MAKASSAR, BKM — Proyek jalan Bypass Mamminasata tersendat. Padahal, kehadirannya diharapkan menjadi jalan arteri yang menghubungkan antara Maros, Gowa, dan Makassar.
Akses yang digagas pada era Gubernur Syahrul Yasin Limpo tersebut tahun ini tidak dilanjutkan karena terkendala pembebasan lahan. Selanjutnya, ada wacana untuk menjadikannya sebagai jalan tol.
Kepala BBPJN XIII Miftachul Munir, mengatakan perubahan bypass Mamminasata menjadi tol sudah melewati kajian. Salah satunya, bila bypass tetap jadi jalan arteri, akan sulit rampung dalam waktu dekat. Jika berharap anggaran negara, sangat terbatas.
“Bayangkan dalam 3 tahun, anggaran yang kucur hanya Rp300 miliar. Sementara untuk fisik, itu butuh minimal Rp3 triliun. Jadi ya butuh 30 tahun, Maros-Takalar terhubung bypass kalau tidak diusul jadi tol,” ungkapnya.
Ternyata, rencana menjadikan Bypass Mamminasata menjadi jalan tol mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) KemenPUPR Danang Parikesit menjelaskan, tol Mamminasata sudah masuk dalam rencana. Hanya persoalan tahapan saja untuk menggarap jalan tersebut.
“Tol Mammimasata masuk dalam rencana kami. Proyek tol Mamminasata menunggu dokumen lengkap,” ungkapnya.
Terkait investor yang berminat menggarap tol Mamminasata, pihaknya akan monitor terus perkembangan market sounding. Menurutnya, proyek tol sangat potensial dan akan menarik investasi.
“Investor tol bukan seperti investasi properti yang banyak sekali. Investasi tol itu kalau ada 2-3 proposal saja sudah cukup bagus,” tukasnya.
Di era Gubernur Syahrul, Bypass Mamminasata yang dikerjakan baru tahap I sepanjang 13 km. Kendala utama sehingga pengerjaan jalan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya karena pembebasan lahan.
Sebenarnya, jika rencana semula berjalan semestinya, Bypass Mamminasata akan dilanjutkan ke tahap II (poros Kariango-Jl Malino) dan tahap III (Jl Malino-Poros Galesong). (rhm)
Sulit Rampung, Berubah Jadi Jalan Tol

IST PROYEK JALAN-Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu'mang meninjau proyek jalan Mamminasata yang saat ini sementara dalam pengerjaan. Akibat dana tak ada, 200 bidang lahan untuk proyek ini belum dibebaskan.