MAKASSAR, BKM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memprediksi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem yang akan melanda sebagian wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel). Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung pada puncak musim hujan. Tepatnya pada bulan Januari dan Februari.
Hujan dengan intensitas lebat disertai petir dan angin kencang akan terjadi. Terutama pada wilayah Sulsel bagian barat. Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar waspada.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yudha, menyebut ada tujuh wilayah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem. Yakni Kabupaten Pangkep, Barru, Maros, Pinrang, Gowa, Kota Makassar dan Parepare.
”Saat ini sebagian besar wilayah Sulsel sudah memasuki musim hujan. Diperkirakan pada bulan Januari-Februari masuk puncak musim hujan, terutama di wilayah Sulsel bagian barat. Untuk intensitas hujan, saat ini masih berpotensi hujan ringan hingga sedang,” jelas Rizky Yudha, Kamis (3/1).
Rizky juga memperkirakan kemungkinan terjadinya banjir. Namun untuk saat ini masih relatif kecil. Sementara untuk tanah longsor, biasanya terjadi di wilayah dataran tinggi.
Meski begitu, ia mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kondisi musim hujan seperti saat ini. Termasuk potensi terjadinya pohon tumbang.
Sinyalemen yang disampaikan Rizky cukup beralasan. Terbukti, saat berlangsung hujan yang cukup lebat, kemarin siang, sebatang pohon besar tumbang di Jalan Andalas. Peristiwa ini memicu terjadinya kemacetan parah. Beruntung tidak ada korban jiwa, walau batang pohon menimpa tenda dan tempat jualan.
Kepala Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah IV Makassar Hanafi Hamzah menjelaskan, curah hujan yang cukup tinggi akan terjadi pada Januari hingga Februari. Beberapa wilayah Sulsel yang dianggap cukup rawan, khususnya wilayah pantai barat. Seperti Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, sebagian wilayah Bantaeng, hingga ke Selayar.
“Potensi bencana yang bisa terjadi pada dataran rendah, diantaranya banjir besar. Kemudian daerah dataran perbukitan ataupun dataran lebih tinggi, apabila kondisi memungkinkan sewaktu-waktu bisa terjadi longsor,” paparnya.
Selain dari wilayah yang dia sebutkan itu, Hanafi menganggap belum pada kondisi mengkhawatirkan. Dengan pertimbangan, ada variasi di mana awal atau puncak musim hujan, tidak bersamaan waktunya.
“Tapi angin kencang juga perlu diwaspadai. Termasuk didalamnya harus kita waspadai di wilayah utara adalah Luwu, Luwu Utara, hingga ke Luwu Timur. Walaupun peluangnya tidak sebesar wilayah pantai barat yang saya sebutkan tadi,” urai Hanafi.
Dia pun mengimbau, agar pemerintah dan masyarakat mewaspadai potensi cuaca ektrem dan kerawanan bencana yang bisa terjadi. Saluran pembuangan atau drainase, perlu dibersihkan secara berkala untuk memastikan aliran air lancar ke pembuangan.
“Karena ada potensi angin kencang, kami imbau kepada masyarakat kita yang memiliki pohon-pohon yang rindang, bukan menebang ya, tapi memangkas. Mungkin daun atau dahannya supaya tidak terlalu lebat. Dengan begitu embusan angin tidak terhambat dengan kondisi tersebut,” harap dia.
Papan reklame yang terpasang di tiap ruas jalan, juga dinilai bisa membahayakan. Makanya, Hanafie meminta agar pemilik atau pengelola papan reklame, bisa memastikan kekuatan konstruksi pemasangannya guna mengantisipasi dampak terjadinya angin kencang.
Perahu Karet Ditambal
Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini bersiap menghadapi banjir yang diprediksi bakal terjadi. Hanya saja, yang menjadi kendala adalah kesiapan sarana pendukung.
Sebenarnya, BPBD Makassar memiliki delapan unit perahu karet yang biasa digunakan saat banjir berlangsung. Namun, hanya dua yang kondisi masih baik. Enam lainnya masih dalam proses perbaikan. Perahu tersebut bisa digunakan secepatnya jika memang genangan tinggi benar-benar terjadi.
Kepala BPBD Kota Makassar Rusli, menyebut ada beberapa titik pada tiga kecamatan yang berpotensi terjadi genangan tinggi. Masing-masing Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya, dan Manggala. Di lokasi inilah yang diwaspadai BPBD ketika cuaca ektrem terjadi.
”Ada delapan perahu karet yang kita punyai, dan biasa dipergunakan saat ada bencana banjir. Sekarang dua yang stand by. Enam lainnya masih dalam proses perbaikan. Ditambal-tambal. Tapi siap dioperasikan jika dibutuhkan,” jelas Rusli.
Selain itu, BPBD Makassar juga telah membentuk beberapa tim penanggulangan. Tim inilah yang memantau titik-titik yang sering terdampak banjir atau genangan.
“Kita sudah melakukan tindakan preventif sebagai langkah antisipasi bila terjadi banjir atau genangan. Seperti mengevakuasi korban yang terdampak ke masjid dengan menggunakan perahu karet,” terangnya.
Pihaknya juga kini tengah mengupayakan untuk memperadakan motor yang bisa menerjang banjir hingga ketinggian dua meter. Motor ini bisa digunakan untuk mempercepat proses pertolongan kepada warga.
“Ini kita lagi bicarakan supaya bisa ada motor yang melewati banjir hingga satu sampai dua meter menembus banjir,” katanya.
Rusli menambahkan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan para OPD terkait untuk berkolaborasi mencegah dampak besar yang ditimbulkan genangan. (mat-nug-rhm/rus)
