Site icon Berita Kota Makassar

Dari Berjualan Kepiting di Pinggir Jalan, Hingga Ditertibkan Satpol

MAKASSAR memang kaya akan kuliner. Berbagai macam kuliner berbagai olahan ada. Mulai olahan buah, olahan hewan darat hingga hewan laut juga ada. Seperti olahan kepiting di Rumah Makan Daeng Craf milik Muh Zulfikar Fauzi.

Laporan: NUGROHO

Kuliner masakan kepiting saat ini memang menjadi trend di Kota Daeng ini.
Jika kita berjalan-jalan di salah satu ikon wisata kuliner baru di Makassar, Kanre Rong ri Karebosi, jangan lupa menyantap hidangan kepiting spesial di Daeng Crab. Rasa bumbunya yang khas membuat tempat ini kini menjadi sajian kuliner istimewa di tempat itu.
Penulis berkesempatan mewawancarai khusus pemilik Daeng Crab, Muh Zulfikar Fauzi. Stand yang berada tepat di tengah Kanre Rong menghadap ke lapangan ini, dikatakan Zul sapaannya, buka dari pukul 11.00 Wita hingga 01.00 Wita dini hari.
Zul membuka usahnya ini sejak Februari 2017. Dengan berbagai keunggulan kepitingnya, usahanya ini dikatakan Zul tak perlu diragukan soal rasa.
Padahal, dulunya Zul hanyalah seorang penjual kepiting di pinggir jalan. Dimana saat itu, ia juga kerap ditertibkan oleh aparat Satpol PP karena dianggap mengganggu estetika kota.
“Dulu saya jualannya di pinggir jalan. Depan pesantren Immim, Jalan Perintis. Itu kepiting hidup dulu saya jual. Waktu itu saya selalu ditertibkan sama petugas,” kenang Zul.
Namun setelah memberanikan diri bertemu langsung dengan Wali Kota Makassar saat itu, Zul pun langsung menceritakan keluh kesah dirinya. Akhirnya, ia diberikan tempat secara cuma-cuma di Kanre Rong hingga saat ini ia berbisnis kuliner olahan kepiting.
“Saya menghadap ke wali kota, saya cerita ke beliau bagaimana saya. Terus pak wali waktu itu Pak Danny, memberikan tempat, beliau bilang, saya harus bisa sebagai anak muda mengembangkan usaha sendiri. Dan Alhamdulillah sampai saat ini,” jelas Zul.
Untuk kualitas, Zul mengatakan jika kepitingnya adalah kepiting pilihan, dimana beratnya diatas 200 gram perekor. Memiliki banyak telur, dan tentunya memiliki daging yang padat.
Alumni Universitas Muslim Indonesia ini juga menjelaskan jika ada beberapa perbedaan khas yang disajikan di kepitingnya. Jika sajian olahan kepiting di rumah makan biasa mencampur kerang maupun jagung, ia enggan melakukannya. Karena ia merasa jika dengan mencampur, maka kolesterol dalam kandungan makanannya akan bertambah.
“Di warung lain itu dia campur kerang, kernag hijau, jagung, saya tidak. Kalau campur kerang, itu kolesterol tinggi. Bumbu disini juga sangat sehat karena diolah sedemikian rupa. Jadi kalau gizinya, tentu tidak diragukan lah,” ungkap pria yang bertempat tinggal di BTP ini.
Kini, Zul telah bisa meraih omzet rata-rata perharinya hingga Rp700 ribu. Dengan sajian berbagai varian rasa, kepiting di Daeng Crab ini juga tergolong murah.
“Kita punya beberapa varian rasa. Ada saos padang, asam manis, saos tiram, woku khas manado, telur asin, serta original. Kalau kita satu porsi itu dua kepiting, masing-masing berat 220 gram. Harga Rp70 ribu, kalau paket komplit nasi dan air jadi Rp80 ribu,” bebernya.(*)

Exit mobile version