TIDAK cuma melakoni bisnis Bakso Aci dan Cireng. Nurdiana ternyata masih tercatat sebagai karyawan di perusahaan jasa pengiriman barang atau dokumen. Meski harus menjalani dua rutinitas yang berbeda dan bertolak belakang, namun baginya itu bukanlah hambatan.
Laporan: ARIF QADRY
Pasangan Muh Amin dan Mummu patut berbangga pada anak perempuannya yang satu ini. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini telah memberikan inspirasi bagi orang sekelilingnya, khususnya anak-anak muda.
Bahkan berkat kreativitasnya dan keuletan membuka bisnis Bakso Aci dan Cireng dengan merek Dapur Ala Denn, dia dapat membantu menumbuhkan ekonomi di keluarganya menjadi sehat dan terus membaik.
Nurdiana adalah perempuan yang lahir di Ujung Pandang 10 April 1995. Bisnis penganan dan makanan berat mulai dirintis pada Februari 2017. Hingga sampai sekarang ini, bisnisnya masih bertahan.
Agar bisnis yang dijalankan itu bisa berkembang, diapun memutar otak. Caranya dengan melamar pekerjaan. 15 Oktober 2018, dia diterima bekerja di perusahaan jasa pengiriman barang dan dokumen.
“Beberapa minggu awal saya bekerja, saya akui rasanya super sibuk. Sepulang kerja istirahat sebentar kemudian mengurus lagi bisnis. Saya bikin adonan agar besoknya sudah bisa di jemput sama pemesan. Begitu seterusnya sampai sekarang ini. Kerja selaligus menjalankan bisnis,” katanya.
Industri rumahan yang sudah berjalan tiga tahun cukup menjanjikan. Sebab masih jarang orang-orang yang bisa membuatnya. Selain itu, modal kerja pembuatan bakso aci dan cireng terbilang cukup minim, dengan tawaran keuntungan yang menggiurkan.
Harga bakso aci dan cireng ditawarkan juga terjangkau. Seperti untuk bakso aci yang terbagi tiga varian, yaitu bacinal atau bakso aci original harga Rp15 ribu, baciju atau bakso aci isi keju harga Rp18 ribu, dan bacis atau bakso aci isi sosis harga Rp18 ribu. Sedangkan cireng bumbu rujak dan cireng kuah seharga Rp15 ribu per bungkus dengan isi sepuluh.
Perempuan yang karib disapa Diana juga memberikan potongan harga bagi resellernya yang ingin menjual kembali produk olahannya. Minimal pesan 10 bungkus, dapat potongan Rp 3 ribu per bungkus. Bakso aci dan cirengnya dia promosikan melalui media sosial (medsos) intagram @dapuraladenn_01 dan pesanan melalui pesan WhatsApp (WA).
“Dalam sehari bisa laku terjual 45 bungkus per hari. Dan soal keuntungan bisa dapat sekitar Rp2 juta. Buka dari pukul 07.00 pagi. Untuk pengambilan pesanan itu sekitar pukul 16.00 sore sampai pukul 22.00 malam. Pengantaran bisa dilakukan dengan jasa kurir online,” tambahnya.
Bisnis seperti yang dilakoni Diana juga tidak lepas dari kisah suka duka. Tetap ada. Di mana sering ada pesanan atau konsumen yang memesan namun tidak memberikan respon setelahnya. Tentu hal tersebut membuatnya rugi.
“Biasanya ada yang memesan dengan buat pesanan, tapi tanpa alasan jelas tiba-tiba di batalkan atau sama sekali tidak ada kabar (tidak ambil pesanan). Beruntung saja kalau ada pesanan selanjutnya mau ambil orderan batal itu, kalau tidak, yah tinggallah orderan ini. Tapi sukanya karena lebih banyak orang yang mau order bahkan disuruh buka orderan setiap hari. Sayangnya saya juga kerja, jadi hanya bisa terima pesanan saat waktu belum kerja atau hari libur kerja saja,” ujarnya.
Diana, begitulah orang-orang memanggilnya. Awalnya dia sama sekali tak berpikiran bisa menjalankan bisnis bakso aci dan cirengnya. Dari sekadar untuk konsumsi pribadi, lambat-laun menjadi konsumsi pasar hingga sampai sekarang ini.
“Awalnya saya cuma buat untuk konsumsi sendiri saja. Saya buat setelah dari makan di tempat bazar. Yang enak bagi saya itu cireng. Saya suka dan penasaran akhirnya beberapa hari kemudian saya cari resep di internet lalu saya buat. Hasilnya enak, orang-orang mencoba juga memuji dan menyarankan saya untuk bisnis saja, jadinya buka,” jelas Diana kepada penulis.
Beberapa minggu awal membuka usahanya itu, Diana hanya membuat beberapa bungkus saja. Meskipun di waktu itu sudah banyak permintaan, namun dia tetap masih berhati-hati.
Permintaan konsumen memesan bakso aci dan cireng olahannya cukup tinggi. Bahkan hanya sebulan saja dirinya sudah dapat mengembalikan modal kerjanya meliputi pembelian bahan sampai bungkus kemasan.
“Saya berpikir ini peluang bisnis yang baik, modal kecil, risikonya juga sudah pasti tipis dengan untung besar. Apalagikan masih banyak orang-orang yang belum bisa membuatnya,” ungkapnya.(*)
