MAKASSAR, BKM–Sejumlah bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Maros bisa jadi kuda hitam setelah dua politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yakni HAS Chaidir Syam dengan Hj Suhartina Bohari resmi berpasangan.
Meski keduanya dinilai cukup kuat dan keterpilihannya besar, tapi dinamika dilapangan bisa menjadi lain.
Salah satu penyebabnya karena keduanya sama-sama kader PAN sehingga potensi suara bersumber dari satu partai. Selain itu, tantangannya bagaimana dengan partai yang lain yang tidak ingin bergabung dalam koalisi. Pada survei terahir yang dilakukan LSI swing votter juga masih cukup besar sekitar 25 persen, apakah ini akan beralih atau akan ke Chaidir-Suhartina atau tidak.
“Apalagi kursi PAN di Maros berkurang, sementara yang naik adalah Golkar. Tentu ini juga salah satu pertimbangan perubahan dinamika,”ujar pengamat politik Dr Arief Wicaksono ketika menjadi pembicara pada diskusi Pilkada yang digelar Poros Pemuda Indonesia (PP) Sulsel di Warkop Cappo Jalan Alauddin Makassar, Rabu (27/11).
Diskusi yang mengambil tema Mencari penantang Chaidir – Suhartina di Pilbup Maros ini juga menghadirkan tokoh asal Maros Dr Rahmat serta peneliti dari Serum Institute Ahmad Amiruddin.
Dr Rahmat mengaku melihat pasangan Chaidir dan Suhartini sudah dikenal dan akrab dari sisi kekuatan, namun menurutnya masih ada kelemahan. “Fenomena yang ada di Maros mulai dari Pilkades, Pemilihan Bupati, Pemilihan anggota legislatif hingga Pilpres biasanya dalam prosesnya selalu panas, tapi jika ada pemenang nyaris tak pernah ada riak,”ujar Rahmat kemarin.
Terkait tema dengan kata mencari penantang, Ahmad Amiruddin dari Serum Institute membaca sumber daya dari beberapa lembaga memang diunggulkan, tapi masih terus berproses di masyarakat.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan di Maros, Ahmad Amiruddin memaparkan ada sejumlah nama yang disurvei. Pihaknya menampilkan pertanyaan bahwa jika Pilbup dikabupaten Maros digelar hari ini, siapakah calon bupati yang dipilih, maka jawabannya adalah Suhartina Bohari 19,5 persen, Muhammad Ramli Rahim 16,25 persen, Harmil Mattotorang 11.62, HAS Chaidir Syam 8 persen, Patarai Amir 5,87 persen, Nurhasan 4,5 persen, Ilham Nadjamuddin 3,25 persen. Tak hanya itu, Havid S Pasha 2 persen, Sudirman Sirajuddin 1,5 persen, Prof Yusran Yusuf 1,25 persen, AM Irfan AB 1,12 persen, Wawan Mattaliu 1 persen, Amirullah Nur 1 persen, Tajerimin 0,87 persen, Ardiansyah S Pawinru 0,5 persen, Devo Kaddafi 0,37 persen, Hasmin Badoa 0,25 persen H Sahiruddin 0,12 persen, Salman Sanusi 0 persen, dan belum menentukan pilihan sebesar 21 persen. “Ini untuk survei top of mine yang muncul serta menjadi perbincangan dari berbagai informasi termasuk di media sosial dan lainnya.
Dijelaskan bahwa popularitas Chaidir dan Suhartina paling tinggi tapi tidak berbanding lurus dengan tingkat akseptabilitas dan elektabilitasnya. “Hal berbeda dengan Harmil dan Ramli Rahim yang tingkat popularitasnya hampir berbanding lurus dengan tingkat akseptabilitas dan elektabilitasnya tak hanya kemampuan finansial, tapi juga kemampuan parpol, leadership dan semacamnya,”jelas Ahmad Amiruddin.
Terkait peluang terbangunnya koalisi para bakal calon untuk melawan paket Chaidir-Suhartina atau head to head, Serum Institute mengaku jika masyarakat akan melihat kandidat bisa mendesain dirinya sesuai kemampuannya.
Sementara Arief Wicaksono menilai head to head menariknya kalau daerah itu ada petahana. “Karena di maros tak ada petahana tentu mumbuat banyak pilihan. Masyarakat juga semakin cerdas untuk memilih pemimpin yang sama atau lebih dari pemimpin sebelumnya,”ujar Arief.
Ditambahkan bahwa kekuasaan punya batas karena tanpa petahana orang akan bertarung bebas ketika bertarung bebas maka masyarakat lebih ingin pemimpin yang baru.”Kedua, tak ada yang bisa mengalahkan strategi dalam Pilkada. Inspirasi Ramli Rahim juga sering digunakan oleh Gubernur DKI, bisa jadi insipasi Ramli juga bisa ditularkan ke masyarakat Maros,”ucapnya.
Moderator Taqwa Bahar menurut diskusi dengan mengingatkan bahwa Ramli Rahim juga pernah tercatat sebagai ketua DPD II Golkar Maros versi Agung Laksono. (rif)
Ramli dan Harmil Kuda Hitam di Maros
