Site icon Berita Kota Makassar

Promosi dari Mulut ke mulut dan Medsos

MOMEN-momen keagamaan menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu untuk meraup rejeki. Pesanan akan berlimpah hingaa dia harus menambah pegawai yang membantu untuk menyelesaikan orderan kue keringnya.

Laporan: RAHMA AMRI

Jika pada hari-hari biasa, dia hanya mempekerjakan dua pegawai, jelang lebaran, karyawan ditambah hingga tujuh orang. Dia merekrut karyawan lepas dari sekeliling tempat tinggalnya. Khususnya remaja puteri dari kalangan yang tidak mampu.
Selain promosi dari mulut ke mulut, Amelia juga mengandalkan medsos untuk promosi.
Agar produknya bisa konsisten dan tetap mendapat tempat di hati masyarakat di tengah persaingan bisnis yang cukup ketat, Amelia menerapkan beberapa strategi. Diantaranya, menjadi kualitas produk.
“Saya tidak mau menggunakan bahan asal-asalan. Semua harus premium untuk menjaga rasa kue tetap berkualitas,” ungkap Amelia.
Selain itu, dalam melayani pembelian secara delivery, dia tidak menetapkan ongkos kirim. Dia pastikan pihaknya mengantar langsung pesanan pelanggan.
Selain kue kering, saat ini, Amelia juga merambah bisnis kue basah. Dia bekerja sama dengan sebuah katering. Jika ada pelanggan katering yang membutuhkan kue basah, dia yang akan menyiapkan.
Dia juga tidak menutup diri dalam meningkatkan kualitas produk. Termasuk dalam mengurus berbagai ijin maupun label halal.
Mengelola hobi menjadi bisnis yang menguntungkan merupakan anugerah yang tak terhingga. Otomatis dia melakoninya dengan sepenuh hati. Karena selain bisa mendatangkan rupiah, dia juga bisa mendapatkan kepuasan batin.
Selain itu, berkat usahanya, dia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi tetangganya agar bisa mendapat penghasilan sendiri.
Sejak masih gadis, ibu satu anak ini sudah hobi memasak. Ketertarikan dalam dunia kuliner dimulai sejak dia masih tinggal di Aceh. Dia sudah sering bereksperimen meramu berbagai macam bumbu kue untuk dijadikan penganan yang cukup menggoda, terkhusus jenis kue kering atau cookies.
Pada tahun 2006, Amelia hijrah ke Kota Makassar karena menikah dengan suami yang berdarah Bugis-Makassar. Mengisi waktu senggang, wanita kelahiran Banda Aceh, 11 Mei 1979 itu kerap membuat kue kering aneka varian yang dipromosikan ke keluarga dan mertua.
Tahun 2007, dia pun mencoba memulai usaha. Awalnya, aneka kue kreasinya dipasarkan dari mulut ke mulut.
Dalam menjajakan dagangannya, dia tidak sekadar kejar keuntungan. Yang diutamakan adalah kualitas produknya. Itu untuk menjaga konsistensi pelanggan membeli kue-kue buatannya. (*)

Exit mobile version