MAKASSAR, BKM–Pemerintah Kota Makassar terus berusaha mencari jalan keluar persoalan persampahan. Setelah memiliki UPTD Bank Sampah dan ribuan bank sampah yang tersebar di 15 kecamatan, kini pemkot melakukan kerjasama dengan PT Daur Ulang Industri Terpadu.
Alasan mendasar kerjasama tersebut, karena kurang lebih 1.000 ton sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah Tamangapa Raya setiap harinya.
Penjabat (pj) Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb mengatakan, meski telah memiliki UPTD Bank Sampah dan ribuan bank sampah unit yang tersebar di seluruh kecamatan untuk pemilahan, namun saat ini hanya mampu mereduksi sekitar 10 persen dari total sampah.
“Kita punya Bank Sampah Pusat yang membantu memilah sampah dan sekitar seribu Bank Sampah Unit, tapi yang betul-betul aktif kurang dari setengahnya. Hanya mampu mengurangi sekitar 10 persen dari 1000 ton sampah yang masuk ke TPA setiap hari,” kata Iqbal.
Guna mengurangi volume sampah di TPA, Pemkot Makassar menjalin kerjasama dengan PT Daur Ulang Industri Terpadu melalui pemanfaatan sistem aplikasi bernama Octopus.
Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), antara Iqbal dengan Direktur Utama PT. Daur Ulang Industri Terpadu, Iksan di Rujab Walikota Makassar, Senin (30/9).
Iqbal menyebut, dengan kerjasama ini pihak Octopus bisa membantu pemerintah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Khususnya kepada personel petugas kebersihan yang tersebar di seluruh kecamatan hingga kelurahan.
Dengan harapan, proses pemilahan bisa dilakukan sejak tahap pengumpulan oleh satgas dari titik pengambilan, seperti rumah warga.
“Mereka (Octopus) berpengalaman dalam mengedukasi soal persampahan, termasuk didalamnya pemahaman soal Reuse, Reduce, Recycle, pemilahan organik dan anorganik. Edukasi yang utama, karena kita mau ini jangka panjang. Jadi kita sangat terbantu,” jelasnya.
Sementara Dirut PT Daur Ulang Industri Terpadu, Iksan membeberkan alasan memilih Kota Makassar. Ia mengaku takjub dengan Makassar yang memiliki kesadaran secara organisasi persoalan sampah.
“Hasil riset kami di beberapa daerah, justru Makassar yang paling memenuhi kriteria untuk bekerja sama. Yang pertama, mereka ‘aware’ soal sampah, hal ini dapat dilihat dari ribuan Bank Sampah yang ada di Makassar hingga ke tataran RW bahkan ada Bank Sampah Pusat, begitupun dengan sirkulasi pengangkutan sampah,” ungkapnya.
Meski begitu, dirinya menyebut peranan Bank Sampah masih bisa dimaksimalkan. Melalui edukasi yang bakal Oktopus lakukan, selain berdampak positif pada persoalan lingkungan hidup, juga berdampak dari aspek ekonomi.
“Bank sampah kita akan maksimalkan fungsinya, petugas kebersihan akan kami edukasi dalam menggunakan aplikasi, dan dalam proses pemilahan sampah. Jika diterapkan nantinya, ini akan berdampak pada insentif ekstra bagi petugas juga bagi lingkungan hidup kita,” pungkasnya.(nug)
