Site icon Berita Kota Makassar

Tangkap Peluang dari Komunitas Kaum Milenial

BISNIS warung kopi (warkop) memang sangat menjanjikan. Kehadiran warkop atau kedai-kedai kopi semakin ramai dan begitu mudah ditemui di kota ini. Banyak orang-orang memilih melakoni bisnis warkop jadi sumber penghasilan tambahan, seperti yang dijalankan Andi Shofiah Amir.

Laporan: ARIF AL QADRY

Hari masih pagi, sekitar pukul 07.30 Wita, lorong di Jalan Tamalate III, lokasi tepatnya belakang Puskesmas Kassi-kassi, sudah ramai kendaraan bersesak-sesak. Tak jauh dari tempat parkiran, nampak pula pemuda sedang asyik berkumpul. Mereka ada yang sibuk berdiskusi, bermain game di smartphone, hingga menatap layar laptopnya.
Di meja tempat orang duduk, pasti ada gelas yang berisi kopi. Sesekali sambil ngobrol, mereka menyeruput kopi di gelas. Ya.. tempat yang ramai dihuni orang-orang segala usia dari dewasa sampai orang tua itu adalah Warkop 21.
Penulis yang penasaran apa yang spesial dari warkop itu kemudian masuk dan memesan satu gelas kopi susu. Dan, rasanya memang sedikit berbeda dengan kopi-kopi pada umumnya. Ada aroma khasnya, dan rasanya tidak tinggal di tenggorokan.
“Selain kopi susu biasa, kami ada juga menu lain kopi susu jahe, kopi susu telur, kopi susu telur jahe gula merah, dan aneka minuman dingin menyegarkan,” sambut seorang pegawai kepada penulis.

Tak lama kemudian, keluar sosok perempuan. Adalah Andi Shofiah Amir. Perempuan yang karib disapa Phia adalah pemilik Warkop 21. Dan kesempatan itu dia menceritakan awal mula merintis usaha warkopnya. Di mana warkopnya buka atas dorongan kakaknya yang senang ngopi dan lalu kemudian memutuskan untuk membuka bisnis Warkop 21.
Menurut perempuan yang lahir di Ujung Pandang tahun 1981, lokasi yang sekarang ini digunakan sebagai tempat membuka warkop adalah rumah milik orang tuanya. Tapi sudah lama kosong alias tidak dihuni. Dia pun berpikir, daripada tak digunakan mending dimanfaatkan sebagai warkop.
Tawaran membuka bisnis warkop oleh kakaknya langsung diterima setelah mempertimbangkan modal kerja yang perlu disiapkan. Beruntung ada pengusaha warkop yang berlokasi di Jalan Onta Lama memberikan pendampingan. Mulai dari memberi racikan kopi, mengambil bahan baku kopi, hingga peralatan semuanya didampingi.
“Jadi sesama satu minggu ada anggota saya ke warkop Jalan Onta Lama untuk belajar meracik kopi, belajar-belajarlah. Setelah itu kami direkomendasikan belanja peralatan racik kopi. Setelah semua lengkap baru kami buka,” sebutnya.
Perdana bukanya, Warkop 21 memberikan ngopi gratis kepada pengunjung. Itu berlangsung selama satu hari. Cara itu digunakan sebagai salah satu strategi untuk mempromosikan warkopnya. Termasuk melihat animo pengunjung dan komentar.
Walhasil pengunjung yang datang menerima dengan baik, komentar cukup baik. Selain rasa, tempat yang mudah dijangkau, harga yang ditawarkan juga bersahabat. Apalagi rasa yang boleh bersaing. Melihat masukan itu menjadi acuan dan semangat untuk mengembangkan warkopnya menjadi lebih baik.
“Awal bukanya kami di November 2018. Warkop ini atas dorongan saudara saya yang senang ngopi. Pertamanya buka, meja dan kursi kami bikin dari daur ulang papan yang tidak terpakai. Lambat-laun kami gunakan yang baru. Kalau jaringan internet kualitasnya baik, karena memang itu kami perioritaskan biar komunitas game dan pemgunjung nyaman tanpa keluhan lemot jaringan,” tambahnya. (*)

Exit mobile version