HOBI mengoleksi ikan cupang hingga menjadi ladang bisnis mulai ditekuni Abdul Kadir di 2017 lalu. Itu berawal dari ramainya pesanan dan permintaan yang datang.
Laporan: ARIF AL QADRY
Sebelum memulai bisnis ini, pria kelahiran Ujung Pandang 9 September 1980 bekerja sebagai buruh di perusahaan beton. Ada lima tahun lamanya, Abdul Kadir bekerja. Dia ditempatkan di bagian produksi. Tugas hari-harinya dari pukul 07.00 WITA sampai pukul 16.00 WITA mengolah lalu membuat beton di mesin cetak.
“Lima tahun saya bekerja saya mulai jenuh, kerja cuman itu-itu saja. Masuk pagi dan pulang sore. Apalagi saya ini masih kontrak, gajinya masih harian. Kalau ada pesanan kerja, tapi kalau tidak ada proyek pesanan bisa nganggur di rumah sampai dua minggu,” cetusnya.
Satu waktu, pesanan proyek pembuatan beton di tempat dia bekerja tidak ada yang masuk. Dengan terpaksa dia pun harus tinggal di rumah. Sementara uang tuk makan dan biaya lainnya sudah habis. Akhirnya dia pun memilih untuk belajar fokus kembangkan bisnis ikan cupangnya.
“Di rumah saya bingung mau kerja apa, proyek tidak ada masuk, panggilan dari tempat kerja belum ada. Langsung saya pikir bagaimana kalau saya jualan ikan cupang saja. Apalagikan sudah banyak pesana kemarin, kenapa tidak saya keluar ke pinggir jalan jualan,” katanya.
Semua stoples kaca ikan cupang hias miliknya yang ada di rumahnya dia bawa ke Jalan Tun Abdul Razak. Di sana digelar jualan dengan seadanya. Stoplesnya disimpan di rak kayu. Hanya berselang berapa menit saja, ada yang singgah. Dari mulanya tanya-tanya sampai ada membeli.
“Saya langsung semangat dan berpikir ini peluang baru, bisnis yang menjanjikan dan harus saya lakoni. Memang banyak penjual ikan hias khususnya di Makassar, tetapi saya harus bertahan. Bersaing dengan sehat dan ambil strategi baik salah satunya memberikan harga murah dengan kualitas atau jenis yang sama,” tambahnya.
Mulanya, ikan cupang yang dijualnya berasal dari kota ini. Dia beli di Pasar Hobi di Jalan Toddopuli. Tapi harga tentu sangat mahal dan dinilai tidak cocok untuk dijual lagi. Akhirnya dia mencari jaringan pembelian ikan hias di Surabaya. Sebagai daerah pusat pembelian ikan hias yang murah, kualitas jenisnya juga baik.
Dan sampai sekarang ini, ikan cupang yang dijual di pesan langsung dari Surabaya. Harga ikan yang dijual terbilang cukup murah, seperti Ikan Cupang Halfmoon seharga Rp10 ribu, Giant dengan harga Rp25 ribu, Elboy Rp20 ribu, Kendi Lemo Rp35 ribu dan Serit seharga Rp25.
Adapun akuarium mini atau soliter dari Rp10 ribu sampai Rp25 ribu, tergantung ukurannya. Akuarium mini dibuat sendiri dengan modal peralatan yang cukup murah.
“Biarpun bisnisnya kecil-kecilan, tapi lumayan juga dari pada jadi buruh. Di sini saya mulai gelar lapak dari 09 pagi sampai 05 sore. Sehari bisa dapat 200 ribu sampai 500 ribu. Itu hitungan kotor karena belum di pisah dari modal,” lanjutnya.
Sekarang ini dari pendapatan jualan ikan cupang hias, Abdul Kadir mulai menabung. Dia ingin memiliki tempat khusus menjual ikan-ikan hias dan budi daya ikan hias.
“Kalau target sudah ada di mana saya mau membuat tempat budi daya ikan hias termasuk tempat penjualan khususnya,” ujarnya.(*)
