Site icon Berita Kota Makassar

Tak Mau Menjadi Beban Anak-anaknya

NURAHING, penjual pisang di Jalan Hertasning, Kecamatan Rappocini, juga ingin seperti orang-orang pada umumnya. Usia senja dinikmatinya dengan berkumpul dan bercanda bersama cucunya di rumah. Namun nasib berkata lain. Usia senjanya tetap harus berjuang, menjadi kepala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Rahing, sapaan karib bapak yang memiliki sembilan orang anak ini-pun masih bertanya-tanya, sampai kapan dirinya harus seperti ini. Yang penting bagaimana anak-anaknya yang masih bersekolah bisa selesai dan menjadi orang-orang sukses, bernasib baik yang tentu lebih baik dari dirinya.
Sebenarnya Rahing sudah sering mendapat ultimatum dari anak-anaknya. Memintanya untuk tak turun lagi berjualan. Tapi dia menolaknya lantaran tak mau jadi beban buat anak-anaknya.
“Saya punya anak sembilan orang, tiga masih bersekolah. Anak-anak yang lain sering bantu saya bahkan ada juga yang meminta saya untuk tidak jualan. Saya tolak karena saya tidak mau menjadi beban buat anak-anak saya,” tegasnya.
Setiap hari mulai pukul 13.00 Wita Rahing sudah bergegas meninggalkan tempat tinggalnya di Jalan Tidung Mariolo menuju Jalan Hertasning. Sebelum keluar tidak lupa dia berdoa untuk diberikan rezeki lebih baik dari sebelumnya.
Di Jalan Hertasning dekat Kompleks Gubernuran, Rahing menggelar lapak jualan pisang. Julan pisang mentah dan matang berlangsung dari pukul 13.00 Wita sampai pukul 20.00 Wita. Harganya sama satu sisir pisang mentah dan matang dijual dengan harga Rp15 ribu.
“Dulunya saya jualan sampai pukul 23.00 Wita, sekarang ini sudah tidak mampu. Laku tidak laku pulang saja pukul 20.00 Wita. Dalam sehari bisa bawa 20 sisir pisang dan laku biasanya cuma 15 sisir saja,” tambahnya.
Ia mengaku, usia tua tidak menjadikan seseorang untuk menyerah dalam melanjutkan perjuangan hidup. Pepatah ini tetap tertanam dalam dirinya, meski telah berusia 74 tahun ia tetap mengisi hari-harinya dengan berjualan pisang dan sayur-sayuran.
Tak ada barang lain dijual oleh Rahing di lapak jualannya, kecuali pisang. Hanya pisang mentah dan pisang matang yang dijual.
“Selain pisang, dulu juga ada sayur, tapi sepi pembeli karena lebih banyak orang-orang beli pisang. Mungkin ada pertimbangan karena malu atau ada hal lain jadi mereka tidak beli sayuran di saya. Jadi cuman pisang saja saya jual sekarang ini,” katanya.
Rahing panggilan akrabnya mengaku, sudah sekira 50 tahun ia menggeluti hidup dengan berjualan pisang dan sayur.
Usianya yang usur itu tak membuat patah semangat. Ia berjuang mencari nafkah menghidupi anak-anak dan istrinya. Apalagi tiga orang anaknya ini masih ada bersekolah. Satu anaknya masih duduk di kelas lima SD, satunya kelas dua SMP dan satu anaknya lagi kelas tiga SMA. Sementara enam orang anaknya sudah punya keluarga masing-masing.
Seperti kisah yang disampaikan Rahing, pada tahun 1969 silam, dirinya berdagang di pasar tradisional di Makassar tepatnya di Pasar Terong. Waktu itu yang dia jual adalah sayur-sayuran. Setiap pagi hingga siang sayur jualannya pasti laku terjual. Tidak butuh waktu panjang paling lama pukul 12.00 siang semua sayuran sudah pasti laku semua.
Namun lambat-laun bisnis dagang sayuran merosok. Banyak kompetitor. Orang-orang semakin banyak jualan sayur-sayuran. Bahkan ada pula yang tak segan-segan membanting harga miring. Kondisi itu membuat semakin gelisah, apalagi sayur-sayuran yang dipesan dari daerah khususnya Gowa semakin berkurang. Banyak pemesan dan harga belinya terus naik.
“Karena sudah sepi pembeli di pasar dan banyak saingan, saya coba untuk jualan keliling naik sepeda. Awalnya baik banyak pembeli dengan keluar masuk ke perumahan dan kompleks. Tapi itu lagi, tenagaku samkin cepat surut, jadi saya nongkorong saja di sini (Jalan Hertasning) tunggu orang-orang datang beli,” sebutnya.
Tetapi harapan ramainya orang-orang datang membeli sayur-sayurannya, sepi. Berjam-jam menunggu cuman bisa membawa pulang uang Rp30 ribu saja. Itupun yang laku terjual hanyalah pisang mentah saja.
“Nah disitu mi saya berpikir daripada rugi mendingan saya jualan pisang saja. Saya beli pisang di pasar dan saya jual kembali. Tidak apa kalau untungnya kecil asal banyak laku dan cepat terputar modal,” akunya. (*)

Exit mobile version