agar tidak mudah terprovokasi.
“Tolong diajak duduk bersama warga kita, utamanya yang terkenal daerah merah. Ini bisa meminimalisir adanya potensi provokasi. Kasihan warga lain yang ingin beraktifitas. Keadaan ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” pesannya.
Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Adnas juga mengimbau agar bersama-sama menjaga keamanan kota. Ia meminta Pemkot Makassar agar turut serta dalam membahas isu yang kemungkinan bisa memicu perkelahian maupun bentrok seperti yang terjadi belakangan ini.
“Atas nama pribadi dan instansi saya meminta kepada seluruh jajaran stakeholder agar bersama untuk membuat Makassar damai. Masyarakat diajak berkomunikasi dengan baik agar konflik maupun perselisihan yang bisa memicu bentrok dapat diminimalisir,” harapnya.
Dengan bersatu mencari solusi bersama, diharapkan Makassar akan kembali aman dan tidak ada lagi bentrok. Mahasiswa pun akan dirangkul bersama pemerintah, TNI, dan Polri. (rhm-arf-nug/rus)

Exit mobile version