Site icon Berita Kota Makassar

Dimulai dari Kesukaannya Hingga Ayahnya Pemasok Kurma

PASTI semua orang tahu manfaat dari buah kurma bagi kesehatan. Namun apa jadinya ketika biji kurma dipadupadankan menjadi kopi kurma. Usaha ini yang tengah dilakukan Wahyuningsi Anastyias.

Laporan: ARDITHA ANGGRAENI

Dalam menjalankan usaha kemasan kopi kurmanya, ia banyak memasarkan lewat dalam jaringan (daring).
Memutuskan memulai usaha ini, Unni sapaan akrabnya mengaku, berangkat dari kesukaannya memakan buah kurma dan ayahnya adalah seorang pengusaha kurma di Makassar. Ingin mencoba minuman yang baru dan enak, namun tetap menjamin kesehatan, dirinya menyulap biji kurma menjadi serbuk dan bisa dikomsumsi layaknya menyerupuk kopi biasannya.
“Karena belum banyak dan belum ada yang mencobanya saya putuskan menjualnya lewat online, saya belum mampu memproduksinya, sementara ini hanya menjual yang sudah dalam kemasan saja. Alasan pertama karena suka saja dan kedua saya senang mengkomsumsinya, apalagi bisa diminum kayak kopi warkop atau cafe begitu kan,” ungkapnya saat ditemui penulis di Jalan Sungai Limboto Makassar, kemarin.

Anak Keempat dari enam bersaudara ini mengaku, tidak memiliki kendala apapun dalam memasarkan kopi kurmanya, sebab menurutnya, manfaat kurma sudah banyak mengetahuinya dan tidak mengandung kafein. Walaupun banyak mengetahui khasiat dari bijinya, Unni merasa tertantang untuk memasarkan dan mengenalkan di masyarakat mengenai kopo herbal tersebut.
“Tidak ada, karena saya pasarkanya di online lewat Ig dan shopee pribadi saya. Mungkin ini, banyak yang belum tahu kalau biji kurma itu bisa juga dikomsumsi dan saya olah menjadi serbuk. Jenisnya sama dengan kopi tapi bahannya beda ini murni dari biji kopi, tidak pakai kafein, pengawet dan pemanis buatan, karena ini kopi herbal sebenarnya,” jelasnya.
Oleh karena itu, kemasan kopi herbal miliknya hanya mampu bertahan selama enam bulan saja. Setiap dua minggu sekali, ia memasok kemasan kopi ukuran 25 gram sebanyak 3.000 kemasan. Dalam sehari ia mampu mengemas pesanan hingga 200-300 pesanan.
“Saya jualnya 35 ribu perpcs tidak hanya bisa untuk pengobatan saja dengan diminum saja, bisa juga untuk kecantikan juga bisa. Makanya pelangganku bukan cuman laki-laki rata perempuan juga suka dan banyak sekali yang pesan,” tuturnya.
Masih menyandang status mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar, Unni mengaku awalnya mengumpulkan modal sebesar Rp 300 ribu dari uang jajan yang diberikan orangtuanya. Bekal dari uang itu, Unni memutar terus otak untuk bisa memasok dengan jumlah yang banyak dan sudah memiliki reseler sebanyak 15 di beberapa kab/kota.
“Tidak banyak, kecuali saya produksi itu banyak modalnya karena mesinnya saja itu jutaan. Tapi saya gunakan sistem dropshier, Alhamdulliah sekarang saya punya 15 resseler yang bantu pasarkan saya hanya pasok saja kemereka,” bebernya. (*)

Exit mobile version