SETIBA di Lanud Sultan Hasanuddin, ratusan pengungsi dikumpulkan terlebih dahulu. Setelah itu dibagikan makan siang. Sementara mereka yang sakit langsung mendapat perawatan dari petugas kesehatan yang sudah berjaga.
Sekitar 30 menit istirahat di Lanud Hasanuddin, pengungsi asal Malang dan Aceh melanjutkan penerbangan. Sementara mereka yang merupakan warga Sulsel, untuk sementara dibawa ke Asrama Haji Sudiang.
Para pengungsi ini merupakan gelombang pertama yang tiba di Lanud Hasanuddin. Masih ada penerbangan-penerbangan selanjutnya yang akan difasilitasi pemerintah dan TNI AU.
“Ini kan terus berlanjut. Kapasitas angkut pesawatnya kan 650 orang. Ada tiga Hercules yang dioperasikan,” kata Nurdin.
Selama berada di Asrama Haji Sudiang, kata Nurdin, pemerintah menjamin semua kebutuhan para pengungsi. Termasuk untuk makan dan minumnya. Meskipun, ada sebagian yang langsung pulang ke kampung setelah dijemput keluarga masing-masing.
“Kita berharap semua pengungsi yang datang itu, bisa ditangani dengan baik. Kita sudah persiapkan. Tentu tidak semuanya ditampung di Asrama Haji. Pasti sudah ada banyak keluarga yang jemput. Saya kira itu tidak ada persoalan,” terangnya.
Ditegaskan Nurdin, selain berusaha menangani trauma warga, Pemprov Sulsel juga mengimbau agar Dinas Pendidikan dan sekolah di daerah masing-masing pengungsi memberikan kemudahan bagi anak-anak untuk melanjutkan sekolahnya.
“Kita akan bicarakan. Bagi yang cepat ingin pulang ke kampungnya di Sulsel, kita sudah siapkan sekolah. Kita sudah koordinasikan dengan kepala dinas untuk memberikan kemudahan pada anak pengungsi yang bersekolah,” jelas alumnus Universitas Jepang ini.
Langkah lain yang dilakukan, Pemprov Sulsel saat ini terus berkomunikasi dan koordinasi dengan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang ada di Papua.
“Kita lagi data. KKSS bekerja di sana. Jadi kita terus berkoordinasi dengan mereka. Saya kira tidak ada masalah, Pemerintah pasti hadir untuk mengurus warganya. Wali Kota (Makassar) hadir. BNPB hadir. Kadis Sosial ada. Lanud ikut membantu,” tandasnya.
Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman yang tiba kembali di Makassar, menjelaskan perihal kunjungannya ke Wamena. “Alhamdulillah, pemerintah daerah di sana sudah menjamin keamanan mereka (warga asal Sulsel), dan berharap peristiwa tersebut tidak terulang lagi. Kapolri juga telah mengirimkan sekitar 1.000 personel untuk menjaga keamanan di Wamena dan sekitarnya, Jayawijaya, serta Jayapura dan sekitarnya,” jelas Andi Sudirman.
Mengenai korban asal Sulawesi Selatan, kata dia, sebagian besar tetap memilih untuk tinggal di Wamena dengan berbagai alasan. Antara lain karena telah menikah dengan penduduk asli. Juga telah memiliki pekerjaan dan memiliki usaha di Jayapura.
“Beberapa warga yang direlokasi atau dipindahkan ke Jayapura adalah anak kecil, sebagian ibu-ibu dan beberapa yang memiliki urgensi-urgensi atau kepentingan tertentu. Sementara yang memilih kembali ke Sulawesi Selatan tergantung urgensinya. Makanya dilakukan pendataan warga-warga yang mungkin memiliki kepentingan untuk kembali ke Sulsel,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain menggunakan pesawat Hercules untuk mengevakuasi korban, pemerintah pusat juga telah mengirimkan kapal Pelni untuk mengantarkan korban ke beberapa daerah di Indonesia.
Tentang jumlah keseluruhan warga pendatang asal Sulsel di Jayapura dan sekitarnya, Sudirman belum bisa memastikannya. Karena pemprov masih melakukan pendataan secara menyeluruh.
”Sebagian korban warga asal Sulsel di Wamene memang lahir dan besar di sana. Hanya mungkin orang tua atau nenek moyangnya yang berasal dari Sulsel,” ungkap Andi Sudirman.
Untuk bantuan kepada korban yang meninggal dunia, kata Andi Sudirman, masih dalam tahap proses. Karena semuanya harus melalui laporan dari pemerintah ke pemerintah dan dibahas lebih detail.
“Pemerintah provinsi juga masih menunggu laporan dari beberapa perusahaan/swasta, karena ada beberapa yang juga membantu dan dikoordinir oleh Pak Sekda,” lanjut Andi Sudriman.
Pada kesempatan ini, Andi Sudriman mengimbau kepada seluruh warga Sulsel untuk tetap tenang, dan memercayakan kendali kepada aparat kepolisian dan TNI. Segera melaporkan jika melihat pergerakan massa lebih dari tujuah orang atau lebih, agar bisa segera dilakukan pengevakuasian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (rhm/rus)
Banyak Warga Sulsel Bertahan di Papua
