MENGGAPAI keinginan dan cita-cita dibutuhkan perjuangan hingga merantau nasib ke negeri jiran. Seperti ini mungkin gambaran hidup Andi Nurhadi. Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI), ia memutuskan mengikuti sahabatnya beradu nasib di Papua.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Dari kegigihan serta kerja kerasnya, akhirnya Andi sukses mendirikan sebuah perusahaan sendiri PT Mapawa Andinya. Tak sampai disitu karier bisnisnyapun membuahkan hasil hingga terus melonjak sampai saat ini. Namun siapa sangka bisnis yang ia besar pernah diterjang berbagai penghalang, hingga ia putus asa dan ingin pulang kampung.
“Awalnya saya memulai semua dari nol, saya bersama teman dulu di kampus menggeluti bisnis yang bergerak di bidang konstruksi sampai saat ini seperti proyek jalan, jembatan, pengadaan pengadaan. Tapi membesarkan perusahaan ini hingga berdiri beberapa cabang di Indonesia timur itu tidak mudah,” ungkapnya kepada penulis.
“Saya sangat jauh dari keluarga, sempat dibawah kabur uang. Tidak cuma harus pandai tapi harus bisa berpandai-pandai, karena pasti tiap proyek selalu ada gangguan luar. Kadang juga, timbul permasalahan di dalam proyek, karena jujur dunia pekerjaan ini memang keras, jadi setiap kita di lokasi baru harus berupaya terus untuk beradaptasi, menyesuaikan diri. Tidak semua yang kita pikir baik, baik pula menurut orang,” tambahnya.
Pria kelahiran Enrekang, 14 Oktober 1988 itu juga bercerita jika enaknya bekerja di bidang kontruksi, karena mendapatkan sallary yang besar dan keuntungan yang lainnya.
“Saya tidak bisa kira-kirakan karena memang bisnis itu saya sama teman-teman patungan untuk besarkan. Kalau kita tanya berapa modal usaha, saya tidak bisa hitung karena memang modalnya sangat besar,” ujarnya.
Namun dibalik itu, jiwa mudanya sewaktu mahasiswa dengan kesenangannya berpetualang, Idiel sapaan akrabnya, bahkan sering menemui rekan bisnisnya di sebuah warung kopi atau sejenisnya.(*)