WARUNG Kopi 21 berada tepat di samping lorong atau di belakang Puskesmas Kassi-kassi, Jalan Tamalate III, Kecamatan Rappocini. Meski berada di samping lorong, banyak juga yang datang untuk bersantai. Mulai dari orang bisa, pejabat dan tokoh-tokoh politik sering ngopi di warkop ini.
Laporan: ARIF QADRY
Seperti yang diceritakan Andi Shofiah Amir. Kepada penulis ia mengatakan, warkop miliknya yang dirintis sejak November 2018 selalu ramai dihadiri tokoh-tokoh politik. Seperti salah satunya yakni mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin dan beberapa tokoh politik lainnya.
Selain itu, komunitas game dan ojek online (ojol) jadikan Warkop 21 sebagai tempat berkumpul. Alasannya tiada lain karena kualitas jaringan yang super cepat. Dan itu tentunya menjadi nilai plus bagi pengunjung menjadikan Warkop 21 tempat asyik menikmati kopi sambil bermain internet.
“Mantan Wali Kota Makassar, Pak IAS pernah datang dan mengatakan bahwa eksistensi warkop akan bertahan jika pengunjungnya 70 persen dari komunitas, dan 30 persen pengunjung biasa. Dan memang benar juga apa yang beliau katakan itu. Karena memang banyak komunitas yang berkumpul di sini,” sebut Phia sapaan akrabnya.
Tempat yang nyaman untuk berkumpul menikmati kopi harus diutamakan, selain kualitas rasa kopi dan harga. Untuk harga kopi yang ditawarkan Warkop 21 terbilang sangat terjangkau. Seperti kopi susu biasa ukuran kecil Rp 7 ribu, dan ukuran/takaran gelas besar Rp 8 ribu.
Lalu, kopi susu jahe Rp10 ribu, kopi susi telur Rp10 ribu dan kopi susu jahe telur gula merah seharga Rp 15 ribu. Adapun minuman dingin bersoda rata-rata harga Rp10 ribuan saja. Sementara pengunjung yang ingin makan juga tersedia, tinggal memilih menu perut bisa langsung kenyang.
“Kami sediakan juga prasmanan dengan harga rata-rata 10 ribuan saja bisa bebas pilih lauk menu. Prasmanan dan kue-kue yang kami jual adalah titipan dari orang-orang,” tambahnya.
Warkop 21 kata Phia buka di Senin sampai Kamis pukul 07:00 Wita sampai 23:00 Wita. Jumat dan Sabtu buka di pukul 08:00 Wita sampai 00:00 dini hari. Karena mudah dijangkau, sering Warkop 21 digunakan sebagai tempat diskusi tokoh politik maupun pejabat-pejabat dengan harga yang terjangkau.
“Kalau omzet bisa dapat Rp1 juta per hari. Kalau hitung dengan makanan dan barang titipan lainnya bisa dapat Rp1,500 juta per hari. Itu masih kotor belum bersihnya,” tutupnya.
Menurut perempuan yang lahir di Ujung Pandang tahun 1981, lokasi yang sekarang ini digunakan sebagai tempat membuka warkop adalah rumah milik orang tuanya. Tapi sudah lama kosong alias tidak dihuni. Dia pun berpikir, daripada tak digunakan mending dimanfaatkan sebagai warkop.
Tawaran membuka bisnis warkop oleh kakaknya langsung diterima setelah mempertimbangkan modal kerja yang perlu disiapkan. Beruntung ada pengusaha warkop yang berlokasi di Jalan Onta Lama memberikan pendampingan. Mulai dari memberi racikan kopi, mengambil bahan baku kopi, hingga peralatan semuanya didampingi.
“Jadi sesama satu minggu ada anggota saya ke warkop Jalan Onta Lama untuk belajar meracik kopi, belajar-belajarlah. Setelah itu kami direkomendasikan belanja peralatan racik kopi. Setelah semua lengkap baru kami buka,” sebutnya.
Perdana bukanya, Warkop 21 memberikan ngopi gratis kepada pengunjung. Itu berlangsung selama satu hari. Cara itu digunakan sebagai salah satu strategi untuk mempromosikan warkopnya. Termasuk melihat animo pengunjung dan komentar.
Walhasil pengunjung yang datang menerima dengan baik, komentar cukup baik. Selain rasa, tempat yang mudah dijangkau, harga yang ditawarkan juga bersahabat. Apalagi rasa yang boleh bersaing. Melihat masukan itu menjadi acuan dan semangat untuk mengembangkan warkopnya menjadi lebih baik.
“Awal bukanya kami di November 2018. Warkop ini atas dorongan saudara saya yang senang ngopi. Pertamanya buka, meja dan kursi kami bikin dari daur ulang papan yang tidak terpakai. Lambat-laun kami gunakan yang baru. Kalau jaringan internet kualitasnya baik, karena memang itu kami perioritaskan biar komunitas game dan pemgunjung nyaman tanpa keluhan lemot jaringan,” tambahnya. (*)
