MAKASSAR, BKM — Jelang pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan imbauan ke warga Sulsel. BMKG meminta untuk waspada terhadap angin kencang dan petir, yang bakal melanda sebagian besar wilayah Sulsel, utamanya di Kota Makassar.
Seperti yang dikatakan prakirawan BMKG wilayah IV Makassar, Rizky Yudha, saat dikonfirmasi, Kamis (7/11). Ia mengakui, angin kencang dan petir sudah seringkali terjadi di awal-awal masuknya musim penghujan ataumenjelang peralihan musim seperti saat ini.
Peralihan musim dari musim panas ke musim hujan, kata Rizky, biasanya di awali dengan terjadinya hujan lokal. Seperti yang terjadi dalam beberapa hari ini, di sebagian wilayah kota Makassar.
“Saat musim peralihan seperti sekarang ini, biasanya terjadi hujan lokal dengan intensitas ringan,” kata Prakirawan BMKG wilayah IV Makassar, Rizky Yudha.
Namun walapun intensitas hujannya ringan, menurut Rezky, perlu juga diwaspadai. Sebab intensitas hujan yang terjadi itu biasanya disertai dengan kilat/petir.
Serta angin kencang, dalam durasi yang singkat. Dimana kemungkinan dapat mengakibatkan pohon tumbang dan dapat mengganggu kesehatan.
Tak hanya itu saja, ujar Rizky, hujan yang disertai angin kencang, juga dapat mengancam nelayan yang mencari ikan dengan menggunakan kapal kecil. Karena tinggi gelombang air laut dapat diperkirakan bisa mencapai 2,5 meter.
“Jadi kami mengimbau agar waspada angin kencang pada saat musim peralihan. Apalagi musim hujan di Sulsel mulai Oktober 2019- Maret 2020,” ujarnya.
Sementara itu, untuk mengantisipasi bencana akibat musim hujan, Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah, mengeluarkan surat imbauan kepada bupati dan wali kota se-Sulsel.
Melalui surat bernomor 557.2/7835/BPBD yang ditandatangani Sekda Sulsel, Abdul Hayat Gani, bupati dan walikota diminta mengantisipasi puncak musim hujan antara bulan November 2019- Januari 2020.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel, Syamsibar mengatakan musim hujan bisa mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor.
“Imbauan seperti ini rutin setiap tahun disampaikan, apalagi jelang puncak penghujan. Tujuannya agar kepala daerah dan jajarannya termasuk TNI/Polri serta masyarakat bisa mengantisipasi sejak dini,” kata Syamsibar, via telepon, kemarin.
Secara khusus, dalam surat edaran tersebut bupati dan walikota diminta membuat sistem peringatan dini bagi masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana.
“Misalnya di dataran rendah yang ada sungai, kita minta ada kesiapsiagaan. Kalau sudah hujan deras dalam waktu lama di daerah hulu, harus ada peringatan dini,” jelasnya.
Kepada jajaran pemerintah, utamanya BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Basarnas dan TNI/Polri, Syamsibar berharap mulai meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah mengajak seluruh masyarakat, terkhusus pemerintah kabupaten/kota untuk bersiap-siap menghadapi musim hujan. Melakukan langkah antisipatif mencegah terjadi banjir.
Salah satunya, dengan membersihkan saluran drainase dari sampah yang bisa menyumbat aliran air. Selain itu, bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, diminta untuk senantiasa waspada.
Khusus pemerintah kabupaten/kota, terutama instansi terkait hingga ke perangkat desa, harus stand by melihat kondisi di sekitarnya. Begitu ada tanda-tanda akan terjadi banjir, bisa diantisipasi sejak dini.
“Banjir itu susah dicegah. Ketika frekuensi curah hujan cukup tinggi dan durasinya cukup lama, kemungkin bisa terjadi banjir. Jadi sejak dini mari kita antisipasi,” ungkapnya saat diwawancara kemarin. (rhm-mat)
