Site icon Berita Kota Makassar

Tetap Berjualan Walau Sering Ditegur

DIKA bertutur bahwa keuntungan yang diperolehnya biasa diukur dari kondisi cuaca. Jika sedang kemarau, yang laku kaus tangan untuk pemotor dan scrub penghalang debu dan panas.

Laporan: Juni Sewang

Ia juga menyadari jika menjadi pedagang kecil yang berjualan di emperan rawan penertiban setiap saat. “Sering ditegur. Tapi yang namanya kebutuhan, mau apa lagi. Tetap berjualan di tempat ini,” ujarnya.
Kisah pedagang kaki lima yang dilakoni Dika berbeda dengan yang resmi. Keberadaan pedagang resmi telah mengurangi omzet penjualannya.
Dika merintis usahanya benar-benar dari bawah. Pria tamatan sebuah SMA di Makassar ini sudah kenyang dengan asam garam sebagai pekerja rendahan.
Mulanya, ia mencoba mengadu nasib dengan menjadi buruh di sebuah toko agen barang pecah belah. Dika terpaksa karena harus membantu membiayai sekolah adik-adiknya.
Namun, dia tidak lama bekerja di toko itu. Dika pun kemudian merantau ke Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh kasar di PT Newmont. Namun, Dika tak betah sehingga memutuskan pulang ke Makassar.
Ternyata, pulang ke rumah malah membuatnya gelisah. Apalagi bila melihat keluarganya yang membutuhkan bantuan.
Dika tinggal di kawasan markas Da’wah Masjid Jami Kerung-kerung. Kebaikan sesama jamaah begitu dirasakannya. Mereka biasa membeli dagangannya. Di situlah ia terkadang merasa terharu.
Untuk menyambung hidup, Dika terkadang mengajar mengaji. Pagi hingga sore hari ia menjadi penjual mantel hujan. Malam harinya menjadi guru mengaji di Masjid Jami.
Meski penghasilannya kecil, Dika bisa menyisihkan sedikit penghasilannya untuk modal usahanya. “Modal pertama saya hanya Rp300.000,” kenang Dika. (*/rus)

Exit mobile version