BERKAT kerja keras dan strategi pemasaran yang cerdas, Katering Seruni mendapat tempat di hati warga Makassar dan Sulsel umumnya.
Laporan: RAHMA AMRI
Boleh dikata, hingga saat ini, katering yang berkantor pusat di Jalan Bau Mangga itu merajai atau mengusai pangsa pasar katering di Sulsel.
Pasangan suami-istri, Andi Buana Pati dan Hj Yusniar Arifin, owner Katering Seruni hingga saat ini terus mengepakkan sayapnya di bisnis kuliner.
Dari awalnya, hanya memiliki tiga karyawan saat baru merintis usaha, kini telah mempekerjakan lebih dari 270 orang di berbagai cabang yang tersebar mulai Makassar dengan tiga cabang, Bone, Palopo, Parepare dan Bulukumba.
Di puncak usahanya, sekitar tahun 2014, dalam sehari, Katering Seruni bisa menerima 40 orderan untuk berbagai hajatan dengab omset bisa mencapai Rp2 miliar sebulan.
Katering yang awalnya hanya mengandalkan angkutan kota maupun becak untuk mengantar makanan, kini sudah memiliki 30 mobil box.
Untuk menjaga kualitas makanan yang akan disajikan kepada para konsumen, sang isteri tetap terjun langsung di dapur. Bukan untuk memasak, karena saat ini dia sudah memiliki puluhan tukang masak atau koki, namun sebagai quality control memastikan semua menu yang diorder pelanggan berkualitas baik.
Namun sayang, saat ini, usaha katering sedikit mengalami kelesuan. Pasalnya, hotel-hotel sudah banyak yang menawarkan paket pernikahan lengkap dengan kateringnya.
“Jadi pasar katering banyak diambil alih oleh hotel,” ungkap Andi Buana Pati.
Tidak mau tinggal berpangku tangan melihat perubahan yang terjadi, pasangan suami isteri itu melakukan diversifikasi usaha. Temanya masih seputar bisnis kuliner. Namun bukan katering. Sejak dua bulan lalu, mereka mencoba membuka warung makan rumahan. Berbagai menu rumahan disajikan setiap hari, mulai pagi hingga malam. Seperti ikan bakar, pallumara, pallu kaloa, perkedel jagung dan perkedel udang, oseng-oseng, sayur sup, cumi masak hitam, dan masih banyak lagi.
Setiap hari, menu yang ditawarkan bervariasi. Jenis sayur bisa sampai lima macam.
“Dalam sehari, menu yang dimasak bisa mencapai 20 jenis atau lebih,” ungkap Yusniar.
Ternyata, animo masyarakat untuk datang menikmati aneka menu yang disajikan di rumah makan tersebut cukup besar. Malahan, jika kita datang ke saja saat jam makan, kadang tidak kebagian tempat duduk.
Karena peluang untuk berkembang cukup besar, menurut rencana, rumah makan sejenis juga akan dibuka di beberapa tempat. Seperti di Tamalanrea dan Bonto Duri.
Selain menjaga kualitas menu yang disajikan, rahasia sukses pasangan yang telah memiliki dua anak ini adalah terus berbagi ke sesama lewat zakat atau sedekah.
Diketahui, katering yang dirintis sejak 2001 oleh pasangan Hj Yusniar Arifin dan H Andi Buanapati ini malah sudah punya cabang di berbagai daerah. Diantaranya Pangkep, Parepare, Bone, dan beberapa daerah lainnya.
Siapa sangka, jika Katering Seruni ini dibangun dengan banyak suka dan duka.
Yusniar mengatakan, awal merintis usaha, modalnya sangat terbatas.
“Modalnya Rp1 juta. Peralatan untuk masak pun pinjam dari saudara,” ungkap Yusniar.
Kebetulan, iparnya sudah lebih dulu merintis usaha katering, yakni Glory.
Bersama sang isteri, dia merasakan kerasnya perjuangan menggunakan becak atau petepete membeli bahan untuk dimasak. Awalnya, Yusniar dan isteri hanya melayani rantangan.
Keputusan untuk melakoni bisnis katering bukan tanpa alasan. Awalnya, Yusniar menggeluti beberapa bisnis. Seperti jual beli kendaraan dan percetakan. Namun, usaha itu tidak terlalu sukses.
Diputuskanlah untuk banting setir ke usaha katering karena sang isteri hobi masak.
Ia mengatakan yang menjadi tantangan baginya untuk melayani pelanggan yakni permintaan dan selera mereka yang berbeda-beda.
“Soalnya beda-beda selerahnya, ada yang mau begini dan ada mau dibawahkan jam segini. Akhirnya sebulan setelah itu saya tetapkan brand,” bebernya.
Barulah tahun 2005, satu persatu pesanan mulai datang. Diapun mulai berani mengorder makanan untuk hajatan pesta.
Dengan mengandalkan kualitas dan kepuasan pelanggan, usaha tersebut makin mengepakkan sayapnya.
Saat bisnis katering ini berada di puncak bisnis, Yusniar mengatakan. Dirinya pernah meraup omset hingga Rp1 miliar sebulan.
Soal penamaan Katering Seruni, ungkap Yusniar, alasannya karena bunga seruni tidak pernah layu siang dan malam. “Makanya hijau dan kuning itu tetap berseri,” tutupnya. (*)
