HAMPIR semua peserta Seko Expedition mengeluh karena diadang lumpur dan longsoran di sepanjang jalan, dari Rongkong menuju Seko. Tapi keluhan itu terobati saat tiba di puncak kala menyaksikan lansekap padang rumputnya yang indah.
SEMUA rombongan berhenti saat tiba di perbukitan Seko. Para peserta kagum memandang dari dekat savana indah yang luas membentang. Beberapa peserta memanfaatkan kesempatan untuk ambil gambar. Foto bersama. Sebagian ada yang swafoto.
Gubernur Sulsel Prof Dr HM Nurdin Abdullah juga ikut menikmati keindahan savana Seko. Bersama Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, gubernur bahkan berjalan-jalan di padang luas itu sembari menyaksikan sapi dan kerbau yang ada di dalamnya.
“Padang savana ini sangat indah. Mirip Tasmania di Australia. Sangat cocok untuk budidaya dan pengembangan peternakan sapi,” kata Nurdin Abdullah.
Padang rumput Seko sangat unik. Berbentuk bukit-bukit dengan puncak membulat. Lerengnya memiliki kemiringan sedang. Di antara puncak bukit diselingi dataran berumput yang luas. Berbeda dengan savana di Afrika yang banyak ditumbuhi pepohonan, savana di Seko tidak demikian. Kalau pun ada pepohonan, jumlahnya sedikit. Bisa dihitung jari. Pun jika ada pohon di padang rumput. Biasanya tumbuh secara berkelompok di tepi sungai atau di antara ceruk lembah di kaki bukit.
Secara geografi, Seko adalah kecamatan terluas di Luwu Utara. Letaknya tepat di jantung Sulawesi yang didominasi pegunungan dengan ketinggian 1.000-1.200 meter di atas permukaan laut. Tapi penduduknya tidak sampai 20 ribu orang.
Boleh jadi karena panorama savananya itu membuat banyak kalangan menyebut Seko itu kecil tapi indah. Semua orang yang datang berkunjung kagum pada keindahan alamnya. Beberapa peserta Seko Ekspedition pun berjanji akan melakukan kunjungan lagi di masa-masa mendatang.
Apresiasi Warga
Sejumlah warga Seko mengapresiasi kunjungan Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah ke Seko. Selain membuka isolasi dan memudahkan akses jalan ke Seko, Nurdin juga membawa dua artis; Ike Nurjannah dan Selfi untuk menghibur warga pada malam pergantian tahun ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak gubernur yang sudah membuka akses jalan menuju Seko. Selama ini sangat susah dilewati kendaraan roda empat, tapi Alhamdulillah sekarang sudah bisa,” kata Jalil, salah seorang warga Seko.
Nurdin Abdullah memang bukan gubernur Sulsel yang pertama datang ke Seko. Sebelumnya, Gubernur Syahrul Yasin Limpo juga pernah berkunjung. Bedanya, Nurdin langsung datang membuka akses jalan, sekaligus merayakan pergantian tahun bersama warga Seko.
Keramahan warga juga menjadi poin penting bagi Seko. Mereka antusias menyambut gubernur dan rombongan. Semula beberapa peserta sudah merancang penginapan di tenda yang disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Akan tetapi warga secara sukarela menawarkan rumahnya sebagai tempat menginap. Saya dan rombongan jurnalis dari Makassar menginap di rumah Jalil.
Selain tempat menginap, tuan rumah juga ternyata menyiapkan konsumsi. Makan malam dan sarapan pagi. Saat bangun tidur, kopi dan penganan tradisional sudah tersaji di meja. Beberapa jurnalis langsung menyeruput kopi sekalipun belum mandi. Hehehe.
Warga berharap setelah akses dibuka, jalan sepanjang Rongkong-Seko bisa lebih mulus. Alasannya, harga sembako sangat mahal karena sulitnya akses ke Kota Masamba, ibu kota Luwu Utara atau ke Palopo. Selama ini warga Seko harus naik motor ke dua kota itu untuk belanja keperluan bahan pokok. Sebab jika berbelanja di Seko, harganya sangat mahal. Bensin saja seliternya bisa sampai Rp20 ribu. Begitu juga bahan makanan dan kebutuhan hidup lainnya.
Untuk harapan warga ini, gubernur Sulsel sudah merespons. Bersama Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, pemprov akan melanjutkan pengaspalan jalan dari Rongkong ke Seko tahun ini. Memang masih ada 80 kilometer lebih yang belum beraspal. Pemprov Sulsel menargetkan semuanya bisa tuntas paling lambat akhir 2021 mendatang.
Kita tunggu saja. Yang terang, jika akses ke Seko sudah semakin mulus, kesejahteraan rakyatnya bisa meningkat. Potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah ini bisa dieksplorasi. Perkebunan kopi, pertanian organik, pariwisata dan sektor lainnya sangat cocok dikembangkan di daerah ini.
Posisinya di kawasan segi tiga emas Sulawesi juga memungkinkan Seko jadi kawasan strategis nasional. Seperti diketahui, Seko berbatasan langsung dengan Mamuju, Sulawesi Barat dan Sigi, Sulawesi Tengah. Kata salah seorang warga, jarak Seko ke Mamuju hanya 26 kilometer. Sedangkan dengan Sigi berjarak sekitar 60 kilometer. Hanya saja, akses ke dua provinsi itu sejauh ini belum terbuka. (fachruddin)
