Site icon Berita Kota Makassar

Sulsel Harus Hentikan Ekspor Kopra

MAKASSAR, BKM — Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Ali Jamil meminta Sulsel berhenti mengekspor kopra.
Harganya yang terjun bebas, kata Ali harus dipertimbangkan eksportir. Apalagi, ekspor kopra di Sulsel masih sangat sering dilakukan. “Di sini harganya di bawah seribu. Kita pikirnya ekspor-ekspor terus tapi tidak perhitungkan petani. Kami minta Sulsel bisa hentikan,” kata Ali pada pelepasan ekspor Kakao ke Jepang di Pelindo IV, akhir pekan lalu.
Ali mengatakan Kementan memang sedang mendorong peningkatan ekspor untuk komoditas kelapa. Namun, banyak bagian lainnya yang bisa dimanfaatkan.
Semisal, untuk santannya bisa dibikin oil. Lalu, sabutnya bisa dibuat spon.
Saat ini ada 18 negara yang jadi tujuan ekspor kelapa, antara lain Belanda, China, Filipina, Papua New Guinea, Vietnam, Singapura, dan Korea Selatan.
“Bahkan lidinya bisa diekspor. Di Sulsel belum ada ini, belum dimanfaatkan. Sekarang kita juga dorong bagaimana arang tempurung bisa jadi bahan bakar,” tuturnya.
Ia mencontohkan arang tempurung ini sangat diminati oleh Jepang. Mereka memanfaatkannya menjadi bahan bakar ramah lingkungan.
“Harganya bisa lebih mahal dibanding kelapanya. Padahal itu sampah,” sebutnya.
Ali Jamil menambahkan selain koprah, ekspor biji kakao di Sulsel juga jadi perhatian. Harusnya, Pemprov bisa mengedukasi eksportir agar mengekspor kakao dalam bentuk bubuk atau powder. “Jangan lagi biji supaya harganya bisa terdongkrak. Nilai ekonominya tinggi kalau diolah dulu,” sebutnya.
Berbagai upaya dilakukan untuk menarik investor yang bersedia mengembangkan sektor pengolahan bahan mentah. Hal ini, kata dia, juga berlaku bagi para petani yang mau terjun di sektor pengolahan.
“Sebaiknya kita aktif komunikasi jadi tumbuh investor buat sektor pengolahan. Petani pun kalau mau bisa menghasilkan komoditas bernilai tinggi,” tandasnya.
Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Andi Parenrengi menjelaskan Dinas Perkebunan senantiasa menggenjot produkrifitas komoditas perkebunan yang dinilai berpotensi dan laku di pasar ekspor.
Selain peningkatan produktifitas, butuh diversifikasi komoditi. Namun itu ada kaitannya dengan kerja-kerja Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura. Karenanya, harus ada sinergitas dari berbagai stakeholder terkait untuk peningkatan ekspor tersebut. (rhm)

Exit mobile version