BAGI para nelayan, kenikmatan itu ada ketika keringat dibayar dengan upah yang cukup dan mampu menghidupi keluarga. Meskipun harus melawan derasnya hujan dan tingginya ombak di laut. Seperti yang dirasakan Basri yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Kehidupan pria berumur 33 tahun ini, dihabiskan di laut Kalimantan, selat Makassar hingga sandar di Pelabuhan Untia atau di Pelabuhan Paotere. Ini semata-mata mencari sesuap nasib bagi keluarga kecilnya yang berada di Kabupaten Takalar.
Bapak tiga orang anak ini kepada penulis mengaku, sangat jarang berkumpul dengan keluarga dalam sebulan, sebab ketika dirinya melaut untuk mengumpulkan hasil tangkapan ikan memerlukan waktu setengah bulan lamanya. Belum lagi, hasil tangkapan sudah harus dijual di Pelabuhan Untia dan Paotere.
“Sedih juga jarang liat anak dan istri, tapi mau diapa juga, kita bekerja melaut untuk mereka juga. Saya pergi melaut habis waktu setengah bulan, lalu pulang ke rumah hanya sehari, setelah itu berangkat lagi melaut di perairan Kalimantan,” ungkapnya saat ditemui di Pelabuhan Untia Makassar, kemarin.
Bahkan Basri tetap bersabar meski kulit gelap terbakar matahari dan bau amis karena harus bergumul dengan ikan hasil tangkapan serta jam kerja yang tidak biasa. Ini semua demi kebutuhan keluarga dna biaya pendidikan anak-anaknya.
“Syukur sekali ma’ itu dek’ kalau keluargaku tidak kekurangan. Walaupun saya harus jauh bekerja untuk kumpul uang tidak apa-apa. Mereka (anak-anaknya) mengerti pekerjaan bapaknya melaut,” ujarnya.
Menjadi nelayan pun Basri, harus mengeluarkan modal yang sangat besar hingga Rp50 juta. Belum lagi, jika masuk musim hujan, Basri tetap melaut dan melawan kerasnya hidup di tengah-tengah laut. Ombak dan Angin adalah makanan sehari-harinya, bahkan sudah dibilang temannya ketika mencari ikan di laut selat Makassar.
“Tidak bisa ki melaut kalau tidak punya uang minimal Rp50 juta. Belum buat kapalnya, belum alat-alat pancingnya, belum solarnya dan perlengkapan lainnya. Kan saya ini ada lima orang kah itu juga harus dibutuhkan masak di laut untuk makan,” bebernya.
Adapun kendala dan tantangan dihadapi Basri ketika melaut sudah ia biasakan. Begitupun, jika hasil tangkapan ikannya sedikit, ia tetap pulang dengan batas waktu yang diberikan pemerintah untuk melaut.
“Sering sekali ma rugi, tapi mau banyak atau sedikit hasil melaut ta tetap pulang setiap dua minggu untuk setor lagi ke pelelangan ikan. Jadi kalau Rp20 juta kita hasilkan itu sedikit sekali dan belum kembali modal, apalagi sekarang turun mi harga ikan,” tuturnya. (*)
