Site icon Berita Kota Makassar

Diadang Lumpur dan Longsor, Mobil Bermalam di Hutan

BOLEH jadi ini adventure paling unik. Unik karena pesertanya bukan komunitas offroad, tetapi justru kebanyakan pejabat. Puluhan kendaraan berpelat merah mengitari kawasan hutan Rongkong dalam dua hari.

INILAH Seko Expedition. Program yang digagas Gubernur Sulsel Prof Dr HM Nurdin Abdullah yang bertujuan menjelajahi hutan menuju Kecamatan Seko, Luwu Utara. Seko banyak dibicarakan orang lantaran memiliki potensi sumber daya alam yang memikat, tetapi aksesibilitasnya bersoal. Istilah lainnya, Seko terisolasi selama puluhan tahun.
Ekspedisi diawali dari rumah jabatan wali kota Palopo, Selasa, 31 Desember 2019 pukul 08.00 Wita. 126 kilometer menuju Seko. Rombongan dipimpin langsung Gubernur Nurdin Abdullah. Nurdin bahkan menyetir sendiri mobil Ford berpelat DD 1, kendaraan dinasnya yang selama ini dikemudikan sopir pribadinya Husain. Ikut dalam rombongan ekspedisi Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Surawahadi, dan beberapa kepala OPD lingkup Pemprov Sulsel.
Iringan mobil yang kebanyakan type offroad berjalan menuju utara. Sampai depan Pasar Sabbang, rombongan belok kiri. Warga Sabbang menyambut hangat peserta touring. Kebanyakan dari mereka berdiri di halaman rumahnya memberi lambaian kepada peserta touring.
Dari Sabbang, perjalanan mulus sampai Rongkong. Memang jalanan di sini sudah beraspal. Nyaris tak ada lubang. Hanya ada beberapa jembatan kecil yang perlu dibenahi. Karena jalannya mulus, semua peserta pun gembira dan sangat menikmati perjalanan.
Tiba di kantor Koramil Rongkong, rombongan berhenti. Cukup lama. Lebih satu jam. Rombongan menunggu gubernur yang menghadiri prosesi peresmian listrik pedesaan bantuan dari PLN. Sembari menunggu prosesi acara usai, peserta ekspedisi memanfaatkan kesempatan mengisi ‘kampung tengah’. Tuan rumah ternyata menyiapkan makanan bagi setiap peserta. Ada pula kopi hitam. Juga ubi jalar masak yang rasanya manis.
Perjalanan kemudian dilanjutkan. Satu per satu mobil mulai menanjak. Seperti saat start dari rumah jabatan wali kota Palopo, rombongan dari Rongkong ini kembali dipimpin gubernur.
Dua bupati ikut bergabung dari sini. Yakni Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, dan Bupati Enrekang Muslimin Bando.
Tanjakan dan tikungan bertubi-tubi mulai dijumpai. Namun, kebanyakan peserta enjoy dan menikmatinya. Pemandangan alam yang eksotik menambah semangat peserta, sekalipun di sisi lain juga ada jurang dan ngarai yang menguji adrenalin. Di kawasan Rongkong, tantangan perjalanan belum kelihatan. Itu karena jalanannya sudah beraspal.
Ada tiga karakter jalan menuju Seko. Ada yang sudah beraspal, sudah pengerasan, dan baru dibuka. Jalan yang sudah beraspal sudah sampai Rongkong. Mungkin sekira 40 kilometer lebih dari Sabbang. Terus jalan yang sudah pengerasan sepanjang 50 kilometer. Sisanya baru dibuka dalam artian ruas jalannya baru diperlebar sepanjang 30 kilometer lebih. Beberapa ekskavator dan alat berat masih beraktivitas di ruas baru itu.
“Memang masih ada 80 kilometer yang belum beraspal. Pemerintah Provinsi Sulsel dan pemerintah Kabupaten Luwu Utara akan bersinergi merampungkan sisa jalan yang belum beraspal ini. 2020 ini dilanjutkan dan diharapkan aspal sudah tembus Seko pada 2021,” kata Gubernur Nurdin Abdullah.
Estimasi panitia, perjalanan dari Sabbang menuju Seko bisa ditempuh dalam waktu lima hingga enam jam. Pertimbangannya itu tadi, sebagian jalan sudah beraspal dan pengerasan. Tapi kenyataannya tidak demikian. Idealnya karena start pukul 09.00 Wita dari Sabbang, maka semestinya tiba di Seko paling telat pukul 15.00 sore. Beberapa peserta bahkan tiba di Padang Raya, ibu kota Kecamatan Seko setelah pukul 20.00 Wita.
Perjalanan terhambat lumpur dan tanah longsor. Pada beberapa titik, masih ada ruas jalan yang berlumpur. Begitu juga longsor yang tiba-tiba menutupi sebagian ruas jalan. Banyak mobil yang terjerembab di jalan berlumpur dan longsor. Beberapa mobil tenggelam dalam kubangan lumpur terpaksa ditarik oleh mobil offroad. Bahkan ada sejumlah mobil, terutama yang bukan offroad tidak bisa melanjutkan perjalanan dan terpaksa bermalam di tengah hutan.
Proses evakuasi mobil yang terjebak dalam kubangan lumpur ini sangat memakan waktu. Pada satu titik bisa satu hingga satu setengah jam. Dalam perjalanan kemarin, evakuasi terhadap mobil yang terjerambab lumpur dan longsor itu terjadi berkali-kali. Beruntung ada mobil offroad milik Kadispora Sulsel Andi Arwin, dan mobil lain yang rajin menolong. Selain itu juga ada pekerja proyek yang menyiapkan ekskavator.
Salah satu mobil yang tidak bisa melanjutkan perjalanan adalah Fortuner hitam milik Direktur RS Haji Makassar dr Abdul Haris Nawawi. “Daripada berisiko, saya tinggalkan di tengah hutan. Mobil saya memang bukan tipe 4×4,” kata dr Haris, yang terpaksa melanjutkan perjalanan setelah pindah ke mobil milik Kepala Satuan Pamong Praja Sulsel Mujiono.
Selain lumpur dan longsor, peserta ekspedisi juga harus melintasi dua sungai sebelum tiba di Seko. Satu dari dua sungai itu termasuk sungai besar. Panjang alian sungai yang harus dilintasi mencapai 60 meter. Antrean kendaraan terjadi di depan sungai. Mobil harus jalan satu-satu. Beberapa peserta mengabadikan gambar menyaksikan mobil berjalan di dalam sungai setinggi satu meter itu. (fachruddin palapa/bersambung)

Exit mobile version