Pengamat politik Luhur Prianto menilai, proses menuju pemilihan wali kota Makassar semakin dinamis. Ketiadaan tokoh-tokoh baru yang cukup kuat, membuka akses yang luas bagi para tokoh lama untuk mencoba kembali peruntungan di kontestasi.
“Mereka memanfaatkan betul momentum kepemimpinan transisi untuk mendongkrak elektabilitas,” ujarnya kepada BKM, Selasa (12/11).
Tanpa menafikan pergerakan elektoral figur-figur baru, Luhur melihat setidaknya sudah ada poros kekuatan yang mulai mengerucut. Secara umum kekuatan tokoh-tokoh lama prospektif di kontestasi pilwali Makassar ini bisa dibedakan dalam empat poros utama.
Poros pertama, kata dia, ada mantan petahana Moh Ramdha Pomanto (DP), yang telah memiliki kekuatan elektoral dan kinerja kepemimpinan yang sudah terukur. Kekuatan DP dinilai masih sangat layak diperhitungkan dengan pengalaman kontestasinya.
Meskipun tantangan utama bagi DP adalah di proses kandidasi atau seleksi di partai politik. Ia disebut punya pengalaman buruk soal ini. Aksesnya terbatas ke elit partai politik tingkat nasional.
Dia melanjutkan, poros kedua ada Syamsu Rijal atau Deng Ical (DI). Mantan wakil wali kota Makassar ini punya keistimewaan untuk menggunakan basis elektoral jejaring politik Ilham Arief Sirajuddin (IAS).
Basis politik yang cukup spartan. Tantangan pada DI juga ada di soal merebut usungan partai politik. Ical harus punya kekuatan non-politik untuk diusung Partai Golkar dan mencukupkan syarat dukungan partai. DI perlu pasangan yang kuat guna membantunya merebut kendaraan partai politik.
Poros ketiga, tambahnya, ada Munafri Arifuddin. Appi punya pengalaman merebut dukungan elit partai politik. Meskipun jejaring elektoralnya harus lebih kokoh untuk tidak mengulangi peristiwa kemenangan kotak kosong. Appi harus menjaga basis dukungan partai sekaligus memperluas basis dukungan pemilih.
Poros keempat yakni Irman YL atau None. None punya pengalaman kontestasi di pilwali. Ia paham peta dukungan. Hanya saja None harus menaklukkan tantangan sebagai penerus klan YL, yang kali ini tidak lagi bisa memanfaatkan mesin birokrasi.
Di luar figur-figur itu, masih tersedia tokoh yang cukup potensial. Terutama untuk posisi sebagai calon wakil wali kota. (rhm/rus)
Empat Poros Utama dan Tantangannya
