Site icon Berita Kota Makassar

”Tettaku Mungkin Dibunuh, Lukanya Seperti Bekas Peluru”

GOWA, BKM — Sudah lebih sepekan berlalu, ketika sesosok mayat bersimbah darah ditemukan tergeletak di jalan pinggir kanal samping perumahan Citra Land, Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Namun, hingga saat ini penyidik Polres Gowa belum juga menemukan titik terang dalam kasus kematian korban Dahlan Dg Liwang (52).
Pihak kepolisian mengklaim masih melakukan penyelidikan atas tewasnya pria yang berprofesi sebagai penjual coto itu. Keterangan saksi dan barang bukti masih dikumpulkan oleh penyidik.
Karena tak kunjung ada kejelasan atas kematian ayahnya, putra almarhum Dahlan kemudian mendatangi Mapolres Gowa. Ia bermaksud mempertanyakan tindak lanjut penanganan kasus yang merenggut nyawa orang tuanya.
Hasdiyalil Mukminat nama putri almarhum. Gadis berhijab panjang warna krem ini mendatangi Mapolres Gowa sambil menangis. Ia meminta Polisi segera mengungkap penyebab kematian ayahnya yang terjadi Kamis (19/12) sekitar pukul 05.30 Wita.
Di hadapan sejumlah polisi, Hasdiyalil menangis histeris. Ia mengungkap bahwa sebelum almarhum ayahnya dimakamkan, pihak keluarga melihat luka di bagian tubuhnya yang diduga bekas peluru.

“Ini tettaku mungkin dibunuh. Dari bekas lukanya yang saya pernah lihat, sepertinya di ditembak,” kata Hasdiyalil di hadapan personel kepolisian, Jumat (27/12).
Tangisan Hasdiyalil semakin bertambah, ketika menyebutkan jika almarhum merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga. Pria itu menjadi satu-satunya keluarga terdekat yang dimiliki Hasdiyalil. Sebab ibunya sudah lebih dulu berpulang.
“Saya memohon pak polisi bisa segera mengungkap penyebab kematian ayah saya. Karena beliau adalah orangtua tunggal saya. Sekarang saya yatim piatu,” ungkap Hasdiyalil sambil meneteskan air mata.
Hasdiyalil pun meminta kepada pihak kepolisian untuk memublikasikan melalui media setiap perkembangan proses penanganan kasus ayahnya.
Sepengetahuan Hasdiyalil, selama ini ayahnya tidak memiliki masalah dalam keluarga. Namun untuk pekerjaannya, ia tidak sama sekali tidak tahu menahu.
“Tidak adaji masalah dalam keluarga. Tapi kalau soal pekerjaannya saya tidak paham, karena beliau tidak terbuka soal pekerjaannya. Yang saya tau, ayah saya jaga warung coto dan beliau juga urus-urus tanah. Ayah saya itu pemodal dalam urusan tanah. Setelah habis dimodali, nanti dia bagi hasil,” beber Hasdiyalil.
Hanya memang, kata dia, ayahnya kadang mengeluh soal rekan-rekannya yang biasa membuat jengkel. Namun begitu, kata Hasdiyalil, ayahnya tidak pernah menanggapi secara berlebihan dan selalu bersabar.
Diungkapkan Hasdiyalil, sehari sebelum ayahnya ditemukan meninggal dunia, pada malam hari di warung coto tempat ayahnya jualan, kondisi warung coto sepi. Padahal biasanya ramai pembeli.
“Malam sebelum kejadian, warung sangat sepi. Hanya tiga orang yang datang makan. Padahal biasanya full,” kata Hasdiyalil.
Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan, yang dikonfirmasi terkait kehadiran putri almarhum, mengatakan pihaknya terus berupaya mengungkap kasus ini. Hanya saja, tidak bisa sertamerta mengatakan bahwa luka di bagian tubuh almarhum adalah bekas tembakan.
“Kita tidak bisa mengatakan kalau almarhum dibunuh atau tidak. Kita menunggu hasil otopsi. Kami juga tidak bisa menyampaikan seperti itu langsung. Semua berproses,” kata AKP Mangatas Tambunan.
Dia berjanji akan fokus untuk mengungkap kasus ini. Jika ada fakta terbaru, akan langsung disampaikan ke publik.
”Kita masih terus mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi. Karena itu diminta partisipasi masyarakat terkait saksi-saksi yang mendukung. Termasuk dari pihak keluarga,” tandasnya. (sar/rus)

Exit mobile version