MAKASSAR, BKM — Intensitas hujan terus mengalami peningkatan. Guna mengetahui kondisi kanal dan pintu air yang ada ada di Kota Makassar, Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb melakukan inspeksi, Senin (6/1).
Ada beberapa titik yang didatangi. Di antaranya pintu air Taman Macan, pintu air Tamalabba di Ujung Tanah, kanal Pannampu, dan pintu air Tarakan.
“Hari ini (kemarin) saya mengecek bagaimana pintu-pintu air itu, apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Pintu-pintu air memang seharusnya rutin dicek,” kata Iqbal Suhaeb di sela-sela peninjauannya di pintu air Tamalabba.
Pemantauan tersebut, menurut Iqbal, dilakukan sebagai langkah antisipasi mencegah banjir. Dia melakukan pengecekan mulai dari hal-hal bersifat teknis hingga petugas yang sehari-hari berjaga di sana.
Dari hasil pemantauan di beberapa lokasi tersebut, Iqbal prihatin karena menemukan ada pintu air dipenuhi sampah. Salah satunya yang berada di Tamalabba. Pasalnya, ada banyak sampah yang mengapung di sana. Sampah itu mengapung kira-kira sepanjang 4 meter dengan ketebalan 50 cm.
Mirisnya lagi, sampah-sampah yang mengapung itu didominasi sampah botol plastik dan sampah rumah tangga. Hal ini menandakan masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.
“Saat ini kita berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Plastik itu benar-benar bencana lingkungan,” katanya lagi.
Camat Ujung Pandang Andi Unru yang turut mendampingi Iqbal dalam pemantauan, berjanji akan mengerahkansatgas untuk menghadapi musim hujan, khususnya potensi banjir. Untuk itu, salah satu langkah yang harus dilakukan adalah dengan rutin melakukan pemantauan terhadap pintu air Tamalabba.
“Kita selalu siap. Peninjauan berkala minimal tiga kali seminggu kita laksanakan,” kata Andi Unru.
20 Pohon Tumbang
Selain ancaman banjir, yang perlu juga diwaspadai warga Makassar adalah bahaya pohon tumbang. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Iskandar menyebut, hingga Senin (6/1) sejak terjadinya hujan disertai angin kencang, sudah ada sekitar 20 pohon tumbang yang ditangani.
“Kami sudah tangani sekitar 20 pohon tumbang beberapa hari terakhir. Hari ini saja (kemarin), ada empat. Ada yang di Brimob, Tamalate samping kanal, dan Jalan Pate’ne, Kecamatan Biringkanaya,” bebernya.
Dia melanjutkan, pihaknya sudah menyiapkan posko pohon tumbang yang berlokasi di Kerung-kerung. Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, bisa datang melapor ke posko tersebut.
Selain itu, tambahnya, pihaknya juga menyiapkan layanan call centre di nomor 112. Layanan dibuka 1×24 jam. Selain itu, senantiasa berkoordinasi dengan aparat di kecamatan, karena di sana ada posko siaga bencana.
“Jadi kami terima aduan layanan pohon tumbang yang stand by terus. Bisa hubungi call centre 112,” ungkap Iskandar.
Untuk menangani pohon tumbang, lanjut dia, pihaknya menyiapkan lima tim. Setiap tim beranggotakan tujuh hingga 10 orang. Mereka itulah yang bergerak jika ada aduan yang masuk.
Lebih jauh dia mengemukakan, sebenarnya sejak Juli 2019 lalu pihaknya juga sudah rutin melakukan pemangkasan dan merapikan pohon yang dianggap rawan mengganggu aktifitas warga, khususnya pengguna jalan. Pemangkasan pohon itu intens dilakukan hingga Desember lalu.
Rusli selaku kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar menyebut, ada tiga kecamatan yang rawan banjir. Yakni Tamalanrea, Biringkanaya, dan Manggala.
“Ketika cuaca ekstrem terjadi di Makassar, tiga kecamatan itu yang paling diwaspadai,” ungkap Rusli.
Sejauh ini, katanya, BPBD telah membentuk tim penanggulangan banjir. Pihaknya juga sejak dini menyiapkan berbagai peralatan penyelamatan. Namun sayang, hanya ada delapan perahu karet yang dimiliki BPBD untuk melayani 15 kecamatan. Itu pun hanya dua unit yang dalam kondisi baik.
Rp5 Miliar Tangani Banjir
Komisi D DPRD Kota Makassar mengingatkan kepada pemkot untuk bersiap menghadapi puncak musim penghujan. BPBD diminta melakukan antisipasi dini dengan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Ketua Komisi D Abdul Wahab Tahir, mengatakan jangan sampai BPBD telat merespons kondisi cuaca yang mulai ekstrem hingga menyebabkan jatuhnya korban seperti yang terjadi tahun lalu. Disebutkan, ada anggaran yang memang dialokasikan untuk menghadapi musim hujan agar segala risiko bisa diminimalisir. Dari total anggaran Rp19 miliar di BPBD Kota Makassar, sebanyak Rp5 miliar disiapkan untuk penanganan banjir di musim hujan.
“Kalau saya tidak salah ada Rp5 miliar itu. Makanya, kita tidak mau lagi mendengar ada korban banjir yang tidak mendapatkan bantuan, kelaparan di pengungsian, bahkan meninggal dunia,” tegas legislator Patrai Golkar ini.
Dana yang disiapkan itu, lanjutnya, diperuntukkan membangun dapur umum, posko siaga bencana, perahu karet dan membeli bahan makanan serta obat-obat yang dibutuhkan. Selain itu, Wahab berharap di musim hujan kali ini, titik-titik banjir berkurang.
“Eranya pemerintahan kemarin, titik banjir itu bisa berkurang dari 38 menjadi hanya delapan titik. Kita ingin capaian itu dipertahankan, bahkan bisa melampaui dengan mengurangi titik bajir,” tandasnya. (rhm-ita/rus)
