SETELAH sukses kini Ramdiah Mustam sudah bisa membagikan rezeki ilmunya kepada pengusaha muda di Makassar.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Dalam usaha pembuatan kemasan produk, Ramdiah sudah mempekerjakan 10 orang karyawan. Bahkan Ramdiah telah mengantongi omzet ratusan juta per bulan.
Menurut wanita berkulit putih dan berkacamata ini, selain membantu pelaku bisnis UKM membuat kemasan, ia juga suka membantu UKM-UKM yang mengalami kesulitan dalam hal pembuatan kemasan produk, konsultasi pembuatan kemasan, konsultasi ijin usaha, ijin sertifikasi halal, membuat barcode dan lain sebagainya.
“Saya merasakan pernah ada di posisi mereka jadi tahu masalah dan kendalanya dimana. Saya punya pengalaman itu, kenapa tidak saya berbagi dan bantu UKM mereka untuk bisa maju, karena UKM sebenarnya ini butuh didukung dan dorong kok,” ungkapnya kepada penulis.
Kini bisnis kemasan produk yang dijalankan Ramdiah bersama suami telah berkembang pesat. Biasanya, ia akan kebanjiran order setelah memasuki bulan Ramadan, saat memasuki semester kedua hingga akhir tahun untuk tiap pesanan kemasan produk miliknya.
“Sebenarnya omset sebulan itu saya kisaran Rp30-50 juta. Nanti saat ramadan pemintaan sangat banyak. Kemasan paling banyak permintaan yakni kemasan pangan,” bebernya.
Ia pun aktif dalam memberikan penyuluhan melalui Dinas Perdagangan ataupun Perindustrian.
“Kita boleh saja mau dapat untung, tapi saya selulu tekankan bahwa kemasan produk kita itu harus yang ramah lingkungan. Kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman usaha dengan pebisnis lainkan itu jauh lebih bagus dan bisa saling membantu kan,” jelasnya.
Wanita kelahiran Makassar 12 April 1979 ini, sempat menceritakan, awalnya ia bersama suami memulai usaha sebagai pengusaha makanan pada tahun 2010. Namun dirinya merasa untuk menjadi pengusaha makanan perlu modal yang banyak dan mampu saingan. Olehnya itu, ia banting setir untuk mencoba terobosan baru dengan mengembangkan bisnis kemasan produk.
“Pertama kali saya membuka usaha makanan bareng suami, sebab dulu saingan masih sedikit. Beda dengan sekarang, keuntungan usaha makanan masih ada tapi sudah tidak seperti dulu. Olehnya itu, saya buat kemasan produk usaha makanan saya sendiri namanya Oshin Amanah. Tapi banyak yang bertanya dan berminat dengan kemasan produk saya waktu itu,” ungkapnya ditemui di Hotel Dalton Makassar.
Dari kacamata ibu tiga orang anak ini, bahwa yang mempengaruhi pemasaran adalah kemasan produk. Kemasan produk yang unik dan menarik dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pembeli saat memilih produk tertentu. Hingga akhirnya di tahun 2012 dirinya membuat terobosan baru dengan membuat kemasan produk yang unik untuk mengemas produk makanan yang dijual. Dari situlah mulai banyak orang melirik hasil kemasan produk yang dibuatnya bersama suami.
“Saya juga masuk UKM Makassar bantu-bantu dulu UKM buat kemasan produk, supaya saya bisa masukki pasar-pasar modern. Karena untuk lulus packingan produk juga tidak mudah,” bebernya.
Sejak saat itulah, Ramdiah bersama suaminya bertekad untuk mulai mengembangkan bisnis kemasan produk dalam skala kecil untuk memenuhi permintaan UKM. Ia memulai bisnisnya dengan mengeluarkan modal usaha sebesar Rp12 juta saja. Modal awal ini digunakan untuk membeli 3 mesin pembuat kemasan produk.
“Saya bisa katakan usaha kecil-kecilan, sebab budget juga minim, kalau buat kemasan produk pasti mikir-mikir budget. Jadi hasil usaha saya kemarin itu, saya gunakan beli mesin dan alat lainnya,” katanya.
Kemasan produk yang dibuatnya menggunakan bahan stand-up pouch, paper bag, alumunium foil, packaging machine, plastic vakum, dan sebagainya.
Dirinya menjual harga kemasan produk buatannya, mulai dari yang termurah untuk ukuran sachet antara lain Rp2.500 sampai dengan Rp16.000 per sachet. Sedangkan untuk kemasan produk termahal adalah kemasan dengan jenis komposit yang berada pada kisaran harga Rp20.000 per kemasan.
“Semua tergantung permintaan dan kita sesuaikan dengan budget pelanggan. Karena saya punya list sendiri karena tentu kemasan produk juga punya minimal pesanan,”ucapnya.
Selain itu Ramdiah juga menjamin kemasan produk hasil buatannya memiliki harga yang jauh lebih murah dibanding dengan harga dari pabrik. Pemesanan dengan jumlah minimal pemesanan sebanyak 10.000 lembar, jika di pabrik dipatok di atas angka Rp200 juta. Namun dirinya bisa jauh lebih murah dan bisa melakukan nego, sehingga tidak heran banyak UKM yang meminta jasanya. (*)
