MAMUJU, BKM — Capaian ekonomi Provinsi Sulbar ditriwulan III 2019 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga berlaku mencapai Rp11,95 triliun dengan dasar harga konstan 2010 telah mencapai Rp8,44 triliun.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Perwakilan Sulbar, Winrizal, SE, memaparkan, secara kumulatif pada triwulan I sampai III 2019 jika dibandingkan kondisi yang sama tahun 2018, maka saat itu ekonomi Provinsi Sulbar tumbuh 4,89 persen. Dan pertumbuhan tersebut terjadi pada sisi lapangan usaha adalah informasi, komunikasi, dan konsumen pada pengeluaran tertinggi adalah komponen konsumsi sebesar 11,21 persen.
”Pada wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua, pertumbuhan ekonomi wilayah yang mengalami tertinggi pada triwulan III 2019 terjadi di Papua sebesar 13,90 persen. Dan untuk pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Sulawesi pada triwulan III 2019 terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 7,21 persen. Maka pada masing-masing posisi ketiga dan tujuh untuk kawasan Sulampua dan secara kumulatif hingga triwulan III 2019, maka pertumbuhan ekonomi berada di Sulawesi Selatan,” ungkap Winrizal kepada wartawan di ruang pola kantor BPS Perwakilan Sulawesi Barat, Selasa (5/11).
Untuk kondisi ekonomi konsumen pada triwulan III tahun 2019 di Sulawesi Barat telah memperlihatkan ada peningkatan dibandingkan pada tahun sebelumnya dan dicapai 106,34 persen. Maka dalam proses pada pertumbuhan konsumen telah memperlihatkan peningkatan di Dibandingkan pada triwulan sebelumnya dan nilai indeks di atas 100 persen. Meski ekonomi membaik, namun pada level optimisme konsumen ditriwulan ini menurun 15,14 poin dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara nilai ITK di Sulawesi Barat berada diurutan ke 2. ITK tertinggi sebesar 110,83 berada di Sulawesi Utara dan terendah berada di Papua Barat sebesar 97,70.
Sementara dibulan Agustus 2019 pada tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Barat sebesar 3,18 persen. Tingkat partisipasi angkatan kerja pada TPAK di Sulawesi Barat dibulan Agustus 2019 sebesar 69,27 persen. Hal ini berarti, dari 100 penduduk usia kerja sekitar 69 orang tergolong angkatan kerja penduduk yang bekerja dan pengangguran.
”Untuk jumlah penduduk yang menganggur pada Agustus 2019 sebanyak 21,060 orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 3,18 persen. Hal ini berati, dari 100 penduduk yang dikategorikan angkatan kerja ,sekitar 3 orang adalah pengangguran. Sedangkan lapangan usaha pertanian merupakan penyerap terbesar tenaga kerja terserap di Sulawesi Barat pada bulan Agustus 2019. Maka jumlah pekerja pada Agustus 2019 sebanyak 297.370 orang atau sebesar 46,35 persen dari jumlah penduduk yang bekerja,” ucap Winrizal.
Adapun pekerja yang terserap di Sulawesi Barat didominasi pekerja pendidikan rendah (SLTP ke bawah). Yaitu sebanyak 40.500 atau sekitar 24,46 persen dan memiliki pendidikan tinggi (diploma dan PT ) sebanyak 78.200 orang atau 12,18 persen.
Perkembangan tingkat pengangguran terbuka di perkotaan dan pedesan, terlihat perbandingannya terhadap Agustus 2019. Tingkat pengangguran melihat dari perbandingannya terhadap pada bulan agustus 2019 maka pada maka tingkat pengangguran terbuka di perkotaan sebesar 4,30 persen, dan tingkat pengangguran terbuka di pedesaan hanya 2,89 persen dibandingkan setahun yang lalu. Ini menunjukkan terjadi penurunan tingkat pada pengangguran di perkotaan sebesar 1,81 persen poin. Sedangkan pada tingkat pedesaan terjadi peningkatan pengangguran sebesar 0,46 persen poin.
Pada Agustus 2019, status pekerjaan di Sulawesi Barat adalah pekerjaan buruh/ karyawan sebanyak 170,900 atau sekitar 26,64 persen kemudian buruh tidak tetap pekerjaan pada posisi terkecil. Yakni hanya sebesar 1,85 persen atau sebanyak 11.890. (Alaluddin)
Tingkat Pengangguran Terbuka di Sulbar Capai 3,18 Persen
