Site icon Berita Kota Makassar

Sadarkan Masyarakat Kurangi Penggunaan Sampah Plastik

MAKASSAR, BKM– Indonesia termasuk sebagai negara kedua di dunia setelah Cina penyumbang sampah plastik terbesar di laut. Kondisi itupun menjadi persoalan yang serius bagi masyarakat.
Oleh karen itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar melalui Sekretariat DPRD Kota Makassar menggelar dialog bersama warga di Kecamatan Bontoala, Jalan Tinumbu Raya, akhir pekan lalu.
Dengan mengusung tema pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan, dialog ini menghadirkan sejumlah narasumber seperti Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Iskandar, Anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Makassar Andi Pahlevi dan Akademisi UNM, Rusdi.
Adapun yang disampaikan Anggota Komisi C Bidang Pembangunan, Andi Pahlevi, jika produksi sampah di Makassar selalu berakhir di TPA Antang.
Beragam jenis sampah yang digunakan seperi dari botol plastik, dan kantong kresek plastik. Hasilnya pun selalu berakhir di TPA yang diangkut oleh truk sampah.
“Melalui kegiatan ini paling tidak, kami memberikan informasi ke masyarakat bahwa persoalan sampah itu seperti ini, jangan terlalu sering membuang sampah, jangan terlalu sering memproduksi sampah sekarang juga saya lihat kita lihat sama-sama di kawasan komersil itu sampah sudah mulai dipisah,” ujarnya.
Menurutnya, pengurangan penggunaan sampah khusus sampah plastik sangat dimungkinkan dengan cara yaitu meninggalkan pola lama membuang sampah plastik dan langsung masuk ke TPA.
“Kita harus bisa memilah jenis sampah, mana yang bisa kita manfaatkan dan bernilai ekonomi. Jadi kita mulai bisa meninggalkan pola lama yang langsung buang di TPA. Ada sampah plastik dan sampah organik dan sampah lainnya itu juga salah satu upaya bagaimana bisa meminimalisir sampah sampah yang kita semua produksi,” sambungnya,” tambahnya.
Sementara itu, Akademisi Universitas Negeri Makassar, Rusdi mengatakan, untuk meminimalisir penggunaan sampah plastik ada beberapa langkah yang dapat ditempuh, salah satunya adalah ecobrick atau pengganti batu bata yang bernilai ekonomis.
Untuk membuat ecobrick, kata Rusdi bisa menggunakan botol plastik sebagai medianya. Lalu memasukkan sisa-sisa sampah, mulai dari jenis sampah halus hingga sampah yang berbahan kasar.
Kemudian sisa sampah yang dikumpulkan, dimasukkan kedalam botol hingga memiliki berat dan bobot yang sama.
“Mengolah ecobrick, pengganti batu bata menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Dia mengandung Zat metan, supaya tidak keluar. Itu juga merupakan salah satu langkah yang ramah lingkungan dan dapat nilai ekonomis juga,” lanjutnya. (arf)

Exit mobile version