PENULIS: ANDI RUSTAN
KEMAJUAN teknologi dan dunia digital tak lagi bisa dibendung. Menyasar berbagai sektor kehidupan pada banyak dimensi. Akrab bagi para kalangan remaja, yang kini lebih dikenal sebagai generasi millenial.
Eksistensi mereka sangat erat kaitannya dengan penggunaan teknologi. Mulai dari mencari informasi, bermain hingga berinteraksi di media sosial. Hanya saja, kemajuan teknologi ini tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga bisa menimbulkan dampak negatif.
Tidak salah jika kemudian Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus berusaha memberikan informasi, dan mengedukasi para millenial itu agar dapat menjadi remaja yang berprestasi dan berkualitas, memanfaatkan media daring agar dapat lebih dekat dengan para remaja.
Sejatinya, remaja adalah calon generasi penerus bangsa. Namun, mereka masih rentan dengan permasalahan-permasalahan, seperti putus sekolah, masalah seksualitas (hamil diluar nikah), hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Remaja dalam kondisi ini tentu saja membutuhkan penanganan serta informasi seluas-luasnya mengenai kesehatan reproduksi, pentingnya menata masa depan yang baik dengan meninggalkan perilaku yang tidak bermanfaat dan merusak masa depan remaja itu sendiri.
Menjalani kehidupan remaja yang jauh dari perilaku seks bebas, pernikahan dini dan ketergantungan pada obat-obatan terlarang, serta menjauhkan diri dari bahaya AIDS, tentulah membutuhkan perhatian kita semua. Remaja tidak bisa berjalan sendirian tanpa pendampingan
orang tua, masyarakat lingkungan serta negaranya.
Salah satu program BKKBN yang diharapkan menjadi sahabat millenial adalah Generasi Berencana (Genre). Program ini diharapkan menjadi jembatan bagi mereka untuk belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja. Mulai dari pendidikan yang terencana, berkarir dalam pekerjaan yang terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai dengan siklus kesehatan reproduksi. Juga mempersiapkan kehidupan berkeluarga.
Secara umum, Genre yang menjadi program ketahanan remaja memberikan informasi ramah remaja, dan membantu mengarahkan mereka menuju kehidupan yang lebih baik dan terencana. Terhindar dari tiga masalah remaja, yaitu seksualitas, Napza, dan HIV/AIDS.
Selain itu, remaja juga diarahkan agar dapat melewati lima transisi kehidupan remaja yaitu melanjutkan pendidikan, melanjutkan pekerjaan, membangun keluarga kecil bahagia sejahtera, melakukan sosialisasi di masyarakat, dan mempraktikan pola hidup sehat.
Keberadaan GenRe Indonesia, juga mendukung pelaksanaan
nawacita dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia
(SDM), dan membentuk karakter bangsa melalui revolusi mental.
GenRe Indonesia, menjadi wadah bagi remaja untuk menyongsong Indonesia emas 2045 dan mempersiapkan remaja dalam meningkatkan kemampuan ekonomi bagi remaja dalam bonus
demografi.
Geberadaan Genre dengan anggota berjumlah jutaan remaja yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, telah sah menjadi sebuah lembaga independen, yaitu Yayasan Genre Indonesia. Kehadirannya diharapkan mampu menjadi wadah kolaborasi dan wadah partisipasi bagi remaja untuk mengembangkan minat dan bakatnya.
Remaja Indonesia yang saat ini sangat dekat dengan dunia digital atau jaringan internet, juga dekat pada situasi yang menguntungkan
maupun merugikan. Satu di antara bahaya yang mengancam adalah mudahnya remaja menjadi target berita hoax dan ikut menyebarkannya.
Selain itu, ada hal yang tidak kalah berbahaya bagi remaja Indonesia, yaitu pola konsumtif remaja yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan kemandirian ekonomi oleh remaja itu sendiri. Sehingga, banyak generasi muda yang bangkrut dan harus hidup dengan menutupi utang-utangnya.
Hal ini terjadi karena tuntutan akan aktualisasi diri, di mana remaja menjadi over konsumtif hanya untuk diakui oleh kelompok atau
kalangannya. Padahal, sebagai generasi berencana, remaja harusnya merencanakan hidup yang baik bagi dirinya, agar di masa yang akan datang tidak ada penyesalan.
Melalui genre, remaja diberikan ruang tumbuh, belajar dan juga berproses menjadi seorang individu yang tangguh dan dapat bertahan dari kerasnya arus globalisasi. Melalui kegiatan yang ramah remaja dan juga kegiatan fun learning, mereka diajak untuk memahami informasi dengan cara-cara atau metode yang menyenangkan.
Sehingga informasi yang diterima dapat tertanam dalam kehidupan sehari-hari dan juga dapat disampaikan kepada remaja lainnya.
Negara yang kuat serta memiliki kecerdasan sprititual, intelektual serta emosional yang kuat menjadikan bangsa tersebut kelak akan kuat pula.
Untuk menjalankan niat mulia tersebut, tentulah memerlukan strategi yang jitu, berkesinambungan serta melibatkan banyak pihak, baik dari institusi pendidikan sebagai tempat berkumpulnya aktifitas remaja dan pemerintah daerah sebagai pendukung dan pemegang kebijakan di suatu daerah.
Di sinilah pentingnya BKKBN memiliki public relation (PR) yang terencana, baik itu menyangkut komunikasi ke dalam maupun komunikasi ke luar. Dengan begitu, diharapkan mampu menjadikan program Genre berjalan dengan sukses.
Sasaran program Genre adalah remaja usia 10-24 tahun dan belum menikah. Mahasiswa/mahasiswi yang belum menikah. Keluarga yang memiliki remaja, serta masyarakat yang peduli terhadap remaja.
Mereka ini harus masuk dan terlibat langsung dan memahami pentingnya tujuan dari program yang dilaksanakan.
Pendekatan yang dilakukan BKKBN selama ini adalah dengan melibatkan pihak sekolah dan kampus. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan Genre dengan komunitasnya, yaitu remaja sekolah dan mahasiswa.
Program yang telah berjalan selama ini tentulah harus mendapatkan dukungan dari semua pihak, baik itu dari guru dan kampus di mana remaja dan mahasiswa itu beraktifitas. Hasilnya, Genre mendapatkan sambutan positif. Pelibatan anak sebaya sebagai duta Genre telah ditempuh. Juga melalui pembekalan-pembekalan serta modul-modul yang sesuai dengan usianya.
Pusat Informasi Konseling-Remaja/mahasiswa (PIK-RM) juga menjadi salah satu strategi pendekatan terhadap remaja dalam program Genre. Lembaga ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang banyak untuk memberikan informasi serta wadah konsuling bagi remaja sekolah dan mahasiswa.
Hal itu penting, karena remaja sebagai peralihan dari usia anak anak seringkali diperhadapkan pada persoalan-persoalan yang membuat mereka ingin serba tahu dan mencoba banyak hal. Perubahan psikis maupun biologis yang dialami remaja terkadang membuat mereka dihadapkan pada persoalan pada siapakah remaja mengadu serta bertanya akan yang menyangkut pubertas serta hal yang berbau seks.
Sikap sebagian masyarakat, khususnya orang tua yang tabu membicarakan seks, juga membuat remaja seringkali salah langkah dan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang ada dalam benaknya.
Banyaknya konten-konten dewasa saat ini seringkali menjadi rujukan atas pertanyaan-pertanyaan remaja, yang tentu saja justru seringkali menjerumuskan mereka pada jawaban-jawaban yang salah.
Langkah BKKBN untuk terus melaksanakan program Genre serta PIK-R/M tentulah sangat tepat untuk menjawab serta menjadikan rujukan bagi pencarian jawaban-jawaban remaja dengan segala persoalannya. (*)
