MAKASSAR, BKM–Banyaknya moda transportasi baik mobil maupun kendaraan roda dua berbasis dalam jaringan (daring) di dalam Kota Makassar, membuat jasa angkutan umum petepete kian hari makin berkurang dan sepi penumpang. Belum lagi, kondisi petepete saat ini sudah tidak terawat dan kadangkala mogok di jalan.
Situasi ini menjadikan petepete sudah tidak bisa lagi bersaing dengan transportasi yang sering disebut online, seperti ketepatan waktu dan juga bisa menyiasati kemacetan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muhammad Mario Said, membenarkan, jika petepete saat ini sudah mulai berkurang.
Menurut Mario ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut. Baginya, kehadiran transportasi online memberi pengaruh besar dalam berkurangnya petepete ini. Beberapa penumpang petepete yang dulunya setia menggunakan transportasi ini, kini banyak yang beralih ke transportasi online.
Bukan hanya penumpangnya saja, beberapa sopir petepete pun dikatakan Mario juga banyak yang hijrah menjadi sopir transportasi online.
“Berkurang, karena penumpang petepete ini banyak yang beralih ke online sekarang. Banyak juga sopir petepete yang beralih ke online. Terus juga rata-rata mereka punya kendaraan sudah lama,” kata Mario, Rabu (4/12).
Adapun jumlah pete-pete selama ini hanya 4.100 unit di Makassar. Namun dikatakan Mario, saat ini hanya ada sekitar 2.000an saja yang masih beroperasi.
Mario menambahkan bahwa keseriusan pemerintah untuk mempertahankan pete pete dengan memudahkan segala perizinan dan pajak.
“Karena kalau kita mau bantu membiayai kerusakan atau membantu memberikan biaya perawatan kita tidak bisa, karena petepete itu bukan aset pemerintah,” pungkasnya.
Mario berharap agar pemilik kendaraan petepete untuk lebih meperhatikan kondisi kendaraannya jika tidak ingin kalah bersaing dengan ojek online.
Apalagi jika dibandingkan biaya menggunakan ojol, pete pete jauh lebih murah. “Rawatlah kendaraan ta biar bisa bersaing, juga bisa mencegah mogok dan kejadian yang tidak diinginkan dijalan,” tutupnya.
Sementara itu, Ridwan pemerhati kota kepada BKM menegaskan, secara alamiah ia meyakini suatu saat nanti petepete memang akan ditinggalkan oleh masyarakat. Karena semakin lama, eksistensi petepete nantinya akan tergantikan secara penuh oleh transportasi online.
“Sekarang ini memang perlu adanya penambahan moda transportasi massal yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai representatif bepergian tanpa menggunakan kendaraan pribadinya,” katanya.
Selain itu tambah Ridwan, perlu adanya strategi-strategi menghadapi tantangan kompetisi persaingan bisnis menghadapi transportasi daring yang semakin ramai. Sehingga transportasi konvensional massal bisa tetap hadir dan tidak diparkirkan.
“Semakin berkurangnya petepete karena pendapatan pemilik kendaraan konvensional itu berkurang dampak dari hadirnya dan makin ramainya angkutan daring. Izin operasional petepete juga sudah banyak mati dan tidak lagi diperpanjang. Itulah kenapa jumlahnya berkurang dan memang perlu ada angkutan massal seperti pete-pete smart,” tambahnya. (nug)
