TUNTUTAN memulai pekerjaan saat selesai kuliah, membuat Zul turun ke dunia usaha. Bukan mencari pekerjaan, Zul memang langsung berpikir saat itu untuk membuat lapangan kerja.
Laporan: NUGROHO
Saat itu ia pun langsung tergerak untuk mencari berbagai relasi yang mampu membantunya dalam usaha. Berbagai usaha pun ia geluti sebelum akhirnya membuka Daeng Crab.
“Pada saat itu saya selesai di UMI jurusan bisnis. Saya berpikir, sebagai alumni cita-cita saya memang harus mempekerjakan seseorang. Saya mencoba membuka jaringan dimana-mana hingga saat ini,” ucapnya.
Zul memgatakan, awalnya ia membuat usaha lidah buaya. Sampai pernah mendapat penghasilan Rp700 ribu, itulah yang menjadi awal perputaran bisnisnya.
Dengan uang itu, ia terus memutar penghasilannya, hingga bisa membeli kepiting untuk diperdagangkan. Lambat laun usaha jualan kepitingnya pun mulai menampakkan hasil.
Seiring berjalannya waktu, Zul pun akhirnya memberanikan diri membuka usaha di bidang suplayer dan eksportir kepiting. Usaha ini pula yang cukup mendongkrak perekonomiannya.
Bahkan beberapa restauran ternama berhasil ia jajaki. Mulai dari Apong di Jalan Diponegoro dan Boulevard, RM Ujung Pandang di Jalan Irian, Ratu Gurih, RM Losari, hingga RM Dinar dan Makassar Seafood dan hotel-hotel.
Kini bahkan Zul sudah memiliki penangkaran kepiting sendiri di Bone. Kepiting khas bone yang dibudidayakannya di sana memang amatlah berkualitas. Olehnya beberapa rumah makan yang disebutkan tadi, masih menggunakan jasanya.
Dalam perkembangannya, Zul terus melebarkan sayap usahanya. Terakhir, ia pun berkesempatan membuka stand makanan olahan kepiting di Kanre Rong, Daeng Crab.
“Alhamdulillah kami juga sudah bisa produksi kuliner. Jadi dengan dukungan keluarga dan teman-teman, akhirnya Daeng Crab telah berhasil memproduksi kuliner sampai hari ini,” ungkap pria kelahiran Palopo ini.
Kedepannya, Zul tetap akan lebih fokus ke usaha kuliner. Bahkan ia punya keinginan membuka rumah makan berskala internasional sendiri. Dengan konsep menu makanan utama seafood, ia ingin suatu saat rumah makannya bisa sejajar dengan Apong dan sebagainya.
“Kita harus berani, jangan kalah dari orang lain yang sudah suksek buka usaha kuliner seafood. Karena bahan bakunya mereka saja dari kita, kenapa kita tidak bisa,” ucapnya.
Zul pun sedikit membagi tips buat para pengusaha yang baru dan akan merintis usaha. Baginya, keberanian dan tidak banyak mengambil pertimbangan adalah kunci kesuksesan. Seperti yang ia terapkan selama ini.
“Kalau mau usaha harus berani ambil keputusan yang tepat. Harus yakin, jangan terlalu banyak pertimbangan. Coba saja dulu lah, jangan takut dengan duka-dukanya,” tutup Zul.
Zul juga menceritakan, kalau ia membuka usahnya ini sejak Februari 2017. Dengan berbagai keunggulan kepitingnya, usahanya ini dikatakan Zul tak perlu diragukan soal rasa.
Padahal, dulunya Zul hanyalah seorang penjual kepiting di pinggir jalan. Dimana saat itu, ia juga kerap ditertibkan oleh aparat Satpol PP karena dianggap mengganggu estetika kota.
“Dulu saya jualannya di pinggir jalan. Depan pesantren Immim, Jalan Perintis. Itu kepiting hidup dulu saya jual. Waktu itu saya selalu ditertibkan sama petugas,” kenang Zul.
Namun setelah memberanikan diri bertemu langsung dengan Wali Kota Makassar saat itu, Zul pun langsung menceritakan keluh kesah dirinya. Akhirnya, ia diberikan tempat secara cuma-cuma di Kanre Rong hingga saat ini ia berbisnis kuliner olahan kepiting.
“Saya menghadap ke wali kota, saya cerita ke beliau bagaimana saya. Terus pak wali waktu itu Pak Danny, memberikan tempat, beliau bilang, saya harus bisa sebagai anak muda mengembangkan usaha sendiri. Dan Alhamdulillah sampai saat ini,” jelas Zul.
Untuk kualitas, Zul mengatakan jika kepitingnya adalah kepiting pilihan, dimana beratnya diatas 200 gram perekor. Memiliki banyak telur, dan tentunya memiliki daging yang padat.
Alumni Universitas Muslim Indonesia ini juga menjelaskan jika ada beberapa perbedaan khas yang disajikan di kepitingnya. Jika sajian olahan kepiting di rumah makan biasa mencampur kerang maupun jagung, ia enggan melakukannya. Karena ia merasa jika dengan mencampur, maka kolesterol dalam kandungan makanannya akan bertambah.
“Di warung lain itu dia campur kerang, kernag hijau, jagung, saya tidak. Kalau campur kerang, itu kolesterol tinggi. Bumbu disini juga sangat sehat karena diolah sedemikian rupa. Jadi kalau gizinya, tentu tidak diragukan lah,” ungkap pria yang bertempat tinggal di BTP ini.
Kini, Zul telah bisa meraih omzet rata-rata perharinya hingga Rp700 ribu. Dengan sajian berbagai varian rasa, kepiting di Daeng Crab ini juga tergolong murah.
“Kita punya beberapa varian rasa. Ada saos padang, asam manis, saos tiram, woku khas manado, telur asin, serta original. Kalau kita satu porsi itu dua kepiting, masing-masing berat 220 gram. Harga Rp70 ribu, kalau paket komplit nasi dan air jadi Rp80 ribu,” bebernya.(*)
