Site icon Berita Kota Makassar

Pohon Bertumbangan, Suami Istri Korban

MAKASSAR, BKM — Cuaca buruk yang melanda Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan pohon-pohon bertumbangan. Di hari Minggu (5/1), sedikitnya tercatat ada tiga pohon berukuran besar yang tumbang pada lokasi berbeda. Sepasang suami istri bahkan menjadi korban.
Abdul Rauf (70) dan istrinya Hj Narsiah (60) yang mengalami perstiwa nahas tersebut. Pada pukul 14.00 Wita ia melintas di Jalan Inspeksi Kanal samping kantor Kecamatan Panakkukang. Warga Jalan Kerung-kerung Lorong 12 ini berboncengan dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio Soul DD 6599 RE.
Di tengah perjalanan, tetiba hujan deras mengguyur. Keduanya lalu berhenti di bawah pohon untuk memasang mantel. Di saat bersamaan terjadi angin kencang. Pohon besar yang ada di atas mereka langsung berderak dan tumbang. Motor yang mereka kendarai pun rusak tertimpa pohon.
Beruntung, korban yang merupakan persiunan bea cukai itu tak cidera parah bersama istrinya. Mereka kemudian dievakuasi ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan medis.
Kapolsek Panakkukang Kompol Fathur Rakhman, membenarkan kejadian itu. ”Kedua korban mengalami luka ringan. Mereka mengalami sakit pada leher dan tangan. Sementara motornya rusak akibat tertimpa pohon,” ujarnya, kemarin.
Sesaat setelah kejadian, personel Binmar, intel, aparat Kelurahan Paropo serta Dinas Kebersihan Panakkukang turun ke lokasi. Mereka langsung memangkas pohon yang tumbang dan menyingkirkannya dari badan jalan.
Di waktu yang hampir bersamaan, kira-kira pukul 14.30 Wita, pohon tumbang juga terjadi di RT 04/RW 04 Kelurahan Pampang, Kecamatan Panakkukang. Pohon menimpa atap rumah seorang warga bernama Tambaru. Akibatnya, kabel listrik terputus dan lampu padam.
Pohon tumbang juga terjadi di wilayah Kecamatan Biringkanaya. Tepatnya di RW 08 Jalan Asrama Haji Sudiang, Kelurahan Sudiang. Satu lokasi lainnya di RW 02 Patte’ne, samping kuburan Tangkejangan.

Waduk Bili-bili Normal

Hingga Minggu (5/1) pukul 15.00 Wita, kondisi elevasi waduk tetap normal. Yakni pada posisi 81,29 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan volume 58.521 juta m3.
Sementara outflown secara detil, yakni turbin 10,00 m3/detik, air baku 2,45 m3/detik, industri 0,5 m3/detik, dan irigasi 6,05 m3/detik.
Untuk pemeliharaan mencakup sungai 1,00 m3/detik, dan pelimpah 0,00 m3/detik. Total outflow 10,00 m3/detik.
Kapolres Gowa AKBP Boy FS Samola menjelaskan hal itu, kemarin. Ia rutin mendatangi waduk Bili-bili untuk memastikan kondisinya. Pemantauan dilakukan bersama Kabag Ops Kompol Sudaryanto dan Kapolsek Manuju Iptu Kasmawati.
”Jadi untuk saat ini, status elevasi waduk Bilibili masih normal,” ujarnya, kemarin.
Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan mengimbau masyarakatnya untuk selalu berdoa menghadapi puncak musim hujan kali ini. Dihubungi, Minggu siang (5/1), ia tak menampik informasi cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG, yang disebar melalui portal BNPB.
”Mari kita semua berdoa agar wilayah Gowa terhindarkan dari bencana. Tetap waspada,” ujarnya.

Normalisasi Kanal

Menyusul masuknya puncak musim penghujan, Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengunjungi kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, akhir pekan lalu. Orang nomor dua Sulsel itu mengecek kesiapan dalam menghadapi cuaca saat ini.
“Kita juga memberikan motivasi kepada tim bahwa kita solid, kerja sama yang baik dan bagaimana penanganan yang tinggi untuk cuaca yang ekstrem,” ujar Andi Sudirman.
Selain itu, dirinya meminta kepada BPDB agar memiliki file drive sistem dan emergency system. Termasuk mitigasinya, guna melihat pemetaan di Sulsel. Tak terkecuali Makassar sebagai wilayah yang sering menjadi langganan banjir.
“Saya juga meminta kepada BPBD dan ternyata sudah dilakukan pembagian job desk untuk masing-masing pertanggungjawaban di wilayah-wilayah tertentu. Tanggal 20 Januari akan dilakukan simulasi oleh BPBD,” terangnya.
Kepada wagub, Kepala BPBD Sulsel H Syamsibar, melaporkan hasil rapat koordinasi nasional di Jakarta yang dihadiri oleh beberapa stakeholder terkait. Menurutnya, tingkat tinggi intensitas bencana ada di ada di Pulau Jawa, kemudian Sumatera, Papua dan Papua Barat, Kalimantan, setelah itu Sulawesi. Sulawesi yang dikhawatirkan adalah Sulawesi Tengah.
“Untuk Sulawesi Selatan, BNPB sebut tidak perlu diwaspadai. Tapi, intensitasnya berbeda dengan yang lain. Hanya saja ini masih prediksi. Sehingga, diharapkan dapat mengantisipasi hal-hal tersebut,” ucap Syamsibar.
Selain ke BPBD, Wagub Andi Sudirman juga berkoordinasi dengan tim PSDA Provinsi Sulsel terkait normalisasi kanal. Dia mengucapkan terima kasih atas kerja-kerja stakeholder terkait, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) yang telah menurunkan alat berat untuk normalisasi kanal Makassar. Termasuk koordinasi yang baik oleh tim PSDA provinsi, Pemkot Makassar, dan seluruh instansi terkait.
Menurutnya, hal tersebut merupakan upaya yang sangat strategis untuk meminimalisir dampak kenaikan air kanal. Karena daya tampung serta laju aliran air ke muara saat curah hujan yang tinggi.
Ia berharap, ke depan BPBD bersama instansi dan swasta menjadi pelopor dalam penanggulangan kebencanaan. Termasuk sosialisasi simulasi potensi hazards di Sulsel, khususnya Kota Makassar dan sekitarnya.

Dana Kontijensi

Sama seperti tahun lalu, Pemprov Sulsel menyiapkan dana kontijensi sebesar Rp 20 miliar untuk penanggulangan bencana di Sulsel. Dana tersebut digunakan untuk tahap prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana.
“Kita ada Rp 20 miliar,” kata Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah, Sabtu (4/1).
Ia mengajak masyarakat untuk berdoa agar bencana tidak terjadi di Sulsel. Hujan dapat diturunkan secara teratur.
“Bencana banjir itu terjadi karena fenomena alam. Yang bisa menangkal itu hanya doa. Kita berdoa kepada yang mengatur alam ini supaya hujan diturunkan secara teratur. Dihindarkan kita dari bencana banjir. Teknologi tidak bisa dengan kondisi sekarang ini,” ujarnya.
Selain berdoa, juga untuk tetap berupaya agar banjir dan bencana lainnya tidak terjadi. Salah satu caranya, walapun di musim hujan, tetap diusahakan untuk menaman di lahan-lahan kritis.
“Supaya dari hari ke hari lahan kritis kita berkurang, penutupan hutan kita semakin lebat. Supaya groundwater storage (penyimpanan air tanah) kita ini terisi,” jelasnya.
Lebih jauh dia mengemukakan, salah satu penyebab banjir adalah akibat perubahan penggunaan lahan. “Salah satu penyebab bencana yang terus setiap tahun ini karena apa? Banjir itu diakibatkan oleh perubahan penggunaan lahan,” tandasnya.
Ia mengatakan, hutan dan gunung hadir untuk menjaga keseimbangan alam. Namun, manusia menyebabkan kerusakan alam.
“Tuhan sudah menciptakan hutan, gunung itu untuk menjaga keseimbangan alam. Tetapi yang merusak itu kan kita (manusia) sendiri,” sebutnya.
Alih fungsi lahan yang tadinya merupakan fungsi konservasi, berubah menjadi perumahan dan perkebunan. Tadinya merupakan daerah tangkapan atau resapan air, dibuat jadi perumahan.
“Jangan heran kalau ada kubangan ditimbun dibikin perumahan, lalu kemudian banjir. Karena memang itu tempatnya air ke sana,” jelasnya.
Ia menilai, lahan yang ada di Sulsel juga dalam kondisi sangat kritis. Demikian juga dengan dengan cekdam yang dibangun, diprediksi pendangkalan terjadi dalam 50 tahun, tetapi hanya 20 tahun.
“Ini 20 tahun sudah dangkal. Itu artinya hulu sudah rusak. Makanya, kita sekarang harus ramai-ramai bikin program tiada hari tanpa menanam,” ajaknya. (ish-jun-rhm-sar/rus)

Exit mobile version