SUDAH 15 tahun Anto berada di Kota Makassar. Setelah tak lagi menjadi buruh tani di Brebes, kampung halamannya, pria berusia 47 tahun memilih untuk merantau di kota ini dengan berjualan cermin.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pria kelahiran 5 Juli 1972 mengadu nasib di Kota Makassar pada pertengahan 2004 lalu. Mulanya dia terima tawaran temannya untuk mengadu nasib sebagai pedagang.
Hanya dengan modal uang pas-pasan, diapun berangkat meninggalkan istri serta dua anaknya di kampung demi mencari rezeki dan nafkah buat keluarganya. Sebab di kampung halaman sudah sulit lagi mengharapkan panen dan menjadi buruh tani.
“Sebelum saya jadi penjual cermin, dulu saya hanya jadi buruh tani di kampung. Lahannya orang-orang saya kerjakan. Tapi lambat-laun, lahan itu dijual karena sering gagal panen dan akhirnya pemilik lahan menjualnya. Tak ada lagi lahan bisa saya kerja sampai di waktu bersamaan teman datang menawari saya ke Makassar untuk jualan cermin dan saya ikut dengan modal pas-pasan,” kisah Anto kepada penulis.
Meski usianya tidak lagi muda, tetapi semangat bekerja sangat tinggi demi memenuhi kebutuhan keluarga termasuk anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kala itu.
Di kota ini, Anto setiap hari berkeliling dari kelurahan ke kelurahan lainnya mencari rezeki dengan jualan cermin menggunakan gerobak. Berbagai macam ukuran cermin dia pajang di gerobaknya. Mulai ukuran panjang 117 cm lebar 43 cm, panjang 86 cm dengan lebar 40 cm sampai ukuran panjang 50 cm dengan lebar 30 cm. Cerminnya sudah di bingkai kayu.
“Harganya untuk ukuran panjang 117 cm lebar 43 cm itu seharga Rp 200 ribu. Ukuran panjang 86 cm dengan lebar 40 cm seharga Rp 150 ribu, dan untuk ukuran panjang 50 cm dengan lebar 30 cm seharga Rp 75 ribu,” ucapnya.
Setiap hari dimulai pukul 07:00 WITA sampai pukul 18:00 WITA, dia bekerja. Setiap hari ia berkeliling di kompleks, perumahan, hingga lorong-lorong menawarkan barang dagangannya. Dan kadang jarak berkilo-kilo meter tak terasa ditempuhnya hanya dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak berisi cermin.
Jalan kosong tanpa ada pembeli sudah sering dirasakan. Namun itu tidak membuatnya patah semangat. Tetap ia ikhlas dan berdoa adanya orang-orang menghampirinya membeli cerminnya.
“Kadang sedih kalau jalan berkilo-kilo meter tapi belum juga ada yang beli. Tapi saya tetap ikhlas dan yakin di mana akan ada rezeki lain hari. Kalau ada yang terjual, alhamdulillah karena bisa pakai untuk makan. Tapi kalau ada yang pecah kita yang tanggung hingga pendapatan dipotong,” sebutnya.
Di kota ini Anto bersama teman-temannya tinggal di Jalan Batua Raya 3, Lorong 1. Rumah kontrakan itu disediakan oleh bos pemilik modal cerimin yang dijual.
“Tidak ada gaji cuma bagi hasil saja. Kalau ada cermin yang laku, dapat persenan. Lumayan persenannya juga dalam satu cermin kalau laku. Apalagikan rumah tempat tinggal disediakan oleh bos,” tambahnya. (*)
