MAKASSAR, BKM–Warga di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar yang berada di sekitar pabrik di Kawasan Industri Makassar (KIMA) seringkali mengalami kesulitan air bersih. Kesulitas air bersih mulai dialami sejak 2006.
Oleh karena itu, mereka berharap Pemerintah Kota Makassar, PDAM Kota Makassar untuk bisa memikirkan solusi yang tepat agar warga tidak lagi kekurangan air bersih. Mereka juga meminta perusahaan di sekitar KIMA bisa memberikan fasilitas air bersih kepada warga yang berada di sekitar pabrik.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Untia, Dinasuddin Bundu, mengatakan, sejak kemarau kemarin warga mengaku kesulitan mendapatkan air bersih. Hal itu terjadi lantaran PDAM hanya memiliki satu pipa.
“Kita satu pipa dengan industri. PDAM hanya punya satu pipa. Bagaimana masyarakat bisa menikmati air bersih sementara mesin industri sangat besar. Dia lebih banyak menarik air dibandingkan kita. Pembuktian ini terjadi ketika pihak industri libur, kita bisa mendapatkan air bersih sampai ke lantai 2,” katanya saat ditemui di Kelurahan Untia, Minggu (17/11).
Ia juga bercerita bahwa masyarakat Untia menikmati air bersih mulai tahun 1998 hingga 2006. Sejak itu masyarakat sulit mengakses air bersih.
Ia pun berharap PDAM mempercepat pemasangan pipa induk ke masing-masing rumah lantaran pipa yang ada saat ini sudah terhubung dengan rumah masyarakat.
“Sisa pipa induk yang belum sampai ke sini dan saya lihat, pemasangan sudah sampai di Kima, PDAM sudah membangun bak penampungan yang terbesar,” ungkapnya.
Saat ini, masyarakat Untia mendapat pasokan air bersih dari PDAM sebanyak 10 tangki per bulan sehingga masyarakat harus antri dan membawa jerigen tiap pasokan air datang.
“Satu keluarga kalau ada pembagian kita kasih 10 jerigen per kepala rumah tangga. Misalnya, hari ini blok A, besok B, dan lusa C sampai E. Pihak PDAM datang 5 kali per bulan tapi 5 blok juga. Jadi 1 blok hanya mendapat 2 tangki per bulan,” ungkapnya.
Ia mengaku miris dengan kehidupan masyarakat Untia lantaran harga air bersih dua ribu per jerigen. Sementara, kata dia, kebutuhan masyarakat per keluarga minimal 40 jerigen per hari.
“Jadi mereka harus mengeluarkan biaya ekstra Rp80 ribu per hari. Sementara kehidupan mereka hanya hidup dari buruh bangunan dan nelayan,” paparnya.
Adapun Kepala rumah tangga di pemukiman Untia kurang lebih 400 Kepala Keluarga. Untuk itu, ia berharap, janji Direktur PDAM untuk diwujudkan, jangan hanya sekadar harapan semu.
Menyikapi hal itu, Humas Perusahaan Air Minum Kota Makassar (PDAM), Muhammad Rusli mengaku, sampai saat ini air bersih memang masih sulit sampai di Kelurahan Untia. Namun, ia telah menyiapkan armada tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kita suplai menggunakan armada mobil tangki sambil PDAM melakukan perbaikan supaya suplai air bisa sampai di Untia ini. Intinya bagaimana air sampai di sana,” pungkasnya.
