MAKASSAR, BKM — Musim kemarau yang melanda Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) lima bulan terakhir berdampak langsung terhadap serapan beras Perum Badan Urusan Logistik (Bulog). Penurunnya mencapai 500 ton lebih sehari.
Kepala Bulog Divre Sulselbar, M Attar Rizal, saat dikonfirmasi Selasa (15/10) menjelaskan, saat ini, penyerapan beras yang bisa dilakukan Bulog sekitar 600 hingga 700 ton per hari. Jumlah tersebut tidak seperti biasanya.
Dia menggambarkan, ketika puncak musim panen telah tiba, Perum Bulog dalam sehari menyerap hingga beras 1.500 ton.
“Sampai hari ini, kita masih melakukan serapan beras 600 hingga 700 ton per hari,” ungkapnya.
Namun dia mengemukakan, berkurangnya serapan beras tersebut bukan hanya karena kekeringan saja. Tapi memang panennya sudah lewat. “Saat ini, hanya spot-spot atau daerah tertentu yang melakukan panen seperti Palopo, Wajo. Jadi, secara umum, kekeringan di Sulsel tidak berpengaruh besar terhadap serapan beras,” ujarnya.
Lebih lanjut Attar mengatakan meskipun serapan beras Perum Bulog menurun tapi stok beras di Sulsel tetap stabil hingga akhir tahun 2019.
“Persiapan stok kita banyak, hingga akhir tahun. Bahkan kita masih mensuplai untuk daerah yang ada di luar pulau Sulsel seperti Bengkulu, Sumut, Medan itu semua dari Sulsel yang ambil, sedangkan untuk bagian Timur kita mensuplai NTT, Papua, Ambon semua masih kita layani, karena kita masih panen meskipun sudah tidak hujan,” urainya.
Sebelumnya Kepala UPT Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulsel Uvan Nurwahida mengatakan, musim kemarau yang berkepanjangan di Sulsel mengakibatkan kekeringan tanaman padi seluas 22.364. 17 hektare.
Sementara tanaman padi yang mengalami puso atau gagal panen seluas 14.223.76 hekrare di 17 kabupaten/kota.
Khusus untuk tanaman jagung, yang mengalami kekeringan 147,50 hektare dan mengalami puso atau gagal panen seluas 54 hektare di empat kabupaten.
Agar informasi tersebut dapat tersampaikan menurut Nurwahida, DKP Provinsi Sulsel telah bekerjasama dengan Stasiun Klimatologi kelas I Maros.
Hal tersebut dilakukan, sambung Nurwahida agar petani lebih berhati dalam melakukan kegiatan bertani.
“Telah banyak kegiatan strategis yang dilakukan Pemprov Sulsel untuk menghimbau kepada petani untuk berhati-hati dalam melakukan kegiatan pertanian sehingga petani tidak mengalami kerugian,” ujar Nurwahida.
Meskipun sebelumnya, Kata Nurwahida, Pemerintah Provinsi Sulsel melalui DKP meluncurkan program yakni pemberian asuransi kepada petani. Dimana asuransi tersebut membantu petani ketika mengalami gagal panen baik akibat musim kemarau maupun bencana alam seperti ketika tiba, petani tidak mengalami kerugian.
“Sebenarnya kita sudah ada program yakni pemberian asuransi kepada petani namun hingga saat ini belum familiar kepada para petani,” tutupnya. (rhm)
Beras Bulog Menurun Selama Kemarau
